Ngobras RRI Semarang
Ketua Umum Satupena Jawa Tengah Gunoto Saparie (kanan) bersama Ketua FKP Papperris F. Sumardiyono dalam acara Ngobrol Bareng Komunitas di RRI Semarang Pro1.(Foto Ist)
|

Ngobras RRI Semarang Angkat Kiprah Satupena Jawa Tengah

SEMARANG[BahteraJateng] – Program Ngobrol Bareng Komunitas (Ngobras) kembali hadir di Studio Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 1 Semarang, Jalan A. Yani pada Kamis malam (11/9).

Kali ini, acara yang digelar Forum Komunikasi Pemerhati RRI Semarang (FKP Papperris) menghadirkan Ketua Umum Satupena Jawa Tengah, Gunoto Saparie, sebagai narasumber utama.


Turut mendampingi, Ketua FKP Papperris F. Sumardiyono dan pengurus FKP Papperris R. Soejarto. Acara berlangsung hangat dengan panduan penyiar RRI Semarang, Mas Galih, yang sejak awal berhasil mencairkan suasana dengan gaya bicaranya yang ramah dan penuh energi.

Di ruang studio yang terang benderang, kursi-kursi diatur melingkar sehingga perbincangan terasa akrab. Sesekali terdengar tawa ringan ketika narasumber berbagi pengalaman unik di balik berbagai kegiatan literasi. Penonton yang hadir, sebagian besar berasal dari komunitas literasi Semarang, menyimak dengan antusias, beberapa bahkan sibuk mencatat poin-poin penting yang dilontarkan narasumber.


Dalam kesempatan itu, Gunoto Saparie menuturkan perjalanan Satupena Jawa Tengah sejak deklarasinya pada Maret 2023. Dengan nada tenang namun penuh semangat, ia mengisahkan bagaimana Satupena terus bergerak menjembatani sastra, budaya, dan pendidikan. Tangannya sesekali terangkat menekankan kalimat, sementara wajahnya tampak bersemangat ketika menyebut kegiatan-kegiatan yang telah terlaksana.

Salah satu kegiatan yang menonjol adalah penerbitan buku antologi puisi moderasi beragama berjudul “Kusebut Nama-Mu dalam Seribu Warna”. “Buku ini mendapat sambutan hangat, bahkan Menteri Agama pun memberi apresiasi,” tutur Gunoto dengan mata berbinar, disambut anggukan kagum dari audiens. Buku itu diluncurkan di Kelenteng Sam Poo Kong dan kemudian didiskusikan di Balai Bahasa Jawa Tengah.

Selain penerbitan, Gunoto juga menyinggung Parade Baca Puisi dan Musikalisasi Puisi yang telah digelar di berbagai tempat. Ia menyebut satu per satu lokasi, mulai dari Vihara Tanah Putih hingga Pondok Pesantren Al-Falah Salatiga. “Kami ingin menunjukkan bahwa puisi bisa hidup di mana saja, baik di kelenteng, vihara, pesantren, kampus, maupun hotel,” ujarnya. Suasana studio mendadak hangat oleh tepuk tangan hadirin.

Tak hanya program lokal, Satupena Jawa Tengah juga ikut aktif di program nasional, seperti penulisan puisi esai yang melahirkan antologi bersama Satupena Pusat, serta ajang Pemilihan Duta Puisi Esai Nasional 2024. “Kami bangga, ada anggota Satupena dari Blora yang terpilih sebagai Duta Puisi Esai,” kata Gunoto, kali ini dengan nada haru yang jelas terasa.

Di sela perbincangan, F. Sumardiyono menambahkan bahwa kolaborasi antara komunitas literasi dan media sangat penting. “RRI memberi ruang agar literasi tak berhenti di ruang baca, tapi menjangkau publik luas,” ujarnya.

R. Soejarto mengamini dengan menekankan bahwa literasi adalah “napas panjang kebudayaan” yang perlu terus dijaga. Meskipun di tengah era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi, upaya menggerakkan literasi tidak mudah.

Acara yang berlangsung hampir satu jam itu ditutup dengan kesan hangat. Senyum lebar, obrolan ringan, dan kilatan kamera ponsel menandai malam itu sebagai pertemuan yang bukan hanya informatif, tapi juga akrab dan penuh energi kebersamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *