Legenda Orang Hutan Nusantara
Ilustrasi.(Meta AI)

Legenda Orang Hutan Nusantara

Catatan Sugayo Jawama
(Wartawan Hutan Jawa sejak 1986)

Tuhan meminta kita untuk selalu menjadi orang-orang yang sabar. Ialah mereka yang senantiasa mengikuti keselarasan irama siklus tatanan alam kehidupan pemberian Nya ini. “Tansah narimo ing panduman,” kata pitutur orang Jawa.

Kehidupan dimaksudkan agar dapat berlangsung selamanya, sehingga seluruh sistem tatanannya telah diatur mengikuti irama siklusnya masing-masing yang saling menopang antar satu dan lainnya (supporting system) menurut azas kekekalan energi.

Dengan demikian itu, seluruh makhluk, baik yang hidup di hutan permukaan daratan maupun yang di dalam lautan di planet, dapat menjalani kehidupannya secara nyaman selaksa keadaan di surga loka.

Kemudian datanglah musim paceklik yang mengakibatkan pengurangan ketersediaan stok bahan pangan. Kedatangan musim paceklik itu sendiri merupakan bagian dari siklus alamiah. Di mana seluruh kawasan tanaman (hutan) sebagai “mesin” produksi pangan secara berkala (periodik) memerlukan masa rehat.

Orang-orang (penghuni) hutan di belahan Bumi Nusantara ini pun mulai mencatat pola siklus paceklik itu. Mereka pun menggambar peta (memetakan) rincian beragam kawasan produksi pangan seraya membangun teritorinya masing-masing.

Namun oleh karena timbulnya perasaan kurang sabar atas diri sekelompok orang, maka muncul pertikaian antar kelompok yang memperebutkan teritori sumber pangan. Terjadilah “bencana peperangan”.

Belajar dari rasa sakit akibat bencana peperangan rebutan sumber pangan, kelompok-kelompok orang ini pun membentuk area sumber pangan mereka masing-masing. Terbentuklah ladang-ladang pertanian tanaman pangan biji-bijian, kerokotan (akar-akaran) serta lahan pekarangan tanaman sumber buah-buahan.

Kayu-kayu hasil tebangan dari kawasan hutan yang ditebang dan dikonversi (alih fungsi) menjadi lahan dudukan (hunian) orang, pun digunakan untuk bahan bangunan rumah-rumah penduduk sehingga terbentuklah kawasan pemukiman.

Seiring meluasnya pertumbuhan daerah pemukiman orang, menyebabkan kian luasnya kawasan hutan beralih fungsi menjadi lahan pendudukan. Akibatnya terjadilah bencana alam banjir dan tanah longsor pada setiap datangnya musim basah.

Bercermin dari keadaaan derita hidup setiap datangnya musim hujan, para tetua pemukiman pun membentuk forum musyawarah seraya memilih orang yang mampu mengatasi masalah bencana alam basah. Ditunjuklah seseorang berpengetahuan luas sebagai koordinator sekaligus pemimpin proyek pembangunan sistem irigasi pertanian dan sanitasi pemukiman.

Sosok ini pun bekerja dengan sekuat tenaga sembari memeras pikiran agar dapat menghasilkan teknologi sistem saluran air yang kokoh sepanjang masa. Terbentuklah jalur-jalur saluran air berlapiskan susunan kepingan batu nan rapi mengikuti kontur tanah sehingga dapat berfungsi optimal dan tahan lama.

Atas keberhasilannya memecahkan masalah ekses air hujan sehingga tetap berguna untuk memelihara kemakmuran hidup segenap penduduk, ia pun ditokohkan masyarakat dan diangkat oleh para tetua pemukiman untuk dijadikan ketua pengatur air dengan sandangan gelar Sinuhun dengan kewenangan penuh mengatur distribusi kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Oleh kedudukannya yang terkemuka sehingga sangat terpandang ini maka ia mendapatkan pula “privilege” istimewa beserta seluruh keluarganya.

Karena tugas mulianya itu pula sang Sinuhun atau Sinuwun lantas meminta rakyatnya agar membangun lumbung-lumbung penampung surplus produksi pangan sebagai cadangan tatkala memasuki musim paceklik.

Kabar perihal suasana kehidupan nan senantiasa penuh kemakmuran oleh terjaganya situasi surplus produksi bahan pangan berkat kehandalan sosok Susuhunan (Sinuhun) atau Sinuwun (karena kemampuan berlebihnya dalam memberikan) atau Sultan (sebutan untuk sosok yang mampu mengatasi kesulitan), ini pun segera mengundang kehadiran para pedagang antar benua (tengkulak). Mereka berdatangan untuk membeli barang kebutuhan yang akan dijual lagi di negara asalnya masing-masing.

Sang Sinuwun pun melayaninya dengan segenap keramahannya. Seraya berusaha untuk memenuhi apapun jenis barang yang diinginkan oleh para tengkulak mancanegara itu. Baik yang masih tersedia atau pun yang pada saat transaksi belum tersedia. Untuk jenis barang permintaan yang kebetulan sedang kosong, Sultan pun, dengan otoritasnya, segera menyuruh rakyatnya agar memproduksinya.

Kurun waktu kehidupan penuh suasana kemakmuran itu berlangsung sangat panjang di masa lalu. Dinasti demi dinasti kerajaan selalu dipimpin oleh sosok-sosok raja yang memahami pola siklus alamiah di planet Bumi ciptaan Nya, ini.

Sampai pada suatu masa, salah satu dinasti kerajaan (Wangsa) seorang rajanya bermaksud mengungkapkan rasa syukur nikmat atas karunia Nya dalam bentuk artefak nyata. Selanjutnya dipilihlah bahan batu, karena diyakini sebagai simbol penanda sifat kekekalan zat Hyang Maha Pencipta, yang dibentuk ulang menjadi susunan monumen pemujaan berupa Candi.
Walhasil, pembangunan monumen batu sebagai ekspresi ungkapan pemujaan dan rasa terimakasih kepada Tuhan ini pun segera saja menjadi trending dan tradisi oleh raja-raja lainnya dan berikutnya.

Akibatnya, permintaan akan bahan batu sebagai pembentuk candi-candi ini menjadi melampaui jumlah ketersediaannya dari tempat – tempat yang mudah dijangkau di lokasi sekitar rencana pembangunan candi.

Oleh sebab itu, Tuhan yang Maha Pemurah pun segera menyuruh Gunung untuk memuntahkan cuilan bebatuan berikut pasir penyubur tanaman, lebih cepat dari jadwal siklusnya, guna memenuhi kebutuhan akan batu dan pasir pelapis kesuburan tanah.

Namun, karena skala cuilan Tuhan adalah sangat banyak dalam ukuran parameter manusia, maka jumlahnya menjadi sangat berlebihan. Malahan sampai dapat mengurug banyak bangunan candi. Bahkan nyaris mengubur seluruh area pemukiman yang ada di sekitarnya.

Orang-orang pun lantas menengarai peristiwa tragis itu karena Bencana Alam Letusan Gunung Berapi.

(Semarang, 05-01-2026)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *