Metamorfosis BRT Mebidang, Jalan Menuju Transportasi Modern
Oleh: Djoko Setijowarno
Transportasi publik merupakan wajah sebuah kota. Semakin baik layanan angkutan umum, semakin tinggi pula kualitas mobilitas masyarakat dan daya saing daerah. Kota Medan kini sedang menapaki fase penting dalam membangun sistem transportasi modern melalui pengoperasian BRT Mebidang. Program yang menjadi bagian dari skema Buy The Service (BTS) Kementerian Perhubungan ini bukan sekadar menghadirkan armada baru, tetapi juga mengubah paradigma pengelolaan angkutan umum dari sistem setoran menuju pelayanan berbasis standar.
Melalui skema BTS, operator memperoleh pembayaran berdasarkan kilometer perjalanan sehingga tidak lagi bergantung pada jumlah penumpang. Dampaknya sangat nyata. Praktik ngetem, berebut penumpang, hingga mengemudi secara ugal-ugalan perlahan dapat dihilangkan. Seluruh operasional bus dipantau melalui sistem digital sehingga ketepatan waktu, keselamatan, dan kepatuhan terhadap rute menjadi bagian dari standar pelayanan yang wajib dipenuhi.
Keunggulan BRT Mebidang semakin lengkap dengan penggunaan armada bus listrik. Medan menjadi kota pertama di Indonesia yang mengoperasikan layanan angkutan umum modern dengan armada sepenuhnya berbasis listrik. Selain mengurangi emisi karbon, langkah ini menunjukkan bahwa transformasi transportasi publik dapat berjalan seiring dengan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.
Saat ini BRT Mebidang melayani lima koridor strategis dengan puluhan armada yang menghubungkan berbagai pusat aktivitas masyarakat. Kehadiran sistem pembayaran digital, fasilitas ramah disabilitas, pendingin udara, CCTV, hingga informasi perjalanan secara real time membuat layanan ini semakin nyaman dan profesional. BRT Mebidang telah menjadi alternatif transportasi yang layak bagi masyarakat perkotaan.
Meski demikian, perjalanan menuju sistem BRT yang ideal masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu persoalan utama adalah belum tersedianya jalur khusus atau dedicated lane. Akibatnya, bus masih harus berbagi ruang dengan kendaraan pribadi sehingga sering terjebak kemacetan. Kondisi ini menyebabkan ketepatan waktu perjalanan sulit dipertahankan, terutama pada jam-jam sibuk.
Persoalan lain adalah masih maraknya parkir liar dan aktivitas pedagang yang menempati area halte. Bus kerap kesulitan merapat ke trotoar sehingga mengurangi kenyamanan sekaligus keselamatan penumpang. Di sisi lain, proses integrasi dengan angkutan kota konvensional juga belum sepenuhnya selesai. Padahal, keberhasilan sistem transportasi massal sangat bergantung pada konektivitas antarmoda. Angkot seharusnya diposisikan sebagai layanan pengumpan (feeder), bukan sebagai pesaing.
Karena itu, pembangunan infrastruktur pendukung harus berjalan beriringan dengan penataan kelembagaan dan kebijakan. Rencana pembangunan jalur khusus, halte modern, depo, terminal, hingga sistem transportasi cerdas merupakan langkah yang tepat. Namun, keberhasilan proyek ini sangat ditentukan oleh komitmen pemerintah daerah dalam menyediakan dukungan anggaran yang berkelanjutan.
Subsidi transportasi publik sejatinya bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang. Kota-kota yang memiliki sistem angkutan umum berkualitas terbukti mampu menekan kemacetan, mengurangi konsumsi bahan bakar, memperbaiki kualitas udara, sekaligus meningkatkan produktivitas ekonomi. Karena itu, penguatan regulasi daerah dan kepastian pembiayaan perlu menjadi prioritas agar transformasi BRT Mebidang tidak berhenti di tengah jalan.
Pada akhirnya, metamorfosis BRT Mebidang bukan hanya tentang menghadirkan bus listrik atau membangun koridor baru. Yang lebih penting adalah membangun budaya baru dalam bermobilitas. Jika pemerintah konsisten memperkuat infrastruktur, menjaga keberlanjutan subsidi, serta mengintegrasikan seluruh moda transportasi, Medan berpeluang menjadi contoh kota metropolitan yang berhasil menghadirkan transportasi publik modern, inklusif, dan ramah lingkungan bagi seluruh masyarakat.
(Djoko Setijowarno adalah Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia)

