Komisi A Dorong Pengelola Rest Area Solo-Jogja Berdayakan UMKM
YOGYAKARTA[BahteraJateng] – Ketua Komisi A Imam Teguh Purnomo mengatakan, tol Solo-Jogja perlu dikawal pembangunannya, termasuk pendukung area tol, setelah Jasa Marga berhasil menyelesaikan pembebasan lahan secara keseluruhan.
“Kami ingin pastikan bahwa keberadaan tol membawa kemajuan, bukan justru beban baru bagi masyarakat,” tegasnya usai kunjungan lapangan ke Kantor Jasa Marga, Yogyakarta, Kamis (3/7) seperti dilansir laman dprd.jatengprov.go.id.

Menurut Imam, tol Solo-Jogja bukan hanya sekadar jalur transportasi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi regional. Keberadaan rest area, kontribusi KSBU dan dukungan UMKM menjadi elemen penting dari pengembangan proyek ini.
“Dengan seluruh progres yang berjalan positif, publik kini menunggu kapan resmi tol ini dibuka secara penuh dan semua pihak berharap tidak ada kendala teknis maupun administratif yang menghambat proses tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, anggota Komisi A Soenarno menyampaikan masalah pertanahan sudah selesai. Ada yang melalui skema sewa, ada juga yang dibeli. Semua proses sertifikasi dan pembebasan sudah sesuai aturan.
“Meski di sisi lain pembangunan tol mendorong kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan Pajak Bumi Bangunan (PBB), pihak Jasa Marga memastikan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar tidak memberatkan warga,” kata Soenarno.
Sebelumnya Direktur Jasa Marga Jogja–Solo, Pristy Wahyono melaporkan penyelesaian pembebasan lahan secara keseluruhan dan saat ini tengah fokus membangun sarana pendukung operasional tol.
“Tinggal dua lokasi lagi yang masih dalam proses, karena ada penambahan lahan baru,” ujarnya.
Menurut Pristy, proyek ini sangat spesifik karena melibatkan berbagai regulasi dan badan usaha. Kontribusi dari skema Kerja Sama Badan Usaha (KSBU) cukup besar, dan pada akhirnya akan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Hanya saja untuk kontribusi bagi hasil dari tol ini belum diatur secara spesifik dalam regulasi.
“Masih kita dorong agar ke depan ada skema pembagian hasil yang menguntungkan masyarakat sekitar,” lanjutnya.
Dia sepakat untuk melibatkan sector UMKM lokal sebagai penyewa utama di fasilitas tersebut dan keterlibatan pelaku lokal menjadi bentuk kontribusi sosial dari proyek ini. Sehingga jangan sampai rest area justru dikuasai oleh korporasi besar, namun ada ruang yang adil bagi usaha kecil.
Tak hanya itu, proyek tol Solo-Jogja tetap menjaga aspek lingkungan, termasuk mempertahankan sistem irigasi bagi pertanian lokal, mengingat irigasi adalah hal sensitif di daerah agraris.
“Oleh karena itu, penyesuaian desain dan pembangunan sangat memperhatikan kontur serta jaringan pengairan yang sudah ada sejak lama,” ujarnya.

