IoT Hidroponik Jadi Solusi Kemandirian Pangan dan Gizi Sehat Warga Karimunjawa
KARIMUNJAWA[BahteraJateng] – Warga Desa Karimunjawa selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap sayuran segar. Kondisi tanah berpasir, minimnya air tawar, dan ketergantungan pada pasokan dari daratan Jepara membuat harga sayur di Karimunjawa bisa tiga kali lipat lebih mahal.
Akibatnya, konsumsi sayuran masyarakat relatif rendah sehingga meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas.

Menjawab persoalan tersebut, tim dosen Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) melalui pendanaan Kemendikti Saintek 2025 melaksanakan program pengabdian masyarakat berupa budidaya hidroponik berbasis Internet of Things (IoT).
Program ini dilaksanakan sejak Juli 2025 di Balai Desa Karimunjawa dengan menggandeng kelompok Fatayat NU sebagai mitra utama.

Ketua tim, apt. Junvidya Heroweti, menjelaskan program meliputi sosialisasi kecukupan nutrisi sayuran, pelatihan budidaya hidroponik oleh Dr. Rosi Prabowo, hingga pendampingan teknis instalasi sistem hidroponik otomatis yang mampu mengatur kebutuhan air dan nutrisi tanaman secara presisi dengan teknologi IoT. Proses instalasi didampingi oleh Akhmad Pandhu Wijaya.
Rektor Unwahas Prof. Helmy Purwanto turut hadir menyerahkan set hidroponik kepada warga. Ia berharap teknologi ini bisa mengoptimalkan peran kelompok Fatayat NU dalam mendukung ketahanan pangan dan gizi masyarakat.
“Program ini sejalan dengan SDGs dan Asta Cita Indonesia, karena mendorong kemandirian pangan lokal,” ujarnya pada Senin (8/9).
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unwahas, Dr. Agus Riyanto, menambahkan kegiatan juga melibatkan mahasiswa dari fakultas farmasi, pertanian, dan teknik informatika. Selain memperkuat kompetensi lintas keilmuan, keterlibatan mahasiswa memberi nilai tambah berupa transfer pengetahuan yang lebih kontekstual kepada masyarakat.
“Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga memperoleh rekognisi akademik melalui kontribusi nyata dalam pengabdian masyarakat,” jelasnya.
Program ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana mampu memberi dampak besar bagi masyarakat pesisir. Dengan hidroponik berbasis IoT, warga Karimunjawa kini lebih mudah memperoleh sayuran segar, meningkatkan kualitas gizi, serta menekan risiko penyakit metabolik. Model serupa juga berpotensi direplikasi di wilayah pesisir lain di Indonesia.

