Sikap Indonesia di Tengah Perang Dagang AS–China
SEMARANG[BahteraJateng] — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan ekonomi global dengan memberlakukan kebijakan tarif impor baru bertajuk Resiprocal Tariff mulai 1 Agustus 2025.
Kebijakan ini menetapkan tarif minimum 125 persen untuk seluruh produk impor dari China, serta tarif lebih tinggi untuk 57 negara dan teritorial lain, termasuk Indonesia.

Trump menyatakan kebijakan tersebut bertujuan memperkuat ekonomi domestik, melindungi pekerja AS, membuka lapangan kerja, dan menghilangkan hambatan perdagangan.
Ia menilai tingginya tarif impor diperlukan demi menciptakan persaingan yang adil setelah melihat neraca ekonomi AS mengalami defisit signifikan.

Menurut Miftah Nur Khayanto dalam Forum Latihan Kader III yang digelar HMI Badko Bali–Nusra di Mataram, tarif resiprokal adalah pembatasan perdagangan yang diberlakukan suatu negara sebagai respons terhadap tindakan serupa dari negara lain.
“Tujuannya untuk menciptakan keseimbangan dalam perdagangan antarnegara,” jelasnya pada Kamis (7/8).
Miftah menilai, perang dagang dengan alasan fair trade wajar dilakukan negara berdaulat untuk melindungi perekonomian domestik dan memajukan industri dalam negeri.
Namun, ia juga mengkritik kebijakan Trump yang dinilainya tidak sejalan dengan semangat kapitalisme global yang mendorong perdagangan bebas.
“Kebijakan ini hipokrit, tetapi sulit dihindari karena berasal dari negara adidaya yang menghegemoni ekonomi dunia,” ujarnya.
Kebijakan agresif tersebut memicu reaksi beragam dari berbagai negara. China secara terbuka menolak dan melakukan perlawanan, sementara negara lain memilih jalur negosiasi untuk meminimalkan dampak ekonomi.
Indonesia, Turki, dan Malaysia disebut berupaya menekan serta merundingkan kembali ketentuan perdagangan melalui forum multilateral seperti G20.
Sebagai Ketua HMI Badko Jateng–DIY Bidang Pengembangan Organisasi, Miftah menegaskan pentingnya Indonesia memegang teguh prinsip politik luar negeri bebas-aktif.
“Indonesia tidak boleh memihak salah satu pihak, tetapi harus mencari solusi terbaik agar dampak perang dagang ini tidak mengganggu kelangsungan negara,” tegasnya.(sun)

