Festival Puisi Esai Jakarta II untuk Apa?
Oleh Nia Samsihono
Festival Puisi Esai Jakarta II Tahun 2024 diselenggarakan di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada tanggal 13-14 Desember 2024, dari pukul 09.00 – 22.00 WIB. Festival ini adalah festival yang kedua sejak puisi esai diperkenalkan kepada masyarakat. Pada tahun ini, acara festival melibatkan generasi muda untuk berkarya dan festival ini mengundang para penulis puisi esai dari berbagai daerah untuk bersilaturahmi dengan penggerak puisi esai Denny JA yang juga menjadi penyandang dana seluruh kegiatan festival tersebut. Diundang juga beberapa penulis puisi esai dari Sabah Malaysia, yaitu Datuk Jasni Matlani. Sedangkan ketua pelaksana Festival Puisi Esai Tahun 2024 adalah Fatin Hamama.

Sejarah Terbentuknya Puisi Esai yang Digagas oleh Denny JA
Puisi esai adalah sebuah genre sastra yang menggabungkan elemen puisi dengan narasi esai. Genre ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh Denny JA, seorang penulis, intelektual, dan aktivis sosial, pada tahun 2012. Kehadirannya menjadi fenomena baru dalam dunia sastra Indonesia, sekaligus memicu perdebatan tentang bentuk, nilai, dan kontribusinya terhadap perkembangan sastra.

Latar Belakang Kemunculan Puisi Esai
Gagasan tentang puisi esai lahir dari keinginan Denny JA untuk menciptakan medium sastra yang mampu merepresentasikan kompleksitas isu sosial dalam bentuk yang lebih personal dan reflektif. Sebelum memperkenalkan puisi esai, Denny JA telah dikenal sebagai tokoh yang aktif dalam isu-isu politik, sosial, dan budaya. Ia ingin menyampaikan pesan-pesan sosial melalui medium sastra yang bisa menjangkau audiens yang lebih luas.
Puisi esai mulai diperkenalkan kepada publik melalui buku “Atas Nama Cinta” (2012). Buku ini berisi lima puisi esai yang masing-masing membahas isu sosial seperti intoleransi agama, diskriminasi terhadap kaum minoritas, dan pernikahan beda budaya. Format puisi esai di dalam buku ini menjadi ciri khas: narasi yang puitis, catatan kaki yang memperkuat fakta, dan penggabungan elemen fiksi serta kenyataan.
Definisi dan Karakteristik Puisi Esai
Puisi esai memiliki struktur khas yang membedakannya dari genre puisi tradisional maupun esai pada umumnya. Definisi puisi esai dapat dirujuk atau diacu di Kamus Besar Bahasa Indonesia, terbitan Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Badan Bahasa), Kemendikbud.
Beberapa karakteristik utama puisi esai, yaitu memiliki struktur naratif yang panjang, menyerupai cerpen atau cerita pendek. Selain itu menggunakan catatan kaki untuk menyajikan data, fakta, atau referensi yang memperkuat relevansi sosial tema yang diangkat.
Puisi esai ini berfokus pada isu-isu sosial, seperti diskriminasi, kemiskinan, atau konflik budaya, yang diolah dalam bentuk kisah personal. Bentuk puisi esai menggabungkan unsur puitis dengan argumen analitis yang membuat puisi esai bersifat reflektif dan mendalam.
Perkembangan dan Penerimaan
“Setelah Atas Nama Cinta”, Denny JA melanjutkan proyeknya dengan menerbitkan berbagai karya puisi esai yang melibatkan penulis lain. Puisi esai bahkan dijadikan kompetisi nasional dengan tema-tema sosial tertentu. Hal ini bertujuan untuk memperluas jangkauan genre tersebut di kalangan pembaca muda dan pegiat sastra. Namun, kehadiran puisi esai juga memicu perdebatan di kalangan sastrawan. Beberapa pihak menganggap genre ini sebagai inovasi positif dalam sastra Indonesia, sementara yang lain mengkritiknya sebagai bentuk sastra yang kurang murni karena terlalu terikat pada fakta dan analisis. Kritikus juga menyoroti penggunaan data dalam karya sastra sebagai elemen yang dianggap membatasi ekspresi artistik.
Meski menuai pro dan kontra, puisi esai berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah sastra Indonesia. Genre ini membuka diskusi baru tentang cara sastra dapat menjadi medium perubahan sosial. Melalui karya-karyanya, Denny JA berhasil mengajak masyarakat untuk melihat isu sosial dari sudut pandang yang lebih emosional dan manusiawi.
Puisi esai bukan hanya sekadar bentuk ekspresi sastra, tetapi juga sebuah upaya untuk menjadikan karya sastra sebagai alat advokasi. Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keragaman dan tantangan sosial, genre ini menawarkan ruang refleksi yang unik dan relevan.
(Nia Samsihono adalah Ketua Umum Satupena DKI Jakarta)

