Karpet Terbang, Pendaki Gunung dan Penjelajah Antariksa
Courtesy YouTube/rumah editor

Karpet Terbang, Pendaki Gunung dan Penjelajah Antariksa

Catatan *Sugayo Jawama*
(Wartawan Hutan Jawa, sejak 1986)

Sebutan semuanya ini terdiri Sang Pencipta dan CiptaanNya.
Pencipta adalah Tuhan (Khalik).
Ciptaan adalah barang-Nya (Makhluk).

Ciptaan disebut Alam Semesta.
Alam semesta terdiri keadaan material (benda) dan keadaan bukan benda (immaterial).
Dengan demikian Tuhan adalah pencipta keadaan sekaligus pencipta ketiadaan.

Rongga langit adalah keadaan kekosongan, kesunyian (ruang hampa), suatu ketiadaan material yang disiapkan sebagai ruang gerak planet-planet (material) sebagai benda ciptaan yang tampak adanya.

Di dalam kelongsong rongga langit (kekosongan) yang gelap gulita itulah mula-mula Sang Pencipta melemparkan bola-bola api untuk terus berputar pada posisi lintasannya (orbit) masing-masing.

Selanjutnya disemprotkan-Nya semburan salju untuk mendinginkan sekumpulan bola-bola api itu sehingga menjadi cikal bakal terbentuknya planet. Dengan membiarkan salah satu di antara bola api itu agar terus bergerak menyala sebagai bintang penanda terbentuknya ruangan angkasa (space cluster) Tata Surya.

Kumpulan sejumlah tata surya kemudian kita sebut galaksi sebagai entitas yang terdiri “cluster-cluster tata surya”. Tentu saja ada sangat banyak sekali Galaksi di dalam rongga kegelapan nan maha luas (akbar) itu. Para astronom menerangkan perkiraan antara 200 Milyar sampai 400 milyar bintang di dalam satuan labirin (kelongsong) Galaksi Bimasakti ini.

Terdapat delapan planet di dalam satuan rongga langit tata surya kita. Yakni, dengan urutan dari yang terdekat sampai terjauh dari posisi Matahari: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus.

Masing-masing “kerajaan” Tata Surya dengan masing-masing butiran planet persemakmurannya, senantiasa bergerak laksana karpet-karpet terbang menuruti alur pergerakan kelongsong langit di setiap ruang imperium galaksi, yang juga berada di dalam kelongsong maha imperium yang lebih besar lagi, yang juga senantiasa terus berpusar dengan pusingan gerakan sesuai orbit-Nya.

**
Butiran planet Bumi berputar setiap hari dalam rentangan waktu 12 jam pada hari siang. Untuk menatap matahari dan menerima siraman cahaya energinya. Serta 12 jam di hari malam sembari menatap bintang-bintang di dalam ruang semesta galaksi-galaksi lainnya.

Berputar setiap tahun sebanyak 360 hari mengelilingi matahari, selama sepanjang waktu-waktu berlalu. Dengan notasi 60 detik satu menit dan 60 menit dalam satu jam.

Hari-hari dinotasikan dalam tujuh nama hari (Tuhan/Ahad/Minggu/Legi ; Langit/Senin/Pahing/Kosong; Bumi/planet/Selasa/Pon; Pohon/Rabu/Wage; Hewan/Kamis/Kliwon; Manusia/Jumat/Hari ke-6/ Pengetahuan sistem Alam; Norma Alam Semesta/Sabtu/ Sapta/hari ke-7/ Sabat/ Sabda/ Panduan Kehidupan), sebagai perumpamaan adanya tujuh pintu surga, selama 12 bulan setiap tahun.

Dengan demikian boleh dikatakan kalau ukuran satu hari putaran bola matahari, sembari terus bergerak menyusuri garis lintasannya (orbit) dalam ruangan antariksa (kelongsong) galaksi adalah setara 360 hari putaran bumi mengitari bola energi matahari.

Dengan demikian pula keseluruhan butiran planet-planet ini laksana karpet-karpet terbang atau pun kapal-kapal bintang (Starship) yang terus berputar dan bergerak melaju. Senantiasa bertamasya menjelajahi se-antero ruangan kelongsong (labirin) alam semesta.

***
Daratan permukaan planet Bumi adalah lapisan kerak-kerak hasil proses pendinginan bola api planet ini, setelah (pasca) menerima semprotan gumpalan salju Sang Pencipta dalam proses awal penciptaan-Nya.

Setelah terbentuknya kerak daratan berlapis tanah di atas timbunan bebatuan, Sang Pencipta pun melontarkan sebungkus “plances” biji tanaman di atasnya yang lalu bersemai menjadi kecambah beragam jenis benih pohon.

Benih-benih aneka jenis pohon itu lalu bergerak dengan sendirinya. (Kalau tidak percaya pohon jaman dulu bisa berjalan, silakan datang ke Semarang dan di sana ada tempat bernama Jati Berpindah alias Jatingaleh!!?). Menyebar ke se-antero ruang daratan yang sekiranya dirasa sesuai dengan karakter sifat pertumbuhanya. Untuk kemudian menetap di tempat barunya guna membesarkan dan tinggikan dirinya.

Sejumlah nama pohon memilih daratan tempat bertumbuh yang lebih tinggi dari yang lain. Mendaki puncak gunung-gemunung agar mendapatkan ruang memandang langit yang lebih leluasa, sehingga bisa lebih menikmati rasa tamasya perjalanan angkasa menyusuri ruang-ruang antariksa dengan menumpang kapal bintang berupa planet ini.

Sebagai Maha Taman nan luas, hamparan hutan pepohonan di atas daratan ini tentu saja memerlukan “tukang kebun” untuk merawatnya. Agar selalu terjaga proporsi dan estetika letak pohon-pohon dengan keluasan kawasan daratan tempat bertumbuhnya. Secara proporsional.

Lantas Tuhan menghidupkan hewan yang terdiri binatang-binatang raksasa untuk diberi proyek pekerjaan Juru Taman Hutan Raya.

Pada awalnya entitas pekerja juru taman ini tertib melaksanakan pekerjaannya dengan baik-baik saja. Mereka hanya memangsa (makan) dedaunan dari kelebihan riap-riap pertumbuhan pepohonan saja.

***

Namun. Seiring masa perjalanan waktu yang terus memanjang. Perkembangan populasi binatang raksasa Juru Taman ini pun melimpah melampaui porsi pertumbuhan riap hutan pohon sebagai asupan pakannya, di seluruh bagian kawasannya.

Ibarat orang yang tidak suka makan rumput tapi doyan sate kambing. Daripada repot cari rumput buat makan. Kenapa tidak langsung menyantap dagingnya kambing saja. “Toh, makanannya rumput juga. Bukan?!”. Begitu mungkin isi benak hewan raksasa yang mulai gemar memangsa daging sesamanya.

Di jaman kehidupan kelompok terbang (kloter) hewan raksasa Dinosaurus, kita tahu pernah adanya binatang buas bernama Tyrex (Tyranosaurus Rex) yang amat ganas dalam memangsa daging sesamanya.

Kemudian, oleh sifat “welas asih” (maha pengasih dan penyayang)-Nya, Tuhan pun tetap memberi ruang kehidupan para raksasa legendaris itu. Namun. Agar Supaya lebih leluasa lagi ruang geraknya. Dengan cara mengecilkan ukuran tubuh fisiknya serta sedikit modifikasi bentuk mulutnya.

Bagi orang yang sedikit cermat, akan dapat dengan mudah melihat penampakan sosok “Tyrex” dalam rupa bentuk hewan ternak Ayam sekarang. Adapun rupa raksasa-raksasa seram lainnya dapat dilihat dalam bentuk Luwing (Kaki seribu), Belalang, Kinjeng (Capung), Undur-undur serta spesies Semut.

Juga rupa bentuk nyamuk nan menakutkan itu. Serta ragam rupa bentuk raksasa lain yang lebih berbahaya yang kemudian semakin diperkecil sampai hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Itulah yang kemudian kita sebut sebagai virus maupun hama penyakit.

Sedangkan kepada para raksasa yang dulu menolak diperkecil ukurannya, Tuhan pun menempatkannya di ruang dunia dua dimensi dalam gambar-gambar pustaka kenangan. Sebagai bahan kajian ilmu pengetahuan. Atau pun dalam memori-memori film bioskop maupun video-video di “platform” ruang-ruang digital jaman sekarang. ##

(Semarang, 17-1-2026)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *