Sekaten Solo dan Jogja: Serupa Tapi Tak Sama
Oleh Agus Widyanto
TRADISI Sekaten masih menjadi agenda wisata tahunan yang mampu menyedot banyak pengunjung di Kota Solo dan Kota Jogja. Perayaan yang dilaksanakan untuk memperingati Maulid (Jawa: Maulud) atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW itu senantiasa mendapat perhatian masyarakat hingga kini. Tradisi yang konon berakar sejak era Majapahit, kemudian dikembangkan di era Kerajaan Islam Demak, tetap terpelihara di era Kerajaan Mataram Islam.

Pasca Indonesia Merdeka, tradisi sekaten masih bisa tetap ada. Bahkan berkembang menjadi acara yang lebih lengkap karena disertai dengan arena hiburan rakyat, pekan promosi dan perdagangan. Yang menarik, ada produk atau barang jualan yang khas saat Pekan raya Sekaten.
Lantas samakah Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Solo dan keraton Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat atau Jogja? Kalau berbeda, apanya yang membedakan?

Secara aktual dari apa yang bisa dilihat sekarang, sekoilas Sekaten Solo dan Jogja sama sama. Sebuah acara tradisi yang dilakukan Kerajaan Mataram Islam yang berkembang menjadi pesta rakyat, namun substansi sebagai ritual keagaamannya tetap terjaga termasuk simbol-simbolnya.
Di Sekaten Solo yang berlangsung di Masjid Agung Kasunanan Surakarta dan alun-alun utara, selalu ada pedagang barang tradisional seperti celengan yang mengingatkan kita untuk selalu hemat dan menabung (gemi setiti), cemeti atau pecut (harus melecut diri untuk tetap bersemangat), mainan anak di antaranya gasing kayu yang melambangkan bahwa kehidupan itu berputar seperti gasing.
Tak ketinggalan makanan khas seperti sirih dan kinang, jenang dodol, telur asin (di Solo disebut ndog kamal), sate kere, nasi liwet, cabuk rambak, gendar pecel dan wedang ronde juga hadir menyemarakkan. Teulur asin atau ndog kamal mengingatkan kita tidak lupa beramal. Ada pula yang menafsirkan telur asin (Bahasa kromo inggilnya Tigan Kamal) pengingat tiga fase hidup manusia lair (lahir), lakon (masa menjalani kehidupan), dan layon (lelayu, kematian).
Ada pameran yang memberi ruang untuk promosi dan pameran produk. Mulai dari pakaian, hasil kerajinan, makanan, minuman, barang elektronik sampai produk ootomotif dan bahkan obat-obatan bisa tampil di sini. Biasanya disertai juga pameran potensi daerah, setidaknya dari kabupaten dna kota yang ada di Solo Raya.
Adapun Sekaten Jogja juga memiliki menu sajian Istimewa tersendiri. Seperti sega gurih (nasi gurih), endog abang (telur warna merah), dan sate gajih. Sega gurih biasanya dijual dilengkaoi dengan ini dengan lauk telur pindang, tempe, udang kecil, kacang kedelai, dan kacang tanah. Menu ini sering disajikan pada acara tumbuk yuswa atau ulang tahun. Sedangkan telur warna merah dijual diberi hiasan mirip gunungan sekaten.
Menu sate gajih atau sate lemak yang hadir di Sekaten Jogja memberi ciri tersendiri karena masyarakat dengan kantong yang pas-pasan bisa menikmati hidangan sate yang sering dipersepsikan jajannya orang berduit.
Yang unik, kalau gasing di Solo terbuat dari kayu, gasing di Sekaten Jogja terbuat dari bambu. Yang khas mainan anak-anak di Jogja adalah perahu othok-othok, mainan yang bisa bergerak dengan bahan bakar minyak goreng.
Jika merunut sejarahnya, tradisi Sekaten bermula dari dimainkannya gamelan sekati. Gamelan dari era Jawa kuno yang disempurnakan oleh Sunan Kalijaga dengan beberapa alat musik, dan pengaturan cara memainkan dan penyajiannya. Momentum dimainkannya Gamelan Sekati yang dianggap sebagai pusaka leluhur itulah yang menjadi ciri utama Tradisi Sekaten. Gamelan Serkati ditaruh di dekat gerbang masjid untuk dimainkan terhitung tujuh hari sebelum Maulid yang ditandai dengan gerebek gunungan Sekaten sebagai puncak acara.
Semula banyak yang beranggapan bahwa perpindahan pusat kekuasaan dari pesisir di Demak ke pedalaman pada era Joko Tingkir yang bergelar Sultan Hadiwijaya yang bertahta di Pajang Surakarta, dan kemudian dilanjutkan oleh anak angkatnya, Danang Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati di Kotagede Yogyakarta disertai pula dengan diboyongnya gamelan sekati.
Persepsi tersebut didukung Sapardal Hardasukarta dalam buku Titi Asri, yang menyebut tidak ada keterangan yang jelas bahwa gamelan sekaten masih tetap dilestarikan hingga zaman Kesultanan Pajang karena Sultan Hadiwijaya dekat dengan Sunan Kalijaga.
Namun beberapa naskah mencatat bahwa Gamelan Sekaten yang semula ada di Kerajaan Demak, dibawa ke Cirebon. Sepeninggal Raden Patah, takhta Kesultanan Demak diduduki oleh Pangeran Sabrang Lor yang hanya tiga tahun memerintah karena wafat. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari (Asal Usul Negeri Cirebon), gamelan Sekaten Demak dipindahkan ke keraton Kesultanan Cirebon oleh janda dari Pangeran Sabrang Lor, Nhay Ratu Ayu salah satu putri Sunan Gunung Jati. Ratu Ayu dianggap sebagai pemegang hak waris.
Budayawan Samsudjin Probohardjono menuliskan dalam “Gendhing-Gendhing Kuna Keraton Surakarta” dalam majalah Mekar Sari 15 September 1986, setelah Sultan Bintara ketiga meninggal, gamelan sekaten diboyong ke Cirebon. Sedangkan Buku Sejarah Sekaten karya RM Sajid menuliskan kemeriahan Sekaten tetap terasa sampai pemerintahan Sultan Trenggana. Gamelan itu baru diboyong ke Cirebon oleh Ratu Ayu Mas Nyawa (dalam Babad Tanah Jawi disebut Ratu Mas), putri Raden Patah menjadi istri dari seorang pangeran Kesultanan Cirebon.
Gamelan Sekaten yang sekarang ada di Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton kasultanan Yogyakarta, disebut sebagai peninggalan Raja besar Mataram, Sultan Agung. Pemimpin yang pada masa kekuasaannya melakukan berbagai transformasi kebijakan di berbagai bidang, di antaranya menyempurnakan Huruf Jawa dan Bahasa Jawa, membuat kalender pertanian yang disebut “pranata mangsa”, dan mendorong idorong lahirnya berbagai karya sastra di antaranya “Sastra Gending”, “Serat Kekiyasaning Pangracutan” dan “Serat Nitipraja”, adalah tokoh yang menginisiasi pembuatan sepasang gamelan sekaten.
Pada era Sultan Agung tradisi sekaten dikembangkan, dan dibuatlah dua perangkat gamelan yaitu Kyai Guntur Madu yang biasa ditempatkan di sisi selatan (Pagongan Kidul) jalan masuk Masjid Agung, dan Kyai Guntur Sari yang ditempatkan di sisi utara (Pagongan Lor).
Keluarnya sepasang Gamelan Sekaten yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari dari Keraton ke Serambi Masjid menjadi penanda dimulainya Perayaan Sekaten sampai era Paku Buwono III.
Peristiwa Perjanjian Giyanti yang terjadi pada 13 Februari 1755 yang oleh orang Jawa disebut sebagai peristiwa “Palihan Nagari” membuat semuanya berubah. Selain wilayah kekuasaan Mataram terbagi menjadi dua, pusaka dan kekayaan keraton harus dibagi, termasuk sepasang gamelan sekaten, Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari.
Dalam Perjanjian Jatisari yang terjadi pada 15 Februari 1775, salah satu poin kesepakatan antara Susuhunan Paku Buwono III dan Pengeran Mangkubumi (kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I) adalah membagi gamelan sekati sbb: Kyai Guntur Madu menjadi milik Kasultanan Yogyakarta, sementara Kasunanan Surakarta mendapatkan Kyai Guntur Sari.
Karena dipandang tidak lengkap, saat Susuhunan Paku Buwono IV bertahta, beliau memerintahkan pembuatan “putran” alias duplikat Kyai Guntur Madu memakai logam yang lebih tebal, dan warnanya keemas an dipadu dengan warna cokelat kayu. Semenjak itulah, Kasunanan Surakarta kembali memiliki sepasang gamelan sekati yang lengkap yang setiap Perayaan Maulud diletakan di Pagongan Lor dan Pagongan Kidul.
Hal serupa juga dilakukan Kasultanan Yogyakarta. Agar kedua pagongan terisi lengkap, HB I memerintahkan pembuatan putran Kyai Guntur Sari. Yang berbeda, Kasultanan Yogyakarta tidak memakai nama Kyai Guntur Sari untuk gamelan putran tersebut. Kasultanan Ngayogyakarta memberi nama gamelan putran Kyai Guntur Sari dengan sebutan Kyai Nogo Wilogo. Keraton Ngayogyakarta memang memiliki perangkat gamelan bernama Kanjeng Kyai Guntursari, namun bukan Gamelan Sekaten. Perangkat tersebut digunakan untuk latihan menabuh gending gending Sekaten, dan juga untuk mengiringi Beksan Lawung. Titi laras (setelan/stem) gamelan Kanjeng Kyai Guntursari Jogja sangat rendah, mirip titi laras gamelan Sekaten.
(Agus Widyanto, wartawan senior, peminat kebudayaan dan falsafah Jawa)


Sebuah ulasan yng bagus dan lengkap