Pembebasan Lahan Pembangunan Outer Ring Road Capai Rp1 Triliun
SEMARANG[BahteraJateng] – Pembangunan outer ring road hingga saat ini memang belum direalisasikan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, mengingat anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunannya cukup besar.
Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan butuh anggaran besar untuk pembebasan lahan dalam pembangunan jalur outer ring road.

“Waktu zaman Pak Hendi menjabat Wali Kota kan sudah dibahas tentang outer ring road tapi memang kebutuhannya banyak. Pembebasan lahan hampir Rp1 triliun,” ujar Ita panggilan akrab wali kota, Kamis (2/5).
Menurutnya infrastruktur konstruksi untuk outer ring road memang bisa dibantu pemerintah pusat. Namun, pembebasan lahan tidak menjadi bagian dari pemerintah pusat. Pembebasan lahan menjadi kewenangan pemerintah daerah.

“Sedangkan untuk pembebasan lahan tidak boleh pinjam dana bank,” tuturnya.
Solusinya, tutur Ita, untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas maka Pemkot Semarang berencana melebarkan Jalan Gunungpati Sekaran – Undip.
“Jalan tersebut sudah tapi kecil. Pada 2025 mendatang, akan diperbaiki jembatannya. Tapi saat ini sedang dikaji. Memang anggarannya besar untuk outer ring road,” ujar Ita.
DPRD Kota Semarang akian terus mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk segera merealisasikan pembangunan outer ring road di wilayahnya.
Sebelumnya, Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman mengatakan sebenarnya, pembangunan outer ring road pernah direncanakan sebelumnya, namun memang hingga saat ini belum terealisasi.
Sementara itu, panitia khusus (pansus) memberikan rekomendasi dorongan untuk segera merealisasikan pembangunan outer rong road.
Menurutnya, outer ring road saat ini sangat dibutuhkan masyarakat Kota Semarang. Pasalnya, kondisi arus lalu lintas di Kota Semarang saat ini sudah cukup padat.
Dengan demikian, lanjutnya, sudah selayaknya Kota Semarang memiliki outer ring road dan pembangunannya harus masuk dalam daftar prioritas.
“Semuanya tumplek jadi satu di jalur utama. Pengendara motor, mobil, semua truk besar, bus masuk. Mecahnya di Kalibanteng,” tutur Pilus panggilan akrab Kadarlusman, Rabu (1/5).
Dia menambahkan, jumlah kendaraan yang ada di Kota Semarang sudah sama dengan jumlah penduduknya.
Bahkan bisa dibilang jika jumlahnya lebih karena banyak penduduk luar kota yang bekerja di Semarang, sehingga dengan adanya outer ring road maka diharapkan bisa memecah tumpukan kendaraan di jalur utama.

