Screenshot
|

Tujuh Film Produksi Adhya Pictures Tampil di Jakarta Film Week 2024

JAKARTA [BAHTERA JATENG] – Tujuh film unggulan produksi Adhya Pictures tampil dalam Producers Network di Jakarta Film Week 2024.

Produser Adhya Pictures, Shierly Kosasih mengatakan, film-film dalam slate ini mencakup berbagai genre.


“Mulai dari drama olahraga, keluarga, horor, hingga komedi romantis, dan semuanya merefleksikan visi Adhya Pictures dalam menciptakan cerita-cerita relevan dan menginspirasi,” kata Shierly Kosasih.

Meliputi Forza; Sampai Jumpa, Selamat Tinggal; Yakin Nikah; Mungkin Kita Perlu Waktu; Lala Permaisuri Lucifer; The Hole; The Storyteller.


Film pertama adalah Forza, menggandeng RIVA Studios dari Amerika Serikat. Forza adalah drama olahraga disutradarai Marco Balsamo, mengangkat kisah sepak bola penuh kehangatan dan inspirasi.

Film ini mengikuti kisah Bima, bocah 11 tahun dari Bali bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional untuk mengubah nasib keluarga dan komunitasnya.

Hidupnya berubah saat bertemu Marco, mantan pemain klub sepakbola besar dari Italia yang datang ke Bali.

Direncanakan tayang pada 2025, Forza diperankan oleh Atiqah Hasiholan, Yoriko

Angeline, Arie Kriting, Tio Pakusodewo, Ruth Marini, Teuku Wifnu Rikana dan Oka Antara, serta melibatkan kolaborasi dengan klub sepak bola AC Milan.

Lalu, ada film Sampai Jumpa, Selamat Tinggal. Drama emosional karya Adriyanto Dewo ini baru saja melakukan pemutaran perdana sebagai film pembuka di Jakarta Film Week 2024. Mengambil latar indah di Korea, film ini dibintangi Putri Marino, Jerome Kurnia, Jourdy Pranata, dan Lutesha.

Film ini bercerita tentang perjalanan Wynn mencari kekasihnya yang hilang, Dani, hingga menemukan rahasia mengubah

segalanya. Diproduksi bersama Relate Films, film ini merayakan keteguhan dan harapan manusia dalam menghadapi cinta dan kehilangan.

Kemudian, film Yakin Nikah disutradarai oleh Pritagita Arianegara. Yakin Nikah adalah komedi romantis diadaptasi dari serial YouTube sukses dengan lebih dari 14,9 juta penonton.

Kisahnya berpusat pada Niken menghadapi tekanan keluarga untuk segera menikah. Dengan mantan tunangan dan pacarnya saat ini sama-sama ingin meminangnya, Niken terjebak di antara harapan keluarga dan keinginannya sendiri.

Beberapa nama akan membintangi Enzy Storia, Maxime Bouttier, Jourdy Pranata, Amanda Rigby, Ersa Mayori, Tora Sudiro, Agnes Naomi, Lukman Sardi, Agung Karmalogy, Indian Akbar dan Ben Jeffrye.

Berikutnya, film berjudul Mungkin Kita Perlu Waktu. Ombak tengah berjuang pulih dari trauma kehilangan saudara perempuannya, Sara, dalam sebuah tragedi mengguncang hidupnya hingga membuatnya sempat mencoba bunuh diri.

Orang tua Ombak, Restu dan Kasih, yang juga dilanda kesedihan mendalam. Sementara itu,

Ombak mencoba bangkit lewat basket dan terapi bersama Nana, psikolog disarankan oleh ayahnya.

Di tengah pergulatan ini, Ombak menemukan teman baru, Aleiqa, seorang siswa yang juga pernah berada di ambang keputusasaan, dan ikatan mereka menjadi secercah kebahagiaan bagi Ombak.

Film ini akan disutradarai oleh Teddy Soeriaatmadja dan melibatkan Lukman Sardi sebagai aktor sekaligus produser di film ini.

“Dengan hadirnya judul-judul film, termasuk Mungkin Kita Perlu Waktu ini, harapannya semua berjalan lancar dan film ini bisa menjadi salah satu film piliha mengeksplorasi tema-tema film yang mungkin belum banyak diangkat. Serta  mengakomodasi ide-ide cerita segar yang tentunya juga akan hadir dengan kualitas film yang semakin baik,” ungkap Lukman Sardi menanggapi rencana proyek film Mungkin Kita Perlu Waktu.

Selanjutnya, film Lala Permaisuri Lucifee bergenre horor fantasi ini, disutradarai Ruben Adrian. Film ini mengisahkan Lala, seorang wanita muda mendapat kekuatan supranatural dari Lucifer. Di tengah tarik-menarik antara kekuatan gelap dan keimanannya, perjalanan Lala mencerminkan pergolakan batin antara cahaya dan kegelapan.

Adalah The Hole, film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo, tentang Soegeng menemukan pola mengganggu lubang hitam pada setiap korban, saat menyelidiki kasus pembunuhan membingungkan di Lubang Buaya.

Dengan kerusuhan meningkat dan ancaman kerusuhan membayangi, Soegeng berpacu dengan waktu untuk menangkap pembunuh dan mengembalikan kedamaian kepada masyarakat.

Pamungkas adalah film The Storyteller. Film ini disutradarai oleh Lukman Sardi, bercerita tentang karakter Nicho mewujudkan perjuangan antara kepatuhan terhadap norma sosial dan sisi pribadinya asli.

Kehadiran anak tuli-bisu, Keke, melambangkan kemurnian dan ketahanan identitas individu. Melalui interaksi mereka, cerita ini mengeksplorasi tema penerimaan diri, pencarian makna, dan cara-cara tak terduga menemukan harapan dan kekuatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *