LARAS Sleman
Sejumlah lansia mengikuti Program LARAS di Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Minggu (26/7/2026). (Foto. BahteraJateng/HH)
|

Lansia Indonesia Diproyeksi Melonjak, LARAS Sleman Siapkan Ruang Aktivitas dan Pendampingan

YOGYAKARTA[BahteraJateng] – Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia) yang diproyeksikan terjadi pada 2030 mendorong hadirnya Layanan Aktivitas Rekreasi Lanjut Usia (LARAS) di Padukuhan Tanjungsari, Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman. Melalui program ini, para lansia didorong tetap aktif, sehat, dan memiliki peran di tengah masyarakat.

Direktur LARAS, Prima Walani, mengatakan layanan tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap pemerintah dalam menghadapi bonus populasi lansia di Indonesia. Menurutnya, lansia membutuhkan ruang khusus untuk beraktivitas sekaligus menjaga kesehatan fisik dan mental.

“Kami membantu pemerintah dengan menyediakan fasilitas bagi lansia. Mudahnya seperti playgroup, tetapi untuk lansia. Mereka datang, senam, menikmati makanan ringan, lalu mengikuti kegiatan sesuai minatnya,” ujar Prima saat ditemui pada Minggu (26/7).

Puluhan lansia mengikuti berbagai aktivitas yang disesuaikan dengan minat masing-masing, seperti senam, beternak, berkesenian hingga berdiskusi dan menyampaikan gagasan. Melalui kegiatan tersebut, mereka diharapkan tetap produktif dan berdaya meski tidak lagi berada pada usia produktif.

Mantan Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Sleman itu menjelaskan pelayanan lansia tidak hanya berfokus pada kebutuhan fisik, tetapi juga aspek psikologis. Menurutnya, penurunan fungsi kognitif akibat penuaan membuat lansia membutuhkan ruang untuk bersosialisasi agar tetap merasa dihargai dan bahagia.

“Secara psikologis mereka merasa terpenuhi karena masih bisa bertemu dan berbincang dengan teman-teman seusianya,” katanya.

Prima menambahkan, LARAS membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas layanan bagi lansia di Sleman maupun DIY. Saat ini program tersebut telah bekerja sama dengan sejumlah program studi di Universitas Islam Indonesia (UII).

Meski demikian, pengembangan fasilitas masih terkendala anggaran. Rencana pembangunan pendopo sebagai pusat aktivitas lansia belum dapat direalisasikan sehingga kegiatan masih berlangsung dengan sarana yang terbatas.

“Kami terus berupaya mencari dukungan dari berbagai pihak agar pembangunan pendopo bisa terwujud dan pelayanan kepada lansia menjadi lebih optimal,” ujarnya.

Sementara itu, Dosen Psikologi UII Nita Tri Mulyaningsih, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari program Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UII yang juga melibatkan Program Studi Farmasi.

Pada tahap awal, tim melakukan skrining terhadap kondisi para lansia untuk memetakan kebutuhan mereka. Hasilnya akan menjadi dasar penyusunan program pendampingan yang lebih terarah.

“Kami ingin kualitas hidup lansia meningkat, terutama dari aspek fisik dan psikologis. Melalui kegiatan rekreatif, mereka diharapkan mampu mengenali serta mengelola emosinya dengan lebih baik,” kata Nita.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *