Bulan Puasa yang Memuliakan Alam Semesta
Selama bulan puasa umat Islam (pemilih jalan keselamatan) diminta Tuhan agar melakukan “fasting for a month” (berpuasa sebulan), berhibernasi (tidur sementara), jeda satu bulan setiap tahun, guna pemulihan planet ini dari perilaku konsumstif yang dapat merusak sumber daya alam. Oleh karena berpuasa adalah wujud perbuatan mulia, maka pantaslah disambut dengan sukacita setiap kali jelang tiba saatnya. Pun pada saat menyongsong berakhirnya bulan pen-suci-an (bebersih diri) ini. Karena setelah melalui proses berpuasa maka planet Bumi menjadi kembali kepada fitrah-Nya. Kembali kepada keselarasan siklus alamiah musiman hasil rancangan-Nya.
Begitulah idealisme konsepsi ritual ibadah puasa Sebagai bentuk pe-mulia-an sekaligus penghormatan kepada planet ini dari para penghuninya.Di dalam pemahaman idealisme seperti itu dapat dibayangkan betapa dahsyatnya efek pemulihan planet Bumi. Apabila selama sebulan dari duabelas bulan sepanjang tahun dalam setiap bilangan tahun, masing-masing penghuni bumi di se-antero belahan dunia ini melakukan ibadah puasa. Bukan?!

Oh, iya. Omong punya omong. Bumi pun pernah berpuasa juga, loh. Yakni dengan tidak memperbesar tubuhnya selama semilyar tahun. Demi persiapan kelahiran kehidupan kita sekarang. Dengan diam semilyar tahun lamanya. Memberi kesempatan pembentukan sel-sel mikro-organisme yang menjadi pondasi pola kehidupan alamiah seperti sekarang. Termasuk, wabil khusus, kehidupan makhluk bertubuh daging seperti kita ini. Selama semilyar tahun Bumi berpuasa dengan tidak menambah pertumbuhan lapisan-lapisan kerak bumi yang menjadi daratan sekarang ini. “Bayangkan itu. Betapa besar perhatian-Nya kepada pentingnya kehidupan seperti yang sedang kita rasakan sekarang!”
**
Tetapi kenapa sekarang kok setiap kali memasuki fase bulan “ora madang” (Ramadan) justru volume kebutuhan barang konsumsi kita malahan meningkat pesat?” Itu karena paparan budaya kota yang kian dominan saat ini. Sehingga segala sesuatunya perlu didatangkan dan ditukar dengan uang. Jaman dahulu para rumah-tangga di desa sudah pada mandiri bahan pangan. Masing-masing keluarga punya lumbung padi di samping rumahnya. Kandang ternak dan kebun sayur serta tanaman bumbu di pekarangan. Sehingga cukup dengan manajemen sederhana saja mereka telah dapat persiapkan kebutuhan untuk bulan puasa. Tanpa kerepotan untuk mendatangkan dari luar daerah pemukiman.

Lantas apa perlunya tradisi pemberian uang “Tunjangan Hari Raya” (THR) sebagai bekal menyongsong hari akhir bulan puasa (lebaran?). “Wah, itu justru tradisi yang nyata-nyata bikin kita orang senang.” Dan, itu tidak bisa lepas dari pola hidup para pendahulu kita di masa lalu. Para leluhur selalu bersukacita tatkala menyambut bulan puasa. Dari awal hari sampai dengan mengakhiri hari di bulan puasa. Karena merasa telah menunaikan tugasnya selaku makhluk personal yang numpang hidup di alam raya milik-Nya ini.Sebagai bentuk darma bakti dengan turut menjaga kelestarian lingkungan alamnya.
Namun bagaimana menyampaikan rasa bahagia semacam itu kepada anak-anaknya yang masih kecil? Sehingga dapat menjadi metode transfer pemahaman akan pentingnya berpuasa sebagai pengalaman hidup yang selaras siklus alam ini? Ialah dengan menciptakan perayaan nyata menjelang Ramadan (dugderan) dan pemberian hadiah uang (angpau) saat lebaran. Agar berkesan di benak anak-anak karena secara nyata turut merasakan ke-gembira-an orangtuanya pula.
Namun ironisnya, di masa sekarang? Ya, sudahlah. Kalau maksud pesta dan perayaan menjelang datangnya dan berakhirnya bulan puasa justru terlanjur dianggap sebagai tujuan utama bulan puasa. Bukan makna hakiki puasanya. Bukan tindakan “radikal brake” sesuai per-minta-an-Nya, agar kita total berhenti sejenak dari aktivitas ekonomi. Demi menjaga kelestarian ekosistem alam-Nya.#
Sugayo Jawama (Semarang, 28-2-2026).

