Pamit di Akhir Pengabdian: Mahasiswa KKN Abdisengon Tutup Program Bimbel dengan Senyum dan Harapan
|

Pamit di Akhir Pengabdian: Mahasiswa KKN Abdisengon Tutup Program Bimbel dengan Senyum dan Harapan

DEMAK[BahteraJateng] – Malam yang bergemilap Bintang disinari Cahaya rembulan dibalik awan putih yang melawan, menyaksikan sebuah perpisahan yang tak ingin buru-buru usai. Di aula Balai Desa Abdisengon yang sederhana, tawa renyah anak-anak berbaur dengan suara haru para mahasiswa.

Hari itu bukan sekadar penutupan program bimbingan belajar (bimbel), melainkan puncak dari ikatan emosional yang telah terjalin erat selama lebih dari sebulan. Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Abdisengon resmi menutup program bimbel gratis mereka dengan penuh senyum, tangis haru, dan sebongkah harapan yang ditinggalkan untuk masa depan desa.

Program bimbel yang menjadi salah satu program unggulan KKN ini bukan sekadar agenda formalitas. Sejak awal kehadiran mereka, para mahasiswa melihat adanya kebutuhan mendesak: banyak anak usia sekolah dasar dan menengah di desa ini yang kesulitan mengikuti pelajaran, terutama setelah jam sekolah usai. Minimnya akses terhadap les privat karena faktor ekonomi serta keterbatasan pendampingan dari orang tua yang mayoritas bekerja sebagai petani, membuat anak-anak sering kali kehilangan arah saat mengerjakan tugas. Di sinilah para mahasiswa hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai kakak, teman, dan teladan.

Setiap malam bada isya’, balai desa yang biasanya sepi berubah menjadi ruang kelas penuh energi. Meja-meja kayu digeser, dan kursi plastik yang berwarna hijau membuat ketenagan dan keributan dalam pembelajaran. Anak-anak datang dengan tas lusuh dan senyum lebar. Mereka tidak hanya belajar matematika atau Pelajaran yang lainnya, tetapi juga belajar bermimpi. Para mahasiswa dengan sabar membimbing mereka satu per satu, memecah kebingungan menjadi pemahaman, menggantikan rasa takut salah dengan keberanian bertanya.

“Awalnya saya kira bimbel ini bakal sepi peminat. Ternyata hari kedua langsung membludak, sampai kami kewalahan,” ujar Alya, salah satu mahasiswa KKN yang akrab disapa “Kak Alya” oleh anak-anak. “Tapi justru di situlah kami merasa dibutuhkan. Lelah hilang begitu melihat mereka antusias.”

Puncaknya adalah hari penutupan itu. Acara dikemas sederhana namun sarat makna. Ada sesi permainan edukatif, pembagian hadiah kecil untuk anak-anak berprestasi dan paling rajin bertanya, serta sesi foto bersama. Namun, momen paling menyentuh adalah ketika anak-anak meneteskan air mata dikarenakan mereka mengetahui kalau hari itu adalah hari terakhir Bimbel dari anak KKN.

Satu per satu kertas kecil itu dibacakan. Suara mereka yang tadinya riuh, pelan-pelan berubah menjadi sendu. “Kak, jangan pulang dulu ya. Aku masih mau belajar sama kakak,” tulis seorang anak dengan tulisan tangan yang masih belum rapi. Selembar lain berbunyi, “Terima kasih sudah sabar. Aku jadi suka matematika sekarang.” Ada pula yang menggambar hati besar dengan tulisan “Kak jangan lupain kita.”
Tangis haru pun pecah. Para mahasiswa berusaha tersenyum, meski mata mereka berkaca-kaca. Mereka tahu, perpisahan ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan baru bagi anak-anak itu untuk terus belajar dan mengejar impian.

Anggota KKN Abdisengon, Kakak Ainur, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seorang siswa yang mengikuti Bimbel. “semoga bimbel yang terakhir dari anak KKN ini, bisa bermanfaat kepada kamu ataupun kepada temanmu yang lain untuk kedepannya jikalau mengahdapi Pelajaran ataupun ujian dikelas,” ujarnya.

Para mahasiswa pun meninggalkan sebuah kotak harapan sederhana di sudut balai desa. Kotak itu berisi modul-modul belajar, buku-buku bacaan, dan daftar rekomendasi metode pembelajaran yang bisa digunakan oleh karang taruna desa untuk melanjutkan kegiatan bimbel secara mandiri. Sebuah ikhtiar kecil agar ilmu yang telah ditanam tidak berhenti tumbuh begitu mereka pergi.

“Kami tidak ingin kehadiran kami di sini hanya meninggalkan kenangan, tapi juga warisan yang bisa dimanfaatkan,” kata gibran, koordinator kelompok KKN. “Kalau boleh berharap, semoga anak-anak Abdisengon tidak pernah berhenti belajar. Mereka punya potensi luar biasa.”

Malam itu berakhir dengan pelukan panjang dan janji untuk saling mendoakan. Anak-anak pulang dengan hati penuh, sementara para mahasiswa kembali ke posko dengan perasaan campur aduk: bangga, haru, dan sedikit kehilangan. Namun di balik semua itu, ada keyakinan bahwa apa yang telah mereka tanam akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar di masa depan.

Di ujung desa, malam makin terang disirani Nur rembulan. Seekor burung terbang melintasi langit Abdisengon, seakan membawa pesan bahwa setiap perpisahan selalu menyisakan ruang untuk harapan yang tak pernah usai.

Sumber : Ainur mahasiswa KKN MIT 126 UIN Walisongo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *