Semarang Heyhoo Ramaikan Pilwakot Semarang 2024
SEMARANG[BAHTERA JATENG]-Keriuhan Pilwakot Semarang 2024 turut bergema hingga dunia maya. Adalah lagu Semarang Heyhoo dan Jangan Berhenti milik Daya Ledak wira-wiri disematkan bersama unggahan di Instagram Stories maupun Reel beberapa bakal calon kandidat.
Lirik menggambarkan keberagaman hidup di Kota Semarang dengan up beat membuat penikmat musik lebih bersemangat. “Two phenomenal songs (dua lagu fenomenal),” ucap Gitaris sekaligus Back Vocalis Vano Wardhana atau akrab disapa Nonot mengenai lagu-lagu tersebut, Rabu (11/9).

Semarang Heyhoo dan Jangan Berhenti merupakan dua buah lagu didedikasikan untuk warga Kota Semarang, suporter dan PSIS. Kilas balik tercipta lagu tersebut adalah permintaan salah satu teman dekat sekaligus penggemar bola. Masing-masing lagu memiliki tantangan tersendiri serta melibatkan beberapa teman untuk mengisi bagian tertentu. Dalam ingatan Nonot, proses pembuatan lagu Semarang Heyhoo tidak begitu lama karena sekali bikin langsung klik. Menariknya, Semarang Heyhoo juga melibatkan teman-teman suporter untuk rekaman.
Daya Ledak merupakan band indie asal Kota Semarang mulai terbentuk 15 Agustus 2015. Kala itu Daya Ledak digawangi Vano Wardhana (gitar/ back voc), Riza Azis (drum), Ditya Suryatama (vocalis) dan Dimas Angga (bass).

Catatan prestasi Daya Ledak ditorehkan pada tahun 2017 saat meraih juara kategori band terbaik di SuperMusic.ID Rockinbattle area Semarang. Sedikit kilas balik, Nonot bercerita waktu itu Daya Ledak tidak terlalu berminat berkompetisi. Berawal dari ‘paksaan’ teman untuk ikut berpartisipasi dalam kompetisi tersebut. Dari iseng-iseng tapi berhadiah karena berhasil menyabet kategori The Best Unique Performer. Sebagai band baru terbentuk dua tahun saat itu rasa bangga membuncah melihat sederet juri terlibat. Diantaranya Andi/RIF, Stevy Item dan Aria Baron.
Dalam perjalanan waktu Daya Ledak melanjutkan karier bermusik dengan formasi baru. Kini Nonot ditemani Agung Hari (bass/ back voc), Yulio Jansen (lead gitar/ back voc) dan Eka Harianto (drum). Terkait pemilihan nama Daya Ledak, Nonot menganalogikan dengan daya ledak sebuah atom. “Kami ingin menjadi inti yang mampu ‘menggemparkan’ sekitar,” tandas Nonot.
Daya Ledak sudah meluncurkan 11 lagu di album pertama. Lalu, saat pandemi Covid-19 sempat memproduksi delapan lagu karena salah satu personel keluar sehingga terhenti. Setiap lagu mereka terinspirasi dari kehidupan sehari-hari dan memiliki kesan masing-masing baik cerita, proses rekaman, proses awal membuat dan lainnya. Dalam waktu dekat, Daya Ledak ingin me-recycle satu lagu dan membuat video klip. Di samping itu, masih tetap berkreasi dengan materi baru di tengah kesibukan masing-masing personil.
“Harapannya kami ingin dapat diterima, didengarkan dan menjadi inspirasi khalayak di mana pun berada. Sedangkan, secara umum kami bermimpi band indie asal Semarang semakin banyak dan sehat dengan variasi karya,” kata dia.
Dalam pandangannya, band indie asal Semarang semakin melek kualitas teknis dan tidak kalah bersaing dengan band kota besar lainnya.

