Mengenal Lebih Dekat Festival Ambassador Jakarta Film Week 2024
JAKARTA [BAHTERA JATENG] – Jakarta Film Week 2024 menjatuhkan pilihan kepada Kristo Immanuel menjadi Festival Ambassador Jakarta Film Week.
Kristo Immanuel dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam menirukan suara berbagai karakter terkenal. Kristo juga sudah merambah dunia film sebagai aktor, sutradara, dan konten kreator. Peran baru ini memungkinkan Kristo berbagi kecintaan terhadap film dengan publik lebih luas.

Kristo merasa bangga bisa terlibat dalam Jakarta Film Week2024 sebagai Festival Ambassador. Baginya, festival ini adalah kesempatan luar biasa untuk memperkenalkan dunia sinemakepada lebih banyak orang.
“Aku pengen teman-teman yang belum familiar dengan festival film jadi lebih kenal dan nonton bareng di Jakarta Film Week,” tutur Kristo.

Ia berharap festival ini bisa menjadi ajang untuk menambah wawasan sinema dan memperkaya referensi kreatif publik.
Jakarta Film Week 2024 akan berlangsung pada 23 hingga 27 Oktober 2024 di beberapa lokasi utama Jakarta, seperti CGV Grand Indonesia, Taman Ismail Marzuki
Sedikit kilas balik, Kristo sudah punya impian untuk menjadi sutradara sejak umur delapan tahun. Hal ini tidak mengherankan karena ketertarikannya terhadap film sudah tumbuh sejak dini. Film pendek pertamanya dibuat menggunakan gadget ibunya, dibintangi adik dan keponakannya.
Ia mencoba berbagai teknik sederhana untuk bercerita. “Waktu kecil, aku suka bikin film pendek sendiri, pakai handycam sama HP mama,” kenang Kristo.
Cita-citanya menjadi sutradara kemudian membawa Kristo serius berkarir di industri film. Sebelum menjadi konten kreator terkenal, Kristo pernah bekerja sebagai kurator di sebuah festibal film.
Pekerjaan ini memberinya pengalaman luar biasa dalam menonton berbagai jenis film dari seluruh dunia.
“Sebagai kurator atau programmer, aku bisa nonton hingga 100 film sehari, dari film pendek hingga feature. Ini benar-benar memperluas referensi filmku,” ujarnya.
Menonton film dari berbagai negara membuat Kristo memiliki wawasan kaya tentang sinema dunia, sesuatu yang ia terapkan dalam karier kreatif saat ini.
Selain berakting, Kristo juga mencoba menyutradarai. Salah satu proyek di mana ia terlibat sebagai co-director adalah film Kaka Boss (2024).
Bekerja di balik layar memberinya pandangan yang lebih mendalam tentang bagaimana sebuah film diproduksi dari awal hingga akhir.
“Menjadi co-director di film Kaka Boss benar-benar mengubah cara pandangku tentang pembuatan film. Ada banyak proses teknis dan kreativitas yang terlibat, dan ini memperluas pemahamanku tentang sinema,” ungkap Kristo.
Selain Kaka Boss, Kristo juga dipercaya menjadi assistant-director di film Teka Teki Tika (2021). Nama Kristo semakin dikenal luas setelah keterlibatannya dalam produksi film internasional.
Beberapa proyek film dibintangi antara lain The Big 4 (2022) tayang di platform streaming Netflix dan Sleep Call (2023) tayang di Prime Video. Film-film ini tidak hanya meningkatkan popularitasnya, tetapi juga memberinya pengalaman berharga bekerja dengan tim produksi berskala besar.
“Tampil di film internasional memberikan pengalaman yang berbeda. Standar produksinya tinggi, dan ini membuat aku semakin menghargai proses kreatif di balik layar,” katanya.
Kristo adalah pecinta film festival. Baginya, festival film adalah tempat di mana ia bisa mengeksplorasi karya-karya mungkin tidak ditemukan di bioskop umum.
“Nonton film dari festival itu kayak belajar sinema dari berbagai perspektif. Kamu bisa melihat gaya dan pendekatan berbeda dari tiap negara,” katanya.
Ia senang karena festival film memberinya kesempatan untuk menikmati sinema lebih eksperimental dan beragam.
Kristo tidak bisa melupakan pengaruh film-film masa kecilnya dalam membentuk minatnya di dunia film. Dua film sangat berpengaruh bagi Kristo adalah Narnia dan Petualangan Sherina.
“Waktu kecil, aku terpesona banget sama Narnia dan Petualangan Sherina. Dua film itu bikin aku yakin kalau dunia film itu seru banget dan bikin aku ingin terjun lebih jauh ke dalamnya,” ungkap Kristo.
Kristo juga tertarik untuk mengeksplorasi teknologi motion capture dalam pembuatan film. Teknologi ini digunakan dalam produksi film-film besar seperti Planet of the Apes dan Avatar. Kristo mengaku sangat terinspirasi oleh kemampuan teknologi ini dalam menghidupkan karakter-karakter digital terasa nyata.
“Salah satu cita-citaku adalah bikin film dengan motion capture. Teknologi ini keren banget dan bisa membawa cerita film ke level yang lebih tinggi,” katanya.
Kristo tidak hanya aktif di film dan konten digital, tetapi juga pernah menekuni dunia teater. Ia pernah tampil dalam beberapa pementasan teater di Jakarta.
“Teater itu punya tantangan tersendiri. Berbeda dengan film, di teater nggak ada ‘cut’, jadi kamu harus siap mental dan fisik,” jelasnya.
Kristo tidak memilih soal genre film. Dari komedi hingga horor, semuanya bisa dinikmati. Beberapa film favoritnya adalah What We Do in the Shadows dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.
“Aku suka banget film yang bisa menghibur tapi juga punya makna mendalam. Setiap genre punya kekuatannya sendiri,” katanya.

