Nasaruddin Umar
Menag RI, Prof. Nasaruddin Umar, saat mengisi “Kuliah Subuh Bersama Menteri Agama RI” di Masjid Walisongo, Kampus 3 UIN Walisongo Semarang pada Minggu (20/9).(Dok. UIN Walisongo)
|

Menag Nasaruddin Umar Ajak Sivitas UIN Walisongo Jadi “Being the Quran”

SEMARANG[BahteraJateng] — Menteri Agama (Menag) RI Prof. Nasaruddin Umar, mengajak sivitas akademika UIN Walisongo Semarang tidak hanya membaca, menghafal, dan mempelajari Al-Qur’an, tetapi menjadikan nilai-nilainya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat memberikan “Kuliah Subuh Bersama Menteri Agama RI” di Masjid Walisongo, Kampus 3 UIN Walisongo Semarang pada Minggu (20/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti pimpinan dan sivitas akademika UIN Walisongo serta santri Ma’had Al-Jami’ah. Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Musahadi turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dalam kuliah subuh itu, Nasaruddin menekankan pentingnya meningkatkan hubungan manusia dengan Al-Qur’an. Menurutnya, kedekatan dengan Al-Qur’an tidak cukup diwujudkan melalui aktivitas membaca atau menghafalnya.

Lebih dari itu, nilai-nilai Al-Qur’an harus tercermin dalam sikap dan perilaku manusia. Gagasan tersebut ia gambarkan melalui istilah Being the Quran”, yakni menjadikan ajaran Al-Qur’an sebagai bagian nyata dari kehidupan.

Nasaruddin menjelaskan, Al-Qur’an memiliki pesan yang sangat luas dan dapat dipadatkan dalam Surah Al-Fatihah.

“Sementara inti pesan Al-Fatihah tercermin dalam ayat pertama, Bismillahirrahmanirrahim, yang menonjolkan sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya nilai Al-Qur’an di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, termasuk kemunculan super artificial intelligence (AI).

Menurut Nasaruddin, perkembangan teknologi dapat membuka peluang besar bagi kehidupan manusia. Namun, kemajuan tersebut perlu diimbangi dengan landasan moral dan spiritual agar tidak menimbulkan persoalan baru.

“Karena itu, saya mengharapkan mahasiswa dan santri tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan teknologi, tetapi juga karakter serta nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an,” katanya.

Nasaruddin juga mengingatkan bahwa rasa syukur kepada Allah tidak cukup hanya diucapkan melalui tahmid. Syukur, kata dia, perlu diwujudkan melalui sikap dan tindakan dengan menggunakan setiap nikmat secara bertanggung jawab serta memberikan manfaat bagi sesama.

Usai kuliah subuh, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon durian oleh Nasaruddin bersama Rektor UIN Walisongo di lingkungan Masjid Kampus 3.

Penanaman pohon tersebut menjadi bagian dari semangat ekoteologi yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Bagi UIN Walisongo, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kampus dalam membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, spiritualitas, kepedulian sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *