Ketua Muslimat NU Bulusan, Dari Hobi Jadi Cuan
SEMARANG[BahteraJateng] – Ketua Pimpinan Ranting (PR) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kelurahan Bulusan, Siti Umayah, berhasil mengubah hobi berkebun menjadi sumber penghasilan. Ia kini memiliki toko bunga di rumahnya, tepatnya di Jalan Timoho Raya 250, Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.
Perempuan yang akrab disapa Maya ini mengaku telah lama menyukai dunia tanaman hias. Usaha tersebut mulai dirintis sejak akhir masa pandemi Covid-19, sekitar lima tahun lalu.
“Sudah lama hobi merawat tanaman. Waktu pandemi kan banyak di rumah, daripada nganggur, akhirnya iseng pajang tanaman buat dijual,” ujarnya saat ditemui wartawan, Sabtu (17/1).
Toko bunga di depan rumahnya menjual beragam tanaman hias seperti kaktus, bonsai, serta berbagai bibit tanaman buah, antara lain mangga dan kelengkeng. Untuk tanaman sayur, Maya menyediakan bibit terong, tomat, cabai, serta tanaman obat keluarga (toga).
Menariknya, lokasi toko bunga tersebut dulunya merupakan garasi truk pasir milik suaminya.
“Ini dulu garasi truk pasir, karena suami usaha jual pasir,” ungkapnya.
Meski lahan terbatas, Maya tidak menjadikannya sebagai hambatan. Tanaman hias ditata secara vertikal menggunakan rak atau almari, sementara tanaman sayur ditanam di pot.
Terkait penggunaan pupuk, ia mengaku belum sepenuhnya menggunakan pupuk alami. Namun, karena tanaman hias sering cepat terjual sebelum tumbuh besar, perbedaan hasil pemupukan tidak terlalu terlihat.
Perempuan asal Banyumeneng, Mranggen, Kabupaten Demak ini mengaku lebih memilih berwirausaha dibanding bekerja di pabrik atau kantor.
“Saya kerja itu tidak boleh ngoyo. Mau jualan di car free day saja anak-anak tidak boleh,” katanya sambil tersenyum.
Saat ini, Maya sudah memiliki pemasok tetap untuk bibit dan pupuk tanaman. Bibit tanaman hias biasanya ia kulak dari kawasan Bandungan, sementara pupuk didatangkan dari Salatiga.
“Kadang cari sendiri, kadang juga diantar pemasok,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Tembalang, Dwi Supratiwi, mendorong agar para kader Muslimat NU tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga tanpa penghasilan.
“Sekecil apa pun, perempuan harus bisa mandiri dan berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan keluarga,” tegasnya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Tiwi ini, pertanian perkotaan atau urban farming memiliki banyak keunggulan. Selain hemat lahan, media tanam juga bisa memanfaatkan barang bekas.
“Pot tidak harus beli. Untuk cabai bisa pakai galon air atau plastik bekas minyak goreng,” ujarnya.
Hasil dari urban farming, lanjut Tiwi, setidaknya bisa membantu keluarga mengantisipasi lonjakan harga kebutuhan pokok, terutama cabai, yang biasanya naik menjelang tahun baru dan Idul Fitri.
“Kalau tanaman hias, yang penting perawatan. Mulai dari penyiraman, pupuk, sampai pot bisa disiasati dengan barang bekas atau sampah plastik,” pungkasnya.

