|

Pemkot Semarang Gandeng Bank Jateng Bantu Pembuatan Sumur Artetis di Kawasan Penghasil Durian Gunungpati

SEMARANG[BahteraJateng] – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bekerja sama dengan Bank Jateng dalam program pembuatan sumur artetis di kawasan penghasil durian di Kecamatan Gunungpati. Kerja sama ini bertujuan mendukung pengairan dan pemberdayaan masyarakat setempat.

Tiga lokasi penerima bantuan sumur artetis tersebut adalah:


1. Kelompok Tani Kebun Durian Malika di RW 1 Cepoko.

2. Kampung Siroto di RW 10.


3. Kampung Malon di RW 6, yang juga dikenal sebagai sentra batik warna alam.

Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, atau Mbak Ita, menjelaskan bahwa bantuan ini bertujuan menjaga keberlanjutan tanaman durian Malika. Salah satu pohon durian Malika yang berusia 250 tahun menjadi perhatian khusus, karena merupakan satu-satunya pohon durian tua yang tersisa di ibu kota Jawa Tengah.

“Kami berikan juga penangkal petir agar pohon ini terlindungi. Saat ini, di sekitar pohon tersebut sudah ada sekitar 2.000 pohon durian Malika yang dikembangkan,” ujar Mbak Ita saat menyerahkan bantuan pada Senin (7/10).

Efisiensi Pengairan dengan Sistem Otomatis
Di Kebun Durian Malika, Disperkim Kota Semarang telah menyambungkan sumur artetis dengan sistem penyiraman otomatis. Sistem ini sangat efisien karena hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk setiap pohon, dan hemat dalam penggunaan listrik.

“Dulu token listrik Rp 100 ribu hanya cukup untuk tiga hari. Sekarang, dua minggu pun belum habis,” ungkap Mbak Ita. “Ini langsung terasa manfaatnya karena pohon durian membutuhkan suplai air yang konsisten.”

Bantuan Air untuk Kampung Siroto dan Malon
Kampung Siroto, yang baru saja ditetapkan sebagai kampung tematik durian, juga menerima bantuan sumur artetis. Sumur ini tidak hanya memenuhi kebutuhan air harian warga, tetapi juga mendukung penyiraman tanaman durian.

Di Kampung Malon, yang terkenal sebagai sentra batik, air dari sumur artetis sangat penting untuk proses pewarnaan batik. “Proses pencelupan batik di sini memerlukan air dalam jumlah banyak, dan dengan adanya sumur ini kebutuhan tersebut dapat terpenuhi,” kata Mbak Ita.

Pemanfaatan CSR dan Kerja Sama Lanjutan
Mbak Ita menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat, dan jika dana APBD terbatas, Pemkot menggandeng pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

“Alhamdulillah Bank Jateng memberikan CSR berupa sumur bor. Ke depan, kami akan berkolaborasi lagi dalam program ketahanan pangan, seperti green house, embung, dan distribusi bibit tanaman,” jelasnya.

Manfaat Langsung bagi Warga
Kepala Disperkim, Yudi Wibowo, menambahkan bahwa di Kampung Siroto, sumur artetis kini mengaliri 200 sambungan rumah dengan total anggaran Rp 140 juta. Sedangkan di Kampung Malon, sumur tersebut melayani 80 hingga 100 rumah.

Seorang petani durian Malika, Muali, mengaku sangat terbantu dengan adanya sumur artetis ini. “Dulu harus menimba air jauh-jauh. Sekarang sudah otomatis, bisa mengairi 50-an pohon sekaligus,” ujarnya.

Ketua RW 10 Kampung Siroto, Subagyono, juga menyampaikan rasa terima kasihnya. “Dulu kami kesulitan air, terutama di RT 1 dan 3. Sekarang, Alhamdulillah airnya tercukupi dan kualitasnya bagus tanpa kandungan kapur,” paparnya.

Kerja sama Pemkot Semarang dan Bank Jateng ini diharapkan dapat terus berlanjut untuk mendukung kesejahteraan warga dan ketahanan pangan di kawasan tersebut.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *