Unwahas Semarang
Kegiatan sosialisasi kerja migran dan migrasi aman di Aula Unwahas Semarang, Rabu (30/7).
|

Calon Pekerja Migran Diharapkan Tempuh Jalur Prosedural

SEMARANG[BahteraJateng] – Peluang kerja ke luar negeri dinilai sangat terbuka, namun masyarakat diimbau untuk tidak berangkat sebagai pekerja migran secara non prosedural.

Hal itu ditegaskan oleh Staf Ahli Bidang Transformasi Digital Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Prof. Dr. Moch Chotib, dalam kegiatan sosialisasi kerja migran dan migrasi aman di Aula Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang pada Rabu (30/7).


“Peluang kerja ke luar negeri banyak, namun silakan tempuh jalur resmi. Jangan tergoda jalan pintas karena 90 persen permasalahan PMI berasal dari yang berangkat secara ilegal,” ujar Chotib.

Menurutnya, pekerja migran yang berangkat secara prosedural akan terdaftar di Kementerian P2MI, memiliki kontrak kerja, rincian gaji, lokasi kerja, dan jaminan perlindungan. Sebaliknya, pekerja non prosedural rentan terhadap eksploitasi dan sulit ditangani ketika menghadapi masalah.


Chotib menambahkan bahwa penguasaan bahasa negara tujuan seperti Jepang, Korea, dan Jerman, serta memiliki sertifikasi resmi dari BNSP akan sangat membantu menekan biaya keberangkatan.

“Kalau sudah punya skill dan sertifikat, biaya hanya berkisar Rp15 juta-Rp20 juta, tak perlu pelatihan panjang di karantina,” tegasnya.

Sementara itu, Staf Ahli Hubungan Antar Lembaga Kementerian P2MI, A. Gatot Hermawan, memaparkan risiko PMI non prosedural, antara lain eksploitasi, TPPO, gaji tak dibayar, hingga masalah hukum dan sosial.

Ia mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap calo dan iklan kerja dari sumber tidak jelas, serta menghindari negara dengan status peringatan seperti Kamboja, Myanmar, Laos, dan Thailand.

Rektor Unwahas, Prof. Dr. Helmy Purwanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini penting agar mahasiswa dan masyarakat mengetahui prosedur resmi kerja ke luar negeri.

“Bagi yang berminat untuk kerja ke luar negeri. Bekali diri kalian dengan keahlian, ilmu, bahasa dan budaya. Kerja dengan kompetensi di sektor formal, agar aman dan terjaga dari sisi perlindungan hukum, kesehatan dan lainnya,” ujarnya.

Ia berharap ke depan akan ada pelatihan lanjutan agar calon PMI memiliki bekal kompetensi.

Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, mengapresiasi kegiatan ini. Ia menyebut Pemkot Semarang siap bekerja sama membuka peluang kerja luar negeri dan telah menjalin kerja sama dengan Jepang.

“Jarang-jarang kampus menggelar acara seperti ini. Saya berharap dapat cermat dalam menggali informasi dan menentukan langkah, bisa mengakses informasi dari Disnaker Kota Semarang dan P3MI. Kita (Pemkot Semarang, red) terbuka, membuka diri menjalin kerjasama peluang kerja ke luar negeri, belum lama kita juga MoU dengan Jepang,” ucap Iswar.

Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa dan pelajar SMA/SMK se-Kota Semarang, serta menghadirkan narasumber dari Kementerian P2MI, Pemkot Semarang, Unwahas, dan lembaga pendukung lainnya.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *