Comdev Fest 2026 Blora
Para narasumber diskusi pertanian organik ajang Comdev Fest 2026 Blora, dari kanan ke kiri, Achmad Fahrul (Petani Organik), Lilik Setyawan (Sekdin DP4 Blora), Beno (Lembaga Carios), dan Moderator (bertopi).(Foto. BahteraJateng/PI)

Kabupaten Blora Berpotensi untuk Kembangkan Pertanian Organik

BLORA[BahteraJateng] – Kabupaten Blora yang memiliki populasi ternak sapi terbesar di Jawa Tengah hingga mencapai 270.000 ekor, berpotensi untuk pengembangan pertanian organik di seluruh wilayahnya.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora, Lilik Setyawan dalam diskusi pertanian organik pada gelaran Comunity Development (Comdev) Festival yang diselenggarakan oleh Hayat Institute di Blora Creative Space (BCS) pada Rabu (10/6).


“Kabupaten Blora memiliki 270.000 ekor sapi dengan potensi kotoran hewan (kohe) sebagai bahan kompos sekitar 300 truck per hari, dan sampai hari ini, yang bersertifikat organik baru 25 hektare,” ujar Lilik.

Lilik juga menyampaikan bahwa dari data di DP4, petani yang terdaftar membuat kotak kompos antara 1,5 sampai dengan 2 persen dari jumlah total petani di Kabupaten Blora.


“Petani yang membuat kotak kompos dalam program Geseku, 4.950 petani atau sekitar 1,5 sampai dengan 2 persen dari jumlah total petani yang ada di Kabupaten Blora,” lanjut Lilik.

Lilik juga menyampaikan bahwa DP4 Kabupaten Blora menyiapkan probiotik untuk masyarakat yang mau melakukan proses pengkomposan Kohe untuk lahan pertaniannya.

Ditempat yang sama, petani asal Desa Palon, Kecamatan Jepon, yang hadir dalam diskusi tersebut, Lagiono menyampaikan kendala pertanian organik disawah tadah hujan.

“Tahun lalu ketika hujan masih sering turun, panen padi saya cukup berhasil untuk mengawali sistem pertanian organik, tapi ketika tahun ini hujan tidak menentu, panen padi dikatakan ikut gagal. Bagaimana mengatasi kendala air pada sistem tanam organik?” tanyanya pada narasumber.

Praktisi sekaligus pelaku pertanian organik asal Desa Bajo, Kecamatan Kedungtuban, Achmad Fahrul menanggapi pertanyaan Lagiono berdasar pengalamannya.

“Berdasar pengalaman saya mbah, untuk mengatasi air dilahan sawah dengan memperbanyak kompos. Kompos mampu menjaga kelembaban dan air dalam tanah,” ujar Fahrul.

Fahrul juga menyampaikan bahwa kunci kekayaan petani berada diperakaran tanaman yang dibudidayakan.

Salahsatu narasumber diskusi dari Lembaga Carios, Beno, menyampaikan bahwa kompos kohe memiliki 90 unsur yang dibutuhkan tanaman padi.

“Kohe yang menjadi bahan kompos memiliki 90 unsur yang dibutuhkan oleh tanaman padi. Dan perlu dipahami bahwa kompos bukanlah pupuk. Ibaratnya kompos itu darah dalam tubuh, jadi sangat dibutuhkan oleh tanah,” ujar Beno.

Lebih lanjut Beno menyampaikan perlunya mereset tanah dibeberapa desa agar percepatan program pertanian organik terlaksana.

“Ini sangat menarik ketika membahas terkait percepatan program pertanian organik. Beberapa wilayah tanahnya direset ulang, tidak terlalu luas, yang mau saja ditanami dengan pola organik. Dan ini akan jadi percontohan bagi yang lain,” pungkas Beno.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *