Iman Fadhilah, saat memberi tausiah dalam acara buka bersama Dewan Pendidikan Kota Semarang di Gajahmungkur, Rabu (26/3).(Foto Ist)
|

Teladan Luqman Al Hakim untuk Menjaga Hati dan Lisan

SEMARANG[BahteraJateng] – Kebijaksanaan Luqman An Naubi Al Hakim bin Anqa’ atau Luqman Al Hakim memberikan kita teladan untuk menjaga hati dan lisan.

Hal ini disampaikan Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Iman Fadhilah, dalam acara buka bersama Dewan Pendidikan Kota Semarang di Gajahmungkur, Rabu (26/3).


Luqman Al Hakim adalah orang yang disebut dalam Al-Qur’an surah Luqman [31]:12-19. Ia terkenal orang yang bijaksana karena nasihat-nasihatnya kepada anaknya.

Pengasuh Ponpes Al Fadhilah Meteseh Tembalang Semarang ini mengisahkan, Luqman yang menyajikan lidah dan hati sebagai makanan paling enak sekaligus paling menjijikkan.


Ia menjelaskan bahwa lidah dan hati dapat membawa kebaikan atau keburukan, tergantung bagaimana seseorang menggunakannya.

“Jika tubuh sehat, lidah bisa merasakan nikmatnya makanan. Sebaliknya, jika sakit, makanan seenak apa pun terasa pahit. Begitu juga hati, jika bersih, hidup terasa damai. Jika kotor, semuanya terasa sulit,” ujar kader muda Nahdlatul Ulama Kota Semarang ini.

Ia menambahkan bahwa di era digital, menjaga lisan juga berarti berhati-hati dalam berkomentar di media sosial.

“Jangan sampai kita terlena dengan kebebasan berbicara di internet hingga menyakiti orang lain,” pesannya.

Selain itu, Iman mengingatkan pentingnya mensyukuri berbagai bentuk rezeki. Menurutnya, rezeki bukan hanya berupa harta benda seperti rumah atau kendaraan, tetapi juga keluarga yang harmonis, kesehatan, dan ketenangan hidup.

“Punya istri yang sholehah, keluarga yang sakinah, kesehatan, dan menikmati hidup dengan damai itulah rezeki yang jarang kita sadari.” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, menegaskan komitmennya bersama Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti dalam mendukung pendidikan keagamaan.

“Kami terus memberikan perhatian kepada guru TPQ, Madrasah Diniyah, serta sekolah negeri dan swasta,” ungkap Iswar.

Ia menambahkan bahwa program beasiswa dan pendidikan gratis akan tetap menjadi prioritas dalam membangun Kota Semarang yang lebih religius dan maju.

Pesan utama dalam acara ini adalah pentingnya menjaga ucapan dan hati dalam kehidupan sehari-hari, terutama di era digital. Selain itu, kesadaran akan berbagai bentuk rezeki juga menjadi kunci untuk menjalani hidup dengan lebih damai dan penuh syukur. (sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *