Dukung Pengembangan Mahasiswa, Unika Soegijapranata Teken Kerja Sama dengan Semarang Zoo
SEMARANG[BahteraJateng] – Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata menjalin kerja sama dengan Taman Satwa Semarang (Semarang Zoo). Penandatanganan perjanjian dilakukan oleh Rektor Unika Soegijapranata, Robertus Setiawan Aji Nugroho, ST., MComIT., PhD, dan Direktur Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo, di ruang rektor kampus setempat pada Senin (15/9).
Dalam kesempatan itu hadir jajaran wakil rektor dan sejumlah dekan. Rektor Setiawan Aji menyebut kolaborasi tersebut sejalan dengan visi kampus, yakni talenta pro patria et humanitate (talenta untuk bangsa dan kemanusiaan).

“Sejak awal berdiri, SCU konsisten dengan isu lingkungan dan keberlanjutan. Kerja sama dengan Semarang Zoo menjadi langkah baru dalam konservasi satwa sekaligus membuka ruang kolaborasi di bidang edukasi dan rekreasi,” ujarnya.
Menurutnya, kerja sama ini memberi peluang bagi civitas akademika untuk terlibat dalam pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Ruang kolaborasi tidak hanya mencakup konservasi satwa, tetapi juga lintas bidang, seperti lingkungan, pangan, ekonomi dan bisnis, komunikasi visual, teknologi informasi, keteknikan, hingga asesmen psikologi.
Direktur PT Taman Satwa Semarang, Bimo Wahyu Widodo, menambahkan bahwa poin kerja sama antara lain memberikan harga tiket khusus mahasiswa Unika sebesar Rp10.000.
Selain itu, mahasiswa juga mendapat kesempatan magang dan belajar mengenai pelestarian satwa, manajemen, hingga strategi pemasaran. “Kerja sama ini berlaku selama dua tahun,” jelasnya.
Bimo menegaskan peran Semarang Zoo bukan hanya penyedia wisata edukasi, melainkan juga pelaku konservasi satwa. Menurutnya, upaya pengembangbiakan bertujuan agar satwa dilindungi dapat dilepasliarkan atau ditukar dengan lembaga konservasi lain, sembari menjaga kemurnian jenis.
Ia menegaskan pihaknya berkomitmen memberikan pelayanan terbaik dengan mengacu pada prinsip five freedoms (bebas lapar dan haus, bebas dari stres, bebas mengekspresikan diri, bebas berkembang biak, dan bebas dari rasa sakit).
“Tantangannya, setelah berkembang biak satwa harus ditukar atau dilepasliarkan agar tidak terjadi kawin sedarah,” pungkasnya.

