| |

Terapi Stem Cell Sebagai Harapan Baru Dunia Kedokteran

(Bagian 1) 

Oleh: Dr. dr. Eko Setiawan, Sp.B, FINACS

Dahulu penyakit infeksi adalah penyebab kematian terbesar bagi peradaban manusia. Sebut saja wabah pes dan kolera yang membunuh setengah dari populasi eropa, atau flu spanyol yang merenggut jutaan nyawa, dan yang terbaru pandemi covid-19 yang selama 2 tahun melumpuhkan ekonomi dunia. Tapi ternyata bukan infeksi lah penyebab kematian terbesar di Indonesia dan Dunia melainkan penyakit kardiovaskuler seperti stroke, jantung dan gagal ginjal diikuti kemudian oleh kanker.

Pengobatan kedokteran dan teknologi nya terus berkembang. Tapi tetap menyisakan PR besar terkait regenerasi yaitu pengobatan untuk menumbuhkan lagi dan memperbaiki jaringan yang rusak. Cuci darah adalah vonis yang sulit diterima oleh pasien dengan gagal ginjal terminal. Fungsi ginjal yang terus menurun menjadikan pasien yang tadinya cuci darah 1 kali seminggu menjadi 2 x seminggu. Produktifitas menurun apalagi jika yang terkena adalah tulang punggung keluarga. Solusi nya adalah cangkok ginjal. Tapi kesulitan mencari pendonor yang tepat, tidak semua bisa dilakukan, biaya yang mahal dan belum banyak pusat RS yang mampu melakuka, membuat cuci darah adalah hal yang ditempuh oleh sebagian besar pasien.

Begitu pula dengan stroke, stroke yang lebih dari 6 bulan dianggap sebagai kerusakan permanen pada otak. Rehabilitasi medik fokus pada memaksimalkan fungsi saraf yang masih ada, tapi apakah saraf yang sudah rusak dan “tidur” dalam jangka waktu lama bisa kembali dapat diperbaiki. Apakah kelumpuhan adalah akhir dan tidak ada harapan lagi.

Stem Cell atau Sel Punca adalah terapi berbasis sel yang masih muda yang dapat berubah bentuk menjadi berbagai jenis jaringan. Kemampuan diferensiasi ini unik dan merupakan secercah harapan baru untuk perbaikan jaringan yang rusak. Satu stem cell dapat berubah menjadi sel jantung, sel saraf, sel tulang, sel kulit dan berbagai tipe sel lain sesuai dengan lingkungan stem cell ini ditumbuhkan. Kemampuan regeneratif ini sangat penting pada penyakit degeneratif akibat penuaan atau berbasis kerusakan jaringan seperti pada penyakit stroke terjadi kerusakan otak, penyakit diabetes akibat kerusakan pankreas, atau gagal ginjal.

Selain dengan kemampuannya berubah bentuk, stem cell juga memiliki kemampuan untuk mengeluarkan berbagai sitokin, faktor pertumbuhan. Ini sangat vital terutama pada kerusakan jaringan yang luas pada luka akibat trauma. Dibutuhkan waktu yang lama untuk penutupan luka secara spontan. Pemberian stem cell dapat menambahkan kekurangan faktor pertumbuhan, mentrigger jaringan di sekitarnya untuk memproduksi secara optimal jaringan matriks ekstrasel yang mengisi celah akibat luka.

Stem Cell juga mampu untuk mengendalikan sistem imun. Penyakit akibat sistem imun diantaranya adalah autoimun dimana sel – sel imun tubuh melawan sel sel sendiri yang dianggap sebagai lawannya, akibatnya akan berdampak sistemik. Pengobatan saat ini adalah dengan menekan sistem imun, resiko nya kekebalan tubuh akan turun dan dapat terjadi remisi atau kekambuhan sewaktu – waktu. Stem cell dapat memanipulasi sistem imun dan melakukan resetting sehingga sistem imun dapat kembali normal tanpa harus menekan sistem kekebalan tubuh.

(Dr dr Eko Setiawan SpB FINACS adalah Dokter Spesialis Bedah, Dosen dan Peneliti dibidang Stem Cell)

4 Comments

  1. Luar biasa perkembangan kedokteran memang harus selai update karena tantangan globalisasi juga berimbas pada kesehatan masyarakat.

  2. Pemahaman sementara saya yg awan dari perbedaan Obat dg Stem Cell sbb: “obat2an difungsikan utk menghambat kerusakan jaringan organ. Dan “stem cell” dimaksudkan menumbuhkan/menormalisir kembali jaringan organ yg sudah rusak.
    Idzin dimohon dibetulkan kalau salah coment ini. [AzwinAyub/Paritisipan dari peresentasi DR dr Eko Setiawan SpB FINACS di PWRI Prop.Riau-Pekanbaru, 22 Sept’2024]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *