Okupansi Hotel di Semarang Turun 10 Persen, Restoran Justru Tumbuh
SEMARANG[BahteraJateng] — Tingkat hunian (okupansi) hotel di Kota Semarang mengalami penurunan sekitar 10 persen hingga pertengahan 2025. Penurunan ini dipicu kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah, termasuk pengurangan penggunaan hotel untuk kegiatan pemerintahan.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Semarang, Indriyasari, membenarkan tren penurunan tersebut. Menurutnya, kebijakan efisiensi berdampak langsung terhadap okupansi hotel, terutama dari sektor rapat dan pertemuan (MICE) yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan utama hotel.

“Penurunannya sekitar 10 persen. Namun, pada 2025 hotel-hotel mulai beradaptasi dengan berbagai inovasi,” ujar Indriyasari pada Senin (11/8).
Ia menambahkan, Pemerintah Kota Semarang tidak pernah melarang kegiatan rapat di hotel. Wali Kota, kata Iin, justru mengambil kebijakan yang bijak dengan tetap mengizinkan acara pemerintahan digelar di hotel. Hanya saja, pelaksanaannya lebih selektif dan efisien.

“Sekarang hotel sudah menyesuaikan. Kalau dulu fokus di MICE, kini mereka membuat paket-paket yang lebih ramah keluarga. Apalagi tahun ini banyak hari libur, itu juga membantu,” imbuhnya.
Berbeda dengan sektor perhotelan, usaha kuliner di Kota Semarang menunjukkan tren positif. Menurut Indriyasari, meski ada beberapa restoran yang tutup, jumlah restoran baru yang buka lebih banyak dibanding tahun lalu.
“Belum ada persentase pasti, tapi kondisinya lebih baik dibandingkan tahun lalu,” tandasnya.
Ia optimistis, adaptasi inovasi di sektor perhotelan dan pertumbuhan usaha kuliner dapat mendorong perputaran ekonomi Kota Semarang di tengah kebijakan efisiensi anggaran.(sun)

