Beda Pilihan Bukan Untuk Saling Benci Dalam Berdemokrasi

Oleh: Syamsul Huda

Pesta demokrasi di Indonesia sebentar lagi akan digelar, 27 November mendatang akan dilaksanakan pemilihan kepala daerah secara serentak untuk memilih pasangan gubernur – wakil gubernur dan walikota – wakil walikota/ bupati – wakil bupati.

Pada hari itu rakyat Indonesia benar-benar menjadi penguasa untuk menentukan siapa kepala daerah pilihan rakyat sebagaimana pesta demokrasi sebelumnya dengan agenda memilih anggota legislatif di tingkat pusat dan daerah serta pasangan presiden dan wakilnya.

Dalam pesta demokrasi dipastikan akan diwarnai dengan saling mempengaruhi untuk mendapat dukungan suara dari rakyat, beda pilihan menjadi sebuah keniscayaan yang tak dapat dihindari.

Sebagai bangsa yang memiliki pengalaman dalam mengelola perbedaan di alam demokrasi diharapkan nuansa perbedaan itu tidak menjadi pemicu perpecahan atau memudarnya ikatan persatuan.

Selain itu tidak menjadi pemicu tumbuhnya sikap saling benci karena beda pilihan sekaligus tidak menjadi pemicu munculnya rasa percaya dan cinta terhadap kontestan pilkada yang berlebihan.

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi nabi Muhammad bersabda “Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai.”

Jika pesan Nabi Muhammad SAW itu dijalankan, tidak suka atau suka ditumpahkan secara wajar akan melahirkan sikap moderat, maka ikatan persatuan dan kesatuan akan terpelihara walaupun muncul beda pilihan.

Suasana kondusif dalam kehidupan pun bisa dipastikan akan senantiasa terpelihara. Sikap menyadari bahwa pilkada adalah bagian dari sistem demokrasi yang memberikan semuanya berupa hak untuk memilih pemimpin harus dipahami, perlu diingat bahwa pesta demokrasi ini hanya alat, bukan tujuan.

Jangan sampai karena perbedaan pilihan bangsa ini terpecah belah, saling menghina, bahkan menyebarkan fitnah satu sama lain. Karena beda pilihan bukan untuk saling membenci antar sesama warga.

Firman Allah SWT melalui Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 11 mengingatkan kepada orang-orang beriman agar tidak mengolok-olok antara satu kaum dengan kaum yang lain (karena) boleh jadi yang diolok-olokkan itu lebih baik dari yang mengolok-olok.

Pengalaman menjadi bagian dari pesta demokrasi di Indonesia yang sudah terjadi berkali-kali mestinya dijadikan pelajaran yang tinggi nilainya.Polarisasi akibat cara berpolitik yang tidak sehat seperti menggunakan identitas dan sentimen agama untuk menambang suara berpotensi mengancam hubungan keluarga, bertetangga, pertemanan, dan relasi-relasi lainnya menjadi tidak harmonis dan tidak sehat yang berkepanjangan.

Hanya karena beda pilihan politik, permusuhan antar pendukung muncul dan terjadi dalam jangka waktu lama. Sementara orang-orang yang berkontestasi sudah bergandengan dan berangkulan. Ini sangat ironis.

Masyarakat perlu memahami bahwa politik itu tanpa titik dan sangat dinamis. Saat ini lawan, besok bisa jadi teman dan sebaliknya, sekarang teman, besok bisa jadi lawan. Maka kata anak zaman sekarang, dalam berpolitik, tidak boleh baperan.

Semuanya harus memahami bahwa pilkada dan pemilu adalah arena bentrok beda pilihan yang sah dan konstitusional, karena itu dalam
menghadapi pilkada munculnya perbedaan pilihan hendaknya disikapi dengan bijak.

Jangan sampai perbedaan ini menjadi alasan untuk memutuskan silaturahmi atau bahkan menimbulkan permusuhan. Harap diingat bahwa setelah pemilu selesai,.masyarakat tetap hidup berdampingan sebagai saudara, tetangga, dan bagian dari masyarakat yang sama.

Pesta demokrasi pilkada harus dijadikan sebagai ajang untuk memperkuat ukhuwah, menjaga kesantunan, dan meneladani akhlak Rasulullah dalam menyampaikan pendapat dan memilih pemimpin. Warga harus tetap bersatu dan menghormati perbedaan pendapat yang ada.

(Syamsul Huda, Guru Ngaji Kampung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *