DPRD Jateng: Sikap Adaptif Kunci Hadapi Goncangan Ekonomi Global
SEMARANG[BahteraJateng] – Sikap adaptif menjadi kunci keberhasilan dalam mempertahankan ketahanan ekonomi Jawa Tengah dalam menghadapi goncangan-goncangan ekonomi yang melanda dunia internasional belakangan ini.
Anggota Komisi B DPRD Jateng, Fery Wawan Cahyono, mengatakan hingga ini geopolitik dunia masih berlangsung dinamis dan efeknya semakin meluas kemana-mana, Indonesia sebagai bagian dari dunia secara otomatis akan terkena dampak dari goncangan itu.

“Amerika Serikat yang saat ini menghadapi tekanan ekonomi yang berat tentu tidak mau menghadapi problem ini sendirian dengan membagi tekanan itu bersama -sama negara lain,” kata Ferry dalam Diskusi Interaktif bertajuk Ketahanan Ekonomi Jateng Di Masa “Sableng” yang diselenggarakan Forum Wartawan Pemprov & DPRD Jateng di Gedung Merah Putih komplek Setda Jateng pada Rabu (16/7)
Menurutnya, agar beban tekanan itu menyebar ke negara lain Amerika menaikkan pajak impor atas berbagai komoditas yang masuk ke negeri paman Sam itu.

“Kebijakan itu tentu berdampak kepada para eksportir yang memasukan komoditasnya ke Amerika,” katanya.
Eksportir Indonesia, lanjutnya, suka tidak suka atau mau tidak mau harus menanggung beban kebaikan pajak itu, karena itu agar tetap eksis dan bertahan aktifitas bisnisnya harus memiliki strategi, salah satunya adalah membuka pasar baru, tentu ini tidak mudah.
Dalam diskusi yang didukung Bank Jateng itu, Ferry menambahkan, menghadapi tekanan itu dunia usaha di Jawa Tengah bersama masyarakat dan pemerintah daerah harus secepatnya mengambil langkah-langkah adaptif .
Pemerintah, ujarnya, harus melakukan intervensi dengan mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan daerah yang selama ini terpusat di kawasan Pantai Utara (Pantura). Kawasan Jateng di bagian selatan perlu didorong, sehingga pusat pertumbuhan daerah semakin merata.
Pakar ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof Ahmad Syakir, mengingatkan untuk mendukung harapan itu tidak mungkin hanya mengandalkan peran Pemprov Jateng melalui APBD yang ada, tetapi harus melibatkan dunia usaha melalui aktifitas investasi yang diharapkan dapat menggerakkan sektor riil.
Karena itu, tuturnya, investasi yang masuk ke Jateng jangan hanya terbatas pada modal saja,tetapi juga harus dapat menyerap tenaga kerja yang jumlahnya besar, sehingga Jateng benar-benar memiliki ketahanan ekonomi yang kuat ditengah goncangan ekonomi global.
“Yang menggembirakan pada triwulan I 2025 realisasi investasi di Jateng meningkat 18 persen, PMA mendominasi kenaikan itu, kita berharap para kurun waktu berikutnya kenaikan itu akan terus meningkat,” ujarnya.(sun)

