Metafora Ritual Pelestarian Hutan
Catatan *Sugayo Jawama*
(Wartawan Hutan Jawa sejak 1986)
Manusia adalah buah karya ciptaan Tuhan pada hari ke-6 (Jumuwah), untuk berlanjut sampai tiba pada hari ke-7 (Sabtu).

Menggenapi urutan rangkaian Hari Penciptaan yang pertama (Ahad), yang mana Tuhan (Dominggo) memulai rancangan konsep (Blue-print) Alam Semesta selaku wujud sifat Maha Pengasih dan Maha Pemurah (Legi);
Kemudian terciptalah Langit (labirin) gelap kosong (Pahing) di hari ke-2 (Isnain=Senin);

Terus dibuatkan-Nya-lah Bumi (planet=Pon) sebagai pondasi tikar (alas=kelasa) kehidupan pada hari ke-3 (Selasa=Salatsa);
Lalu di hari ke-4 (Rabu=Arobbain) Ia tumbuhkan tanaman dan pepohonan sebagai mesin oksigen dan pengatur sirkel air dan angin (Wage=Wadah Generator) sekaligus yang menghasilkan (produsen) pakan;
Kemudian pada hari ke-5 (Kamis= Khamsa) Tuhan menghidupkan binatang ternak-Nya (Hewan) sebagai petugas jaga keseimbangan timbangan (equilibrium) sebaran tumbuhan dalam setiap ruang pertumbuhannya (Hutan). Sekaligus sebagai penerima manfaat buah panenan (Kliwon) hasil produksi tanaman dan pepohonan.
**
Jumat adalah hari di mana Tuhan membagikan (memberi Firman) ilmu pengetahuan tentang keadaan alam semesta kepada Manusia.
Sabtu adalah hari di mana Tuhan mengumumkan tentang adanya pedoman (Sabda) norma (pandum) kepastian arah kehidupan (Arsy) bagi keselamatan (dapat berfungsi optimal) sebagai rahmat untuk semesta alam, dengan dihadirkannya manusia.
Muhammad adalah seorang pesuruh-Nya (Rasul) yang menerima pengetahuan tentang alam semesta dan ketentuan normatifnya (Firman), yang lantas diminta-Nya pula agar supaya mengumumkan seluruh informasi itu (Sabda) kepada Manusia.
Menggenapi (paripurna) informasi serupa seperti yang telah disampaikan oleh para pesuruh-pesuruh-Nya sebelumnya, khususnya yang pernah hidup di daerah padang pasir seperti dirinya.
Padang pasir adalah gambaran situasi jaman menjelang berakhir di muka planet Bumi. Suatu keadaan tanpa pepohonan yang memungkinkan kehidupan hewan tidak dapat berlangsung dengan selamat.(tidak dapat berfungsi optimal). Karena salah satu konsekuensi (kodrat) kelangsungan kehidupan binatang adalah adanya ketersediaan sumber makanan.
Kisah perjalanan Isra dan Mikraj Nabi Muhammad adalah gambaran sosok Manusia yang beruntung (insan kamil). Karena terpilih untuk memperoleh transfer Ilmu Pengetahuan tentang penciptaan Alam Raya ini, serta bagaimana seharusnya kita menyikapi kehidupan di salah satu butir planet hasil karya-Nya. Langsung dari Sang Penciptanya .
***
Ibarat seorang penghuni kamar indekosan, Muhammad adalah sosok yang disayang oleh pemilik rumah indekosnya. Maka Sang Pemilik rumah pun berkenan mengajaknya touring (berkeliling) meng-inspeksi jajaran rumah-rumah kos milik-Nya yang lain, sembari bertamasya..
Apabila anda juga mengangankan untuk dapat disayang Sang pemilik (owner) rumah indekos-mu ini, sering-seringlah memuji-muji diri-Nya. Perbanyaklah waktu untuk bersyukur (rajin berterimakasih) atas kemurahan-Nya memberikan tumpangan kamar kos gratis ini. Siapa tahu anda menjadi seberuntung (mendapat Safangat, Saf Hangat, Sop Hangat) sosok Muhammad (“mugi pikantuk hidayah rohmu qomat = Rohmat”) juga. Bukan?!
Namun demikian andaikata sebagai penghuni kamar indekos yang tega merusak perabotannya, mencuri TV-nya, menjual ilegal AC-nya, menggadaikan kulkas dan bahkan kasurnya, pastilah kita dapat segera diusir-Nya. Syukur kalau “owner”-nya tidak lantas bikin laporan polisi segala.
Buah tangan Muhammad sepulang dari perjalanan malam (night rider), memintas waktu (shortcut), menyusuri lorong-lorong langit. Menembus ruang-ruang tata surya maupun galaksi, guna saksikan sendiri keadaan maha besarnya alam semesta ini. Adalah ihwal lima langkah penting sebagai bentuk ritual peribadatan yang perlu diketahui dan “dilakoni (di-amal perbuatan-kan) oleh “komunitas hewan” yang telah di-manusiakan-Nya ini. Tentu saja tatkala sampeyan memang sungguh-sungguh berniat meraih keselamatan di sepanjang masa dan ragam bentuk kehidupan ini.
Adapun lima langkah penting di dalam perjalanan hidup itu adalah sebagai berikut ini.
SAHADAT: mengakui keberadaan Sang Pencipta Semesta Alam ini.
SHALAT: merupakan ungkapan pujian dan rasa syukur (berterima kasih) karena telah diberi kenikmatan tumpangan hidup di Bumi ini, yang adalah bagian dari Alam Raya Milik-Nya. Seraya berjanji (komitmen) untuk senantiasa memelihara diri (khusuk) dari segala perbuatan kerusakan (musyrik) agar sepanjang titian waktu kehidupan ini (“shiratal mustakim”), di setiap ritme detik-Nya dapat terus melaluinya dengan selamat.
PUASA: adalah identik dengan beristirahat sejenak dari rutinitas kegiatan harian manusia. Memberi jeda waktu. Sebuah wujud tindakan yang menyelaraskan diri (“tawaduk”) dengan ritme klimatologis, siklus tatanan musim di muka Bumi. Dengan cara tidak mengkonsumsi (tidak makan) dan juga tidak berproduksi (tidak kawin). Juga tidak saling bertengkar. Guna memberi kesempatan agar siklus pertumbuhan alamiah tidak selalu diganggu oleh aktivitas harian manusia. Suatu masa jeda rutinitas manusia sehingga alam dapat lebih leluasa mereparasi serta memperbarui seluruh komponen-komponen mesin produksinya.
Dalam konteks keberadaan kawasan hutan, masa jeda (puasa manusia) ini adalah agar pepohonan mendapatkan peluang waktu bertumbuh (regenerasi) memperbanyak dan memperbesar ukurannya sebelum akhirnya tiba musim panen. “Bahkan seorang pencuri pohon yang bijak pun tahu, kalau ia tidak boleh menebang habis seluruh pohon di hutan”. Karena kalau sampai habis maka di tahun berikutnya akan tidak ada lagi pohon yang bisa dicurinya. Kalau sampai tidak ada pohon di hutan yang dapat dicuri, bukankah ia pantas mendapat predikat maling yang merugi?.
Dengan demikian berpuasa adalah salah satu metode tindakan pelestarian alam hutan dengan cara menahan diri untuk tidak berbuat membabat hutan sekaligus Terlebih lagi di ruang-ruang kawasan yang seharusnya senantiasa menjadi hunian tetap bagi beragam jenis pepohonan dengan fungsi penjaga klimatologi dan hidro-orologi.
ZAKAT dan bersedekah adalah ekspresi perbuatan selaksa tindakan menyebar benih pohon. Selaras (sesuai dengan lantunan aras/”Arsy”) prinsip hidup pepohonan yang bersifat selalu berbagi sumberdaya makanan. Ibaratnya kalau kita mendapatkan 40 bulir padi ya jangan dimakan semuanya. Sisihkan minimal sebulir bijinya sebagai bibit yang dapat menumbuhkan padi untuk musim tanam berikutnya. Rajin menanam benih pemberian (“sregep nandur winih Pari = paringan, sahingga tansah kaduman barokahing pinaringan”) sehingga dapat selalu menerima limpahan berkah pemberian.
Dengan demikian berzakat itu adalah salah satu metode pelestarian alam tetumbuhan dengan cara tetap memperbarui tanaman melalui tindakan ikut menebarkan bibit-biji pemberian dari Sang maha Pemberi.
HAJI adalah ritual akbar (kolosal) sebagai gambaran (metaforis) prosesi Tuhan ketika menciptakan alam semesta sampai dengan berfungsinya seluruh sistematika-Nya (“sunatullah”). Khususnya pada adegan pelemparan batu kerikil yang seakan gambaran Tuhan sedang melontarkan bola-bola api yang disusul lontaran-lontaran gumpalan salju pendinginan sebagai cikal bakal pembentukan daratan planet-planet.
Kemudian lemparan butiran bebijian benih tanaman dan pepohonan agar bertumbuh di permukaan Bumi. Sedangkan pada ritual potong rambut (“tahalul”) seakan sedang mengajarkan agar manusia rajin merawat pepohonan yang secara periodik perlu pangkas daun (metode budidaya tanaman).
Adalah replika pentas alias tiruan gerakan koreografis yang mencerminkan (mirror) pagelaran theatrikal kesadaran perjalanan kosmis antariksa planet-planet. Selaras dengan siklus waktu peredarannya (sirkulasi) yang konsisten (“istiqomah”), di ruang-ruang langit (labirin) masing-masing planet dalam labirin kerajaan-kerajaan tata surya maupun di dalam kelongsong-kelongsong ruang galaksi sampai ruangan maha mega imperium Galaksi.
Ke semuanya itu adalah makna ritual dari bentuk tindakan nyata dalam menyusuri jalur keselamatan hidup serta wujud pemberian rahmat kepada seluruh alam. “Labaik Allahuma Labaik”. ##/////
(Semarang, 22/1/2026)

