|

Mentaati Pemimpin Hasil Pilkada

Oleh Syamsul Huda

Dalam hitungan hari beberapa waktu lalu kita baru saja berpesta demokrasi untuk memilih kepala daerah secara serentak, bilik suara di setiap tempat pemungutan suara (TPS) menjadi saksi siapa pemilik suara menjatuhkan pilihannya.

Sejumlah drama dan manuver politik mengiringi perjalanan masyarakat yang menyikapi perbedaan pilihan, drama usai sejak 27 November lalu. Proses penghitungan suara yang dimulai sejak tanggal TPS ditutup hingga sekarang sudah mulai kelihatan siapa kepala daerah yang terpilih.

Kepala daerah terpilih selanjutnya akan menjadi pemimpin seluruh masyarakat pada kurun lima tahun ke depan, sehingga perbedaan pilihan yang terjadi pada pemungutan suara harus diganti dengan kebersamaan dan kekompakan dalam membangun daerah .

Saatnya perbedaan itu dilupakan, dan diganti kebersamaan untuk membangun masyarakat. Kita diperintahkan oleh Allah untuk bersatu dan tidak bercerai-berai. Sebagimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 103 yang artinya :’“Berpegang teguh lah kamu semuanya ada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.”

Ayat ini mengingatkan kepada kita untuk merenungi kenikmatan dari persatuan, persaudaraan, dan kebersamaan. Kita harus menjauhi pertikaian yang mengakibatkan kita tercerai-berai dan menjadikan kita menyesal di kemudian hari.

Pasca pilkada, saatnya kita kembali menyatukan langkah untuk menyongsong pemimpin baru dan semangat baru. Walaupun saat pemilihan, pasangan yang menang bukanlah pilihan kita, namun kita harus menyadari bahwa Pilkada adalah wasilah bukan ghayah.

Pilkada adalah alat dan mekanisme sebuah proses yang tujuannya adalah terselenggaranya kepemimpinan yang sah dan diakui bersama untuk mewujudkan kemakmuran bersama. Ketika mekanisme ini telah menghasilkan pemimpin baru, maka ialah yang akan menjadi penentu arah kebijakan daerah. Mereka harus kita taati dalam kebaikan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa 59 yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman
taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu,” .

Dalam menjalani pembangunan di bawah kepemimpinan baru, kita juga harus ikut serta dalam memberi masukan agar para pemimpin dapat memimpin dengan baik.

Para pemimpin terpilih itu dapat meneladani kepemimpinan nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan sempurna bagi umat manusia. Dia memimpin dengan adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang. Ketika masyarakat mendukung beliau dengan ketaatan yang dilandasi keimanan, mereka bersama-sama menciptakan peradaban Islam yang maju dan berkeadilan.

Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 159 menarasikan nilai-nilai kepemimpinan Rasulullah SAW:
“Maka sebab rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah-lembut kepada mereka. Seandainya engkau bersikap kasar (dalam ucapan dan perbuatan), mereka pasti pergi meninggalkanmu (tidak mau berdekatan denganmu). Maafkanlah mereka. Mohonkan ampun lah untuk mereka. Ajaklah mereka bermusyawarah (mendengarkan aspirasi mereka) dalam segala perkara (yang akan dikerjakan). Jika engkau sudah berketetapan hati, tawakal-lah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang tawakal.”

Dari ayat ini, kita bisa menitipkan pesan kepada pemimpin baru agar senantiasa mengedepankan karakter Rasulullah yakni lemah-lembut kepada yang dipimpinnya, tidak kasar, tidak sombong, dan tidak memaksakan kehendak, baik dalam ucapan atau perbuatan.

Rasulullah juga menjadi pribadi yang senang memaafkan kesalahan orang lain, selalu memohonkan ampunan untuk rakyatnya yang berbuat dosa, dan siap mendengarkan aspirasi rakyat alias demokratis.

Rasulullah juga merupakan pemimpin yang memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan tugas yang diemban dengan baik dan senantiasa tawakal kepada Allah.

Ketika nilai-nilai kepemimpinan Rasulullah diaplikasikan dalam kepemimpinan di daerah kita, maka insyaAllah masyarakat akan termotivasi untuk ikut serta dalam pembangunan dan memberi dukungan penuh agar kemakmuran dan kemajuan daerah bisa benar-benar tercapai.

Bangkitnya partisipasi seluruh masyarakat dalam memberikan dukungan program pembangunan yang dilandasi semangat kebersamaan akan mendatangkan keberkahan. Tidak hanya bagi kepala daerah secara pribadi tetapi keberkahan juga akan meluas ke seluruh warga yang dipimpinnya.Selamat datang pemimpin baru, semoga sukses mengemban amanat.

(Syamsul Huda, Guru Ngaji Kampung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *