Mohammad Agung Ridlo
Mohammad Agung Ridlo.(Dok. MAR)
|

Hakikat Iduladha: Yang Mencapai Allah Bukan Daging dan Darah, Melainkan Ketulusan Hati

Oleh: Mohammad Agung Ridlo

Iduladha selalu datang membawa pesan yang mendalam. Bukan sekadar gema takbir atau tumpukan daging kurban, melainkan hakikat pengorbanan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Allah SWT berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini menjadi pengingat yang tegas: yang diterima di sisi Allah bukanlah sembelihan semata, melainkan keikhlasan. Bukan kemeriahan pembagian daging, tetapi kejernihan hati saat berkurban.

Menyembelih Hewan, Menyembelih Ego

Iduladha mengajak kita untuk melakukan lebih dari sekadar menempatkan pisau pada leher hewan kurban. Ada perkara yang lebih sulit: menyingkap dan “menyembelih” kesombongan, amarah, serta sifat kikir dalam diri. Kesombongan membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Amarah memutus tali silaturahmi. Iri dan dengki menggerogoti pahala. Semua itu harus kita usahakan untuk hilangkan bersamaan dengan penyembelihan hewan kurban. Karena sia-sia saja bila kita menyembelih puluhan hewan tetapi hati tetap dipenuhi penyakit yang menjauhkan dari Allah.

Harta Hanya Titipan; Berbagi Kunci Keberkahan

Kurban mengajarkan bahwa harta yang kita miliki hanyalah titipan. Allah menambah rezeki agar kita memiliki kesempatan untuk berbagi. Ketika kita ikhlas melepaskan sebagian harta untuk membeli hewan kurban, sesungguhnya kita sedang menabung keberkahan.

Janji Allah jelas: sedekah tidak mengurangi harta. Insya Allah, rezeki dan keberkahan akan dilipatgandakan dari sumber yang tak terduga. Bersuka cita dalam memberi menandakan hati yang sehat; kebahagiaan sejati bukan saat menggenggam, melainkan saat berbagi.

Daging Kurban: Merajut Kebahagiaan Tanpa Sekat

Keindahan Iduladha tampak ketika daging kurban dibagikan. Mereka yang kurang mampu para fakir dan miskin ikut merasakan nikmat dan berkah hari raya. Senyum anak-anak saat menerima bungkusan daging adalah wujud syiar Islam yang paling tulus.

Dalam momen ini sekat-sekat sosial mereda: yang mampu berbagi, yang membutuhkan menerima dengan bahagia. Tanpa membedakan suku, agama, atau warna kulit, semua berbahagia bersama. Inilah wajah Islam: agama kebersamaan, kepedulian, dan rahmat bagi semesta.

Silaturahmi: Kurban yang Mengikat Hati

Proses kurban dari penyembelihan hingga pembagian menjadi momentum silaturahmi yang besar. Tetangga yang jarang bertemu saling menyapa. Panitia, pekurban, dan penerima manfaat berkumpul dalam tujuan yang sama. Dari sinilah ukhuwah diperkuat; dendam dan iri hati memudar karena semua tergerak oleh semangat berbagi karena Allah.

Mari Luruskan Niat

Sambutlah Iduladha kali ini dengan hati yang bersih. Niatkan kurban bukan untuk pencitraan atau gengsi, tetapi semata-mata karena takwa. Semoga setiap tetes darah yang mengalir menjadi saksi keikhlasan kita. Semoga setiap bungkus daging yang diberikan menjadi penghapus dosa dan pintu keberkahan yang berlimpah.

Akhirnya, yang sampai kepada Allah bukanlah daging dan darahnya, melainkan hati yang ikhlas dan tunduk kepada-Nya.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H. Semoga kurban kita diterima, dan semoga kita menjadi pribadi yang lebih taat, lebih peduli, dan lebih pandai bersyukur.

(Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T., adalah Ketua Program Studi S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi) Fakultas Teknik UNISSULA. Juga sebagai Sekretaris I Bidang Penataan Kota, Pemberdayaan Masyarakat Urban, Pengembangan Potensi Daerah, dan Pemanfaatan SDA, ICMI Orwil Jawa Tengah. Selain itu juga menjadi Ketua Bidang Teknologi Tradisional, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Jawa Tengah. Serta sebagai Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *