Ahmad Luthfi
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dalam Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara di Hotel Novotel, Kota Semarang, Selasa (22/9).(Foto. BahteraJateng/day)

Jateng Jadi Trigger Percepatan Penurunan Stunting, Demak dan Kabupaten Semarang Direplikasi Nasional

SEMARANG[BahteraJateng] — Keberhasilan Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang Jawa Tengah menekan prevalensi stunting hingga kisaran 2 persen akan dijadikan good lessons untuk direplikasi ke daerah lain di Indonesia.

Model penanganan stunting dari dua kabupaten di Jawa Tengah tersebut dinilai dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain dalam mempercepat penurunan prevalensi stunting secara terintegrasi.

Deputi Bidang Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Setwapres, Eddy Cahyono Sugiarto, mengatakan praktik yang dilakukan Demak dan Kabupaten Semarang akan direplikasi tidak hanya di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, tetapi juga di daerah lain secara nasional.

“Tadi juga ada good lessons dari dua kabupaten yang akan kami replika untuk ditiru di daerah lain, tidak hanya regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, tetapi seluruh Indonesia,” kata Eddy usai Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara di Semarang pada Selasa (22/9).

Menurut Eddy, keberhasilan penurunan stunting membutuhkan komitmen kepala daerah dan kerja lintas sektor. Persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan gizi, tetapi juga menyangkut sanitasi, lingkungan, infrastruktur, serta kondisi sosial keluarga.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan Demak dan Kabupaten Semarang saat ini menjadi model bagi kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Ia meminta daerah dengan prevalensi stunting lebih tinggi mempelajari praktik yang telah diterapkan kedua daerah tersebut.

“Penanganan ini sudah baik. Ada dua kabupaten yang dijadikan model penanganan stunting bagi kabupaten/kota lain untuk meniru, yaitu Demak dan Semarang. Mereka masing-masing sudah mencapai angka 2-an persen,” kata Luthfi.

Luthfi menyebut pendekatan yang dilakukan bukan sekadar menyalin program, melainkan menerapkan konsep amati, tiru, dan modifikasi (ATM) sesuai kondisi masing-masing daerah.

Saat ini prevalensi stunting Jawa Tengah berada di angka 9,77 persen. Namun, masih terdapat kesenjangan antarwilayah sehingga percepatan intervensi diperlukan, terutama di daerah dengan prevalensi tinggi.

Luthfi menyebut Wonosobo, Banjarnegara, dan Purbalingga sebagai daerah yang membutuhkan perhatian lebih. Pemprov Jateng akan mengerahkan organisasi perangkat daerah terkait untuk melakukan intervensi secara terpadu.

“Ini nanti akan kita intervensi dengan dinas terkait. Nanti akan kita keroyok seluruh daerah untuk belajar dengan Demak dan Semarang,” ujarnya.

Ia menegaskan, keberhasilan Demak dan Kabupaten Semarang menjadi rujukan karena penanganan stunting membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat hingga desa, serta dukungan berbagai pihak di luar pemerintah.

Dengan replikasi praktik yang telah berjalan di daerah dengan capaian rendah, pemerintah berharap percepatan penurunan stunting dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *