Bupati Sleman
Bupati Sleman Harda Kiswaya, melantik pengurus Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) periode 2026-2030 di Pakem, Sleman, Selasa (14/7/2026). (Foto. BahteraJateng/HH)

Hanya 37 Persen Warga Sleman Gemar Makan Ikan, Bupati: Ini Tantangan yang Cukup Berat

YOGYAKARTA[BahteraJateng] – Bupati Sleman Harda Kiswaya, menyebut rendahnya tingkat konsumsi ikan masyarakat masih menjadi tantangan besar bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman. Dari sekitar 1,2 juta penduduk, baru sekitar 37 persen warga yang memiliki kebiasaan mengonsumsi ikan.

Hal itu disampaikan Harda usai mengukuhkan kepengurusan Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (FORIKAN) Kabupaten Sleman periode 2026–2030 di Aula UPT Pengembangan, Budidaya, dan Pemasaran Perikanan, Pakembinangun, Pakem pada Selasa (14/7/2026).

Menurut Harda, keberadaan FORIKAN diharapkan tidak hanya menjadi organisasi formal, tetapi mampu mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama membiasakan anak-anak mengonsumsi ikan sejak dini.

“Karena ini belum menjadi kebiasaan masyarakat Sleman. Dengan komposisi penduduk sekitar 1,2 juta jiwa, baru sekitar 37 persen yang gemar makan ikan. Ini menjadi tantangan yang cukup berat,” kata Harda.

Ia menjelaskan, kondisi geografis Sleman yang tidak memiliki wilayah pesisir menjadi salah satu faktor yang memengaruhi budaya konsumsi ikan masyarakat.

“Kondisi wilayah kita bukan kaya akan pengairan yang bagus, perikanan ada, tapi tidak cukup bagus. Tidak seperti daerah yang punya pantai yang luas. Di Gorontalo makanannya ikan, bahkan hampir 100 persen orang sana makan ikan,” ujarnya.

Selain meningkatkan konsumsi, Harda juga meminta produksi perikanan lokal dapat dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya, hasil budidaya ikan dari Sleman selama ini masih banyak dipasarkan ke luar daerah sehingga perlu diimbangi dengan peningkatan konsumsi masyarakat setempat.

Ia juga mendorong diversifikasi produk olahan ikan agar lebih diminati berbagai kalangan, terutama anak-anak.

“Kami baru berusaha, tapi belum bisa berjalan dengan baik lewat Makan Bergizi Gratis (MBG), kami berusaha perbaiki. Nanti ikan bisa diolah macam-macam, bisa digoreng, dipepes, dibikin dawet ikan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tim FORIKAN Kabupaten Sleman, Suparlah Harda Kiswaya, mengatakan Kabupaten Sleman memiliki potensi sumber daya air dan perikanan yang cukup besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada pola konsumsi masyarakat.

“Mengubah kebiasaan tidak mudah. Mengajak masyarakat bukan sekadar perkara menyuruh mereka makan ikan, tetapi bagaimana kita menghadirkan ikan sebagai menu yang diminati, terjangkau, dan disukai anak-anak kita,” ujar Suparlah.

Ia menegaskan FORIKAN harus menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat, bukan sekadar organisasi di atas kertas.

“Kita bukan sekadar struktur formalitas di atas kertas, kita adalah penggerak perubahan masyarakat. Saya mengajak seluruh elemen memperkuat organisasi, peningkatan produksi, diversifikasi produk, promosi hingga publikasi agar gerakan makan ikan semakin luas,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Liem Astuti, menyampaikan produksi perikanan di Sleman yang cukup tinggi belum diikuti dengan tingkat konsumsi ikan masyarakat.

“Oleh karena itu, Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) harus terus kita galakkan melalui kolaborasi lintas sektor. Pembentukan tim FORIKAN ini memiliki makna yang strategis untuk mewujudkannya,” ujar Liem.

Ia mengatakan FORIKAN akan menjalankan sejumlah program, mulai dari edukasi gizi berbasis ikan di sekolah, pelatihan pengolahan hasil perikanan bagi masyarakat, kampanye melalui media digital, kolaborasi dengan sektor kuliner dan pariwisata, hingga pemberdayaan UMKM olahan hasil perikanan. (day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *