Koneksi Buka Peluang Kolaborasi Penelitian Indonesia-Australia
SEMARANG [BahteraJateng]- Sebanyak 19 peneliti dari Indonesia timur berpartisipasi dalam konferensi internasional untuk meningkatkan kapasitas dan platform diseminasi penelitian.
Bootcamp ini digagas oleh Koneksi, inisiasi kemitraan di sektor pengetahuan dan inovasi Australia dan Indonesia melalui Indonesian Regional Science Association (IRSA) 2025 di Semarang.
Knowledge to Policy Unit Manager, Australian Embassy Jakarta, Ria Arief mengapresiasi partisipasi aktif para peneliti dalam konferensi IRSA ini.
“Beragam topik diangkat mulai dari perubahan iklim hingga kebijakan inklusif menunjukkan relevansi riset terhadap tantangan pembangunan di wilayah Indonesia Timur,” kata dia, Selasa (15/7), di Semarang.
Pihaknya berkomitmen terus memperkuat kerja sama Indonesia dan Australia melalui kolaborasi riset mendukung kebijakan berbasis data, inklusif dan berkelanjutan. Dia berharap hasil-hasil penelitian ini dapat berkontribusi nyata bagi produk pengetahuan dan inovasi inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
Melalui bootcamp untuk peningkatan kapasitas dan platform diseminasi penelitian lewat konferensi internasional Indonesian Regional Science Association (IRSA) 2025 di Semarang, KONEKSI berharap, dukungan terhadap penelitian dari para akademisi dapat berkontribusi pada kebijakan pemerintah daerah. Dalam hal ini, isu lingkungan dan perubahan iklim yang berbasis kebutuhan masyarakat berwawasan gender, disabilitas dan inklusif secara sosial (GEDSI).
Belasan peneliti merupakan dari Indonesia timur, peneliti muda, dan penyandang disabilitas berkesempatan berpartisipasi dalam konferensi internasional bertemakan “Localising Smart Economy and Infrastructure for Inclusive Growth and Sustainability.”
Para peneliti tersebut tidak hanya berjejaring bersama para peserta, termasuk pemangku kebijakan, tetapi juga mempresentasikan penelitiannya dalam tiga sesi khusus.
Peneliti Monash University, Herb Feith Indonesian Engagement Centre Welmince Djulete memaparkan, penelitian bertujuan menggali hubungan antara iman, budaya, dan ketahanan iklim melalui pendekatan environmental stewardship atau pengelolaan lingkungan bertanggung jawab. Berdasarkan penelitian ini, Welmince menekankan, pentingnya peran pemimpin agama dan tokoh kepercayaan tradisional untuk secara sadar mengangkat isu perubahan iklim dalam khotbah, pengajaran, dan diskusi di ruang-ruang keagamaan maupun budaya. Hal ini bertujuan mendorong praktik hidup berkelanjutan sebagai bentuk tanggung jawab dalam merawat dan menjaga lingkungan.
Selanjutnya, peneliti dari Rumah Disabilitas Ida Mujtahidah berbagi penelitiannya yang mengeksplorasi bagaimana praktik ekonomi inklusif diwujudkan melalui usaha kreatif berbasis komunitas.
Anggota Jejaring Disabilitas ini mengambil studi kasus Sagata, sebuah usaha mikro di Yogyakarta, yang memposisikan penyandang disabilitas sebagai produsen, bukan sebagai penerima belas kasih, sehingga memperkuat pemberdayaan secara emosional dan ekonomi.
“Ekonomi kreatif sebenarnya bisa menjadi solusi berkelanjutan untuk pembangunan ekonomi, namun sayangnya, penyandang disabilitas masih belum banyak dilibatkan dalam sektor ini,” kata dia.
Ke depannya, ia berharap Sagata dapat menjadi mendorong partisipasi sipil lainnya untuk berkontribusi secara bermakna dalam perekonomian lokal dengan membuka ruang bagi kelompok marjinal.


