Bupati Arief Ajak Santri Hadapi Tantangan Medsos di Era Digital
BLORA[BahteraJateng] – Bupati Blora, Arief Rohman, menyoroti peran penting pesantren sebagai benteng moral bangsa sekaligus mengingatkan tantangan besar di era teknologi digital, terutama pengaruh media sosial terhadap generasi muda.
Hal itu disampaikannya didepan ribuan jemaah yang memadati halaman Pondok Pesantren Walisongo Ngawen pada Minggu (26/10), dalam Pengajian Akbar Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah.
“Dukungan pondok pesantren sangat besar dalam pembentukan karakter bangsa. Dari pesantrenlah lahir tokoh, ulama, dan pejabat yang berperan dalam kemajuan negeri ini,” ujar Bupati Arief.
Pengajian yang berlangsung khidmat ini turut menghadirkan sejumlah ulama terkemuka, di antaranya KH. Abdul Hadi Kurdi dari Pati dan KH. Ma’ruf Islamuddin dari Sragen, serta dihadiri para kiai, santri, dan masyarakat dari berbagai daerah di sekitar Blora.
Santri Harus Melek Digital dan Berwawasan Luas
Gus Arief menilai, perkembangan teknologi dan media sosial membawa dampak besar terhadap kehidupan sosial masyarakat, termasuk meningkatnya aktivitas remaja dan pelajar dalam berbagai dinamika sosial.
“Media sosial kini menjadi salah satu faktor utama munculnya berbagai dinamika sosial, termasuk demonstrasi yang akhir-akhir ini banyak diikuti kalangan pelajar,” jelasnya.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya santri masa kini memiliki wawasan luas dan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan zaman.
“Santri tidak cukup hanya memahami ilmu agama, tetapi juga perlu menguasai pengetahuan umum dan teknologi informasi agar mampu bersaing secara global,” tegasnya.
Di sisi lain, ia juga mencontohkan bagaimana sejumlah pesantren tetap menerapkan pembatasan penggunaan ponsel untuk menjaga fokus para santri dalam pembinaan akhlak dan moral.
Pembangunan dan Kabar Baik Dunia Pesantren
Dalam kesempatan itu, Bupati Arief juga memaparkan berbagai program pembangunan yang tengah digencarkan Pemkab Blora.
“Tahun 2025 ini kami membangun 103 ruas jalan untuk memperlancar akses ekonomi masyarakat. Meskipun kondisi keuangan daerah terbatas, semangat pembangunan tidak akan surut,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Arief menyampaikan kabar baik bagi dunia pesantren, yakni rencana pemerintah pusat membentuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di bawah Kementerian Agama (Kemenag).
“Ini wujud nyata komitmen negara dalam mendukung kemajuan lembaga pendidikan berbasis pesantren,” ungkapnya.
Ia berharap, keberadaan Ditjen Pesantren nantinya dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan lembaga pesantren dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan santri.
Menutup sambutannya, Gus Arief mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat sinergi antara pemerintah, ulama, dan umat.
“Mari bersama membangun Blora yang maju, religius, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

