Merti Bumi XI Igirmranak: Merawat Tradisi, Menjaga Alam di Negeri Atas Awan
WONOSOBO[BahteraJateng] – Hamparan lautan awan dengan latar Gunung Sindoro dan Gunung Prau menjadi pemandangan yang mengiringi kemeriahan Merti Bumi Festival XI 2026 di Desa Igirmranak, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
Ribuan warga tumplek blek di lapangan utama desa pada puncak acara pada Minggu (2/8). Sebanyak 200 tenong, tujuh bucu, dan gunungan hasil bumi disiapkan untuk dinikmati bersama sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi, sumber mata air, dan kekayaan alam yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.

Merti Bumi XI digelar sejak 30 Juli hingga 3 Agustus 2026 dengan mengusung tema “Melestarikan Bumi dan Seni Tradisi untuk Kemakmuran Masyarakat.” Festival tahunan tersebut tidak sekadar menjadi ritual budaya, tetapi berkembang sebagai ruang pertemuan antara tradisi, seni, edukasi lingkungan, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Beragam kegiatan digelar selama festival, mulai dari pertunjukan Warok Gataksari, Lengger Krakal Kejajar, Romancoustic, Kongres Mata Air XI, kirab hasil bumi, tenongan, sendratari Merti Bumi, tari kreasi anak-anak, hingga pertunjukan wayang kulit selama dua malam di GOR desa.

Panggung utama diawali dengan sendratari Merti Bumi yang dimainkan warga Desa Igirmranak. Pertunjukan tersebut menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang diwariskan secara turun-temurun.
Ketua Panitia Merti Bumi XI, Tafrihan, yang selama sebelas tahun mengawal pelaksanaan tradisi tersebut, menjelaskan filosofi angka XI atau sewelas. Menurutnya, sewelas dimaknai sebagai “Sejatining Welas”, yakni cinta kasih sejati kepada sesama, gotong royong, kebersamaan, serta kecintaan terhadap alam yang diwujudkan melalui budaya.
“Semangat itulah yang selama ini hidup di Desa Igirmranak. Warga saling mencintai, saling membantu, bergotong royong, dan menjaga alam melalui budaya,” ujarnya.
Tafrihan juga mengaitkan perjalanan Merti Bumi dengan filosofi angka lainnya dalam budaya Jawa. Angka 21 atau selikur dimaknai sebagai “Senenge Lingguh Kursi”, sebuah pengingat bahwa jabatan bukanlah tujuan, melainkan amanah untuk melayani masyarakat. Filosofi tersebut dinilai relevan menjelang pemilihan kepala desa Igirmranak.
Sementara angka 25 atau selawe dimaknai sebagai keharmonisan laki-laki dan perempuan dalam membangun keluarga dan desa. Angka 50 atau seket dikaitkan dengan “senenge kethonan”, sebagai pengingat untuk semakin rajin beribadah. Adapun angka 60 atau sewidak dimaknai sebagai “sejatine wis wayahe tindak”, pengingat bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta dan meninggalkan warisan kebaikan bagi generasi berikutnya.
Tafrihan berharap generasi muda semakin aktif menghadirkan inovasi kreatif sehingga Merti Bumi dapat berkembang dan dikenal lebih luas, termasuk secara nasional.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat. Ia menilai konsistensi masyarakat Igirmranak dalam menjaga tradisi merupakan modal penting untuk membangun desa wisata berkelanjutan.
Fahmi mendorong Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) semakin aktif memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan potensi Desa Igirmranak kepada wisatawan nusantara maupun mancanegara.
“Promosi melalui media sosial perlu terus diperkuat agar potensi Desa Igirmranak semakin dikenal luas,” ujarnya.
Suasana haru kemudian mewarnai sambutan Kepala Desa Igirmranak, Joko Trisadono, yang berpamitan kepada masyarakat setelah menyelesaikan tiga periode kepemimpinannya.
Dengan bahasa Jawa, Joko mengenang perjalanan panjang membangun desa bersama masyarakat. Suasana berubah hening ketika ia menyampaikan pamit. Sejumlah warga tampak tertunduk, seolah berat melepas sosok yang selama ini menjadi panutan dan pamomong masyarakat.
Joko dikenal sebagai salah satu tokoh yang menggagas lahirnya Festival Merti Bumi hingga berkembang menjadi agenda budaya tahunan berskala besar. Di penghujung sambutannya, ia menyerahkan kembali Keris Pusaka Nogo Sosro kepada sesepuh desa sebagai simbol estafet dalam menjaga nilai-nilai luhur warisan leluhur.
Kemeriahan berlanjut melalui penampilan tari Warok yang dibawakan para guru SD Igirmranak bersama sejumlah alumninya. Pertunjukan lintas generasi itu memperlihatkan bahwa seni tradisi masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa bersama atau hastungkoro yang dipimpin Ahmad Bagio sebagai ungkapan syukur atas kelancaran seluruh kegiatan.
Puncak yang paling ditunggu masyarakat pun tiba. Dua ratus tenong, tujuh bucu, dan gunungan hasil bumi dibagikan kepada warga serta pengunjung. Tanpa membedakan usia maupun status sosial, masyarakat duduk bersama menikmati hidangan dalam suasana penuh keakraban.
Setelah itu, warga berebut isi gunungan yang dipercaya membawa berkah dan harapan atas hasil panen yang lebih baik.
Festival masih berlanjut hingga 3 Agustus melalui pentas tari dari tujuh kelompok binaan Sanggar Ngesti Laras. Mereka menampilkan Tari Semut, Tari Gembira, Tari Reno, Tari Payung, Tari Incling Jangget, Tari Kebyok Anting-Anting, dan Tari Rara Ngigel.
Rangkaian festival ditutup dengan pentas wayang kulit selama dua hari dua malam di GOR Desa Igirmranak.
Menjaga Alam, Menghidupkan Desa Wisata
Di balik kemeriahan Merti Bumi, Igirmranak menyimpan potensi wisata yang kuat. Berada di kawasan pegunungan dengan panorama “negeri di atas awan”, desa ini menawarkan pengalaman menikmati matahari terbit, berkemah, trekking, udara sejuk, serta lanskap alam yang masih asri.
Desa Igirmranak juga mengembangkan konsep wisata permakultur, yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan keberlanjutan lingkungan. Konsep tersebut diterapkan melalui pengelolaan pertanian, konservasi mata air, dan pemberdayaan masyarakat.
Karena itu, Merti Bumi XI tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi cermin bagaimana tradisi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian alam dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Dari tenong dan gunungan hasil bumi hingga seni tari dan wayang kulit, setiap rangkaian Merti Bumi menyimpan pesan tentang gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan kesinambungan warisan leluhur.
Di tengah lanskap lautan awan dan Gunung Sindoro-Prau, Desa Igirmranak menunjukkan bahwa pariwisata tidak harus mengorbankan tradisi. Sebaliknya, budaya yang hidup justru dapat menjadi kekuatan untuk memperkenalkan desa kepada dunia.
Merti Bumi bukan sekadar festival. Ia adalah perayaan kehidupan, rasa syukur, dan harmoni—sebuah gambaran tentang desa yang menjaga alam, merawat tradisi, dan menyiapkan warisan bagi generasi berikutnya.

