Jambore PKSM Jateng di Rembang, Dihadiri 137 Rimbawan
REMBANG[BahteraJateng] – Forum Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) menyelenggarakan Jambore PKSM Jateng di Desa Ngulahan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang pada Sabtu (25/4).
Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari, dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Rembang, Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah I Jawa Tengah, Ketua Umum FPKSM Indonesia, serta Rimbawan PKSM dari 11 Cabang Dinas Kehutanan (CDK) di 35 Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto dalam sambutannya menyampaikan peran penting PKSM sebagai mitra Penyuluh Kehutanan Aparatur Sipil Negara (PK ASN).
“Jawa Tengah masih memiliki 317.000 hektar lahan kritis, 50.000 hektar diantaranya berupa hutan negara. Sehingga mayoritas masih berupa lahan milik atau hutan rakyat. Sehingga diperlukan peran serta PKSM sebagai mitra PK ASN yang jumlahnya sangat sedikit di Jawa Tengah,” ungkap Widi.

Widi juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Jambore PKSM yang diinisiasi oleh Forum PKSM Jawa Tengah dan telah berbadan hukum.
Inisiator sekaligus Ketua forum PKSM Jawa Tengah, Achmad Rif’an dalam sambutannya menyampaikan terkait pelaksanaan kegiatan jambore PKSM.
“Kegiatan Jambore PKSM Jawa Tengah bertemakan Konservasi Keanekaragaman Hayati, dilaksanakan di desa ramah burung, Desa Ngulahan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, dan dihadiri 137 rimbawan PKSM se-Jawa Tengah,” ujar Rif’an.
Lebih lanjut Rif’an menyampaikan bahwa PKSM adalah salahsatu profesi penyuluhan yang berbasis masyarakat.
“Sesuai dengan UU nomor 41 Tentang Kehutanan dan UU nomor 16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan, PKSM menjadi garda terdepan penyuluhan kehutanan untuk mengubah pola pikir masyarakat terkait pembangunan kehutanan berkelanjutan,” lanjut Rif’an
Ditempat yang sama, Ketua Forum PKSM kabupaten Rembang, M. Ali Mustofa menyampaikan pentingnya kolaborasi antar pihak dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan hidup dan kehutanan yang semakin kompleks.
“Kolaborasi dan sinergi semua pihak memang harus dilakukan. Permasalahan lingkungan hidup dan kehutanan sangat kompleks dan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Maka aksi konkret peduli pada hutan, hutan dirawat, dirumat, dan diruwat sebagaimana arahan Ketua PKSM Jateng sangat tepat,” ujar Ali Mustofa.
Kegiatan Jambore PKSM diisi dengan penampilan tari merak binaan Kader Konservasi Alam (KKA) Desa Sudo, kolaborasi PKSM, ujaran sastra, wayang alasan, unen-unen rengel, gelaran inovasi kehutanan, serta sarasehan pembangunan kehutanan berkelanjutan.
Sekretaris IPKINDO, Sri Puatin memberikan tanggapan pada Gelar Inovasi Kehutanan yang diikuti oleh sebelas CDK se-Jawa Tengah yang menampilkan pupuk organik, olahan enceng gondok berbentuk arang briket, biji kopi, dan aneka buah.
“Sederhana, sudah bagus. Namun kedepan lebih diperbanyak lagi pesertanya agar hasil hutan bukan kayu bisa menjadi bagian tak terpisahkan dari kesejahteraan masyarakat sekitar hutan,” ujar Sri Puatin.
Pada sesi sarasehan pembangunan kehutanan berkelanjutan di Bukit Cendana, dihasilkan beberapa rekomendasi, diantaranya, kegiatan Jambore PKSM menjadi agenda rutin tahunan, adanya data base komoditas unggulan dan komoditas utama kehutanan Jawa Tengah, koordinasi dan komunikasi intens antar stakeholder, pelatihan SDM berupa short course untuk pendamping perhutanan sosial, dan kemitraan dengan lembaga fund raising untuk kelestarian lingkungan hidup dan kehutanan.
Peserta Jambore PKSM asal Kabupaten Wonogiri, Ira Sarmanti, menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan.
“Kami atas nama peserta menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada Ketua Forum PKSM Jawa Tengah dan semua pengurus serta panitia pelaksana. Kami banyak belajar dari kegiatan ini. Pulang membawa semangat baru, seperti habis di charge ulang baterai kami,” ujar Ira.
Senada dengan Ira, Peserta Jambore PKSM asal Kabupaten Kebumen, wahyu menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sangat menarik dan akan diterapkan didaerahnya.
“Demikian pula saya, amat tertarik dengan konsep Desa Ngulahan sebagai desa ramah burung dan kampung konservasi keanekaragaman hayati. Akan bisa diterapkan ke beberapa wilayah lainnya, karena bisa menjadi integrasi ekologi, ekonomi, sosial, dan bahkan budaya,” kata Wahyu.(day)

