Mercy Corps Indonesia, lewat Program Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA), bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Kick-off Meeting Kajian Risiko dan Dampak Perubahan Iklim (Climate Risk and Impact Assessment/CRIA) serta Workshop Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Babon dan DAS Tuntang, di Hotel Arrus Semarang, Kamis (11/12).(Dok BahteraJateng/day)
|

Mercy Corps Indonesia dan Pemprov Jateng Mulai Susun Kajian Risiko Iklim untuk Penguatan Pengelolaan DAS

 

SEMARANG[BahteraJateng] — Mercy Corps Indonesia melalui Program Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memulai penyusunan Kajian Risiko dan Dampak Perubahan Iklim atau Climate Risk and Impact Assessment (CRIA) untuk wilayah DAS Babon dan DAS Tuntang.

Kick-off meeting dan workshop teknis digelar di Hotel Arrus Semarang pada Kamis (11/12), sebagai langkah awal penguatan ketahanan iklim di Jawa Tengah melalui pendekatan berbasis data dan kolaborasi lintas wilayah.

Program Manager ZCRA Mercy Corps Indonesia, Denia Aulia Syam, dalam sambutannya menyebut tekanan perubahan iklim di Jawa Tengah semakin jelas terlihat. Peningkatan intensitas banjir, rob, dan cuaca ekstrem berdampak pada masyarakat di wilayah hulu hingga hilir.

“CRIA akan menghimpun data ancaman iklim, kerentanan sosial-ekonomi, serta potensi dampak di masa mendatang. Hasilnya akan digunakan untuk mendukung kebijakan pembangunan daerah agar lebih responsif terhadap risiko iklim,” jelas Denia.

Dari pemerintah pusat, Kardono, Koordinator Pokja Perencanaan dan Pembinaan Adaptasi KLHK, menyampaikan bahwa kejadian ekstrem meningkat seiring kenaikan suhu global satu derajat.

Ia menekankan adaptasi perlu direncanakan secara sistematis, termasuk melalui pengelolaan DAS berbasis ekosistem. Menurutnya, CRIA menyediakan dasar ilmiah penting bagi pemerintah daerah dalam memastikan arah pembangunan yang lebih tangguh.

Perwakilan Bappeda Provinsi Jawa Tengah, Ria Oerlani, menyoroti tingginya kerentanan di kawasan hulu akibat tekanan tata guna lahan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Ia mengatakan tanpa langkah adaptasi yang tepat, risiko di wilayah hilir—termasuk potensi tenggelamnya sebagian kawasan pesisir Demak—akan meningkat.

“CRIA menjadi dasar ilmiah yang penting untuk memperbaiki tata kelola DAS dan memperkuat prioritas adaptasi,” katanya.

Dalam sesi teknis, Arif Gandapurnama, Local Lead for Resilience Policy and Practice Mercy Corps Indonesia–ZCRA, menegaskan bahwa analisis perubahan iklim tidak hanya melihat dampak fisik, tetapi juga tekanan sosial ekonomi, termasuk hilangnya mata pencaharian.

“Karena itu, perencanaan adaptasi perlu lebih sistematis dan berbasis risiko,” katanya.

Penyusunan CRIA melibatkan Mercy Corps Indonesia, akademisi IPB dan UNDIP, serta pemerintah Kota dan Kabupaten Semarang, Kabupaten Demak, Kabupaten Grobogan, dan Kota Salatiga.

Pendekatan lintas wilayah hulu–tengah–hilir diharapkan menghasilkan kajian yang kuat secara metodologis dan relevan bagi kebijakan daerah.

Pertemuan ini menegaskan urgensi perencanaan berbasis risiko iklim untuk menghadapi tantangan perubahan iklim di Jawa Tengah. Hasil CRIA nantinya digunakan sebagai acuan penyusunan kebijakan pembangunan, tata ruang, serta rencana investasi adaptasi di wilayah DAS Babon dan Tuntang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *