Masjid: Harmoni Spiritual dan Sosial
Oleh: Ahmad Rofiq
Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi fenomena menarik terkait hubungan manusia dengan agama, khususnya Islam. Di negara-negara Barat seperti Eropa, Amerika, dan Australia, semakin banyak orang yang tertarik pada Islam dan mulai memenuhi masjid-masjid. Bahkan, di tengah retorika Islamofobia yang berkembang di beberapa negara, masih terlihat kebangkitan spiritual yang signifikan. Contohnya adalah shalat tarawih di Times Square, New York, yang menjadi sorotan dunia. Di Inggris, meja berbuka puasa sepanjang dua kilometer menunjukkan betapa Islam semakin diterima oleh masyarakat luas.

Namun, di belahan dunia lain, terjadi fenomena sebaliknya. Sebagian generasi muda seakan alergi terhadap ajaran agama. Mereka semakin jauh dari masjid dan nilai-nilai spiritual, bahkan ada yang terang-terangan menolak keberagamaan. Fenomena ini tentu memprihatinkan, mengingat agama memiliki peran mendasar dalam membentuk moral, etika, dan jati diri manusia. Oleh karena itu, penting bagi para orang tua dan generasi muda yang sadar akan masa depan bangsa untuk menghidupkan kembali semangat keberagamaan, khususnya melalui masjid.
Masjid Sebagai Pusat Peradaban
Sejarah mencatat bahwa ketika Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah—yang sebelumnya bernama Yatsrib—hal pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat sujud, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan, sosial, ekonomi, dan budaya. Dari sinilah ajaran Islam berkembang dan mengakar dalam kehidupan masyarakat.


Dalam perspektif Islam, manusia adalah makhluk terbaik ciptaan Allah (QS. At-Tin: 4) yang dimuliakan (QS. Al-Isra’: 70). Allah juga menegaskan bahwa manusia memiliki peran sebagai khalifah di bumi. Tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ibadah inilah yang menjadi kunci utama dalam menjaga nilai kemanusiaan. Jika manusia enggan beribadah dan ingkar kepada Allah, maka nilainya akan merosot (QS. At-Tin: 5).
Agama memiliki peran fundamental dalam kehidupan manusia. Agama bukan sekadar sistem kepercayaan, tetapi juga panduan hidup yang mengarahkan manusia agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupannya. Oleh karena itu, jika ada orang yang mengaku ateis atau tidak bertuhan, hal itu menunjukkan bahwa ia belum memahami hakikat jati dirinya.
Fitrah Manusia dan Peran Pendidikan dalam Keluarga
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW:
“Setiap bayi yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa lingkungan dan pendidikan sejak dini sangat menentukan arah kehidupan seseorang. Oleh karena itu, ibu memiliki peran krusial sebagai al-madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Sejak bayi, seorang anak harus diberikan pendidikan yang baik, tidak hanya dalam aspek fisik, tetapi juga spiritual dan emosional.
Allah berfirman dalam QS. An-Nahl: 78:
“Dan Allah mengeluarkan kalian dari rahim ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, dan Ia (Allah) menjadikan bagi kamu sekalian pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)
Bersyukur adalah ajaran mendasar dalam Islam. Sosok Luqman al-Hakim dalam Al-Qur’an memberikan teladan bagaimana seorang ayah mendidik anaknya untuk senantiasa bersyukur kepada Allah (QS. Luqman: 12). Selain itu, Luqman juga menasihati anaknya untuk mendirikan shalat, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, serta bersikap rendah hati (QS. Luqman: 17-19).
Iman, Ibadah, dan Masjid Sebagai Pusat Keberagamaan
Dalam Islam, iman tidak hanya sebatas keyakinan dalam hati, tetapi juga harus diwujudkan dalam ucapan dan amal perbuatan. Iman yang benar akan membawa seseorang untuk menjalankan syariat Islam, seperti mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa, dan menunaikan haji bagi yang mampu.
Konsep ihsan dalam Islam menjelaskan bahwa ibadah harus dilakukan dengan kesadaran penuh akan kehadiran Allah. Rasulullah SAW bersabda:
“Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Al-Bukhari)
Dalam konteks masjid, Allah berfirman dalam QS. At-Taubah: 108:
“Janganlah engkau melaksanakan salat di dalamnya (masjid itu) selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih berhak engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang gemar membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang membersihkan diri.” (QS. At-Taubah: 108)
Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kebersamaan dan pengembangan masyarakat. Orang-orang yang memakmurkan masjid adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta hanya takut kepada Allah (QS. At-Taubah: 18).
Masjid Sebagai Sentra Kehidupan Sosial
Fenomena global menunjukkan bahwa banyak orang kembali mencari pegangan spiritual. Di tengah kebijakan diskriminatif terhadap Islam di beberapa negara Barat, justru terjadi lonjakan jumlah mualaf dan meningkatnya antusiasme terhadap ajaran Islam. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan manusia terhadap agama bersifat fitrah.
Oleh karena itu, masjid harus berfungsi sebagai pusat kehidupan umat, tidak hanya dalam aspek ritual tetapi juga sosial. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Jika kebutuhan sosialnya tidak terpenuhi, maka ia akan kehilangan sebagian dari jati dirinya.
Masjid yang ideal adalah yang mengokohkan iman kepada Allah dan hari akhir, mendidik umat agar taat dalam menjalankan ibadah, dan membangun solidaritas sosial. Generasi muda harus dibina agar cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki hati yang selalu terikat dengan masjid (mu’allaquna qulubuhum bil masajid).
Sebagai penutup, semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang memakmurkan masjid, menjadikannya sebagai tempat membangun peradaban, dan berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih baik.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., adalah Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Direktur LPPOM-MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika-Majelis Ulama Indonesia) Provinsi Jawa Tengah, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam Sultan Agung, DPS BPRS Bina Finansia Semarang, Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang, dan Rektor IKMB yang segera beralih menjadi Universitas Agung Putra Indonesia (UAPI) Semarang)

