Menikmati Pecel Ulek Keliling di Kawasan Pecinan
SEMARANG [BahteraJateng]- Sebungkus pecel Mbah Yem (Ratmi, 67 tahun) tak hanya soal berbicara perut kenyang melainkan belajar kesetiaan dan keramahan.
Seulas senyuman menyambut pelanggan yang baru saja mematikan kendaraan di pinggiran Jalan Jagalan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Keramahan Mbah Yem semakin berlanjut saat pengunjung mulai duduk di sekitar dunak atau tenggok bambu berisi sayuran dan bumbu lainnya. Lantas, dia meminta untuk menunggu karena masih melayani pelanggan lainnya.

Selama mengulek bumbu dan menyiapkan pesanan, dia mengajak ngobrol pelanggan. Suasana hangat dan kedekatan dengan pelanggan terjalin saat duduk-duduk di pinggir jalan. Uniknya, dia mengingat semua nama pelangaan, keseharian hingga kebiasaan pesanan pelanggan.
“Rata-rata mereka sudah langganan bertahun-tahun, lha piye ga apal (bagaimana tidak hapal),” ungkap perempuan asli Sukoharjo ini, Jumat (10/1).

Dia pun mendapat panggilan Mbak Yem dari salah satu pelanggan biar mudah diingat. Ternyata panggilan tersebut diikuti pelanggan lainnya dan menjadi sepopuler sekarang.
Tangan keriputnya sibuk mengulek sambil bercerita awal mula berjualan pecel. Saat itu Mbak Yem berusia muda sekitar 16 tahun. Ada kejadian lucu mengingat kembali masa mudanya hingga akhirnya berjualan pecel. Dia dipaksa menikah di usia muda dan memilih kabur dari rumah orang tuanya. Begitu lulus SMP memutuskan pindah dan tinggal bersama saudaranya di Semarang. Lantas dia mulai meramu bumbu pecel dan menyiapkan kebutuhan untuk berjualan pecel belajar dari tetangga Solo, sesama penjual.
Dia berjualan berkeliling mengendong dunak dengan mengenakan jarik. Tubuhnya masih terlihat bugar menyusuri Jalan Jagalan hingga Jalan Sebadaran Timur Kawasan Pecinan Semarang. Pecel Mbah Yem hanya bisa dinikmati pagi mulai pukul 09.00 WIB hingga stok habis.
Satu porsi dibanderol Rp10.000 berisi lontong, pecel dan satu gorengan. Pecel Mbah Yem sambelnya diulek langsung saat pembeli memesan. Bumbu diulek halus seperti cabai, bawang, daun jeruk dan terasi. Tingkat kepedasan bisa dipilih sesuai selera pelanggan. Dia tak segan menawari tujuh pedas kepada pelanggan yang memintas pedas. Setelah halus, campuran bumbu kacang akan dicampur dengan sedikit air asam Jawa.
“Mau harga cabai mahal atau murah, harga tetap sama karena di sini jual pecel bukan jual cabai. Rejeki wis ono sing ngatur,” ungkap dia sembari tersenyum.
Keseimbangan rasa gurih, pedas dan sedikit manis berpadu dengan sayuran sudah direbus pas di lidah. Kenikmatan pecel masih ditambah irisan gorengan martabak atau bakwan sayur. Pelanggan masih bisa menambah lauk aneka sate jika masih tersedia.
Di usia senja dengan enam cucu di kampung halaman, Mbak Yem tetap berjualan pecel ulek keliling. Dia belum memiliki keinginan untuk rehat dan masih ingin berjualan selama masih sehat.

