Orkestra Musik Hutan dengan Vokalis Manusia
Oleh: Sugayo Jawama
(Wartawan Hutan Jawa sejak 1986)
Sesungguhnya Tuhan menciptakan Bumi sebagai pentas kolosal (akbar), pertunjukan drama musikal yang menggemakan lagu-lagu pujian kepada -Nya, mengikuti waktu perjalanan planet Bumi di sepanjang rute putaran galaksinya, di seantero penjuru alam raya.
Laksana rombongan gerobak pengamen (dari kata mengamini) yang berkeliling ke setiap penjuru sudut demi sudut dalam deretan gang-gang perumahan jagat raya.
Dengan seluruh tetumbuhan hutan yang disiapkan sebagai instrumen musik pengiringnya. Beserta segala suara hewan selaku backing vocalnya.
Kemudian manusia dihadirkan-Nya sebagai bintang vocalis utama-Nya.
Sebelum ditampilkan di atas panggung pertunjukan, tentu saja sang bintang telah berlatih beragam lagu dengan aneka langgam (genre) irama musik pengiringnya pula. Pun kepada para “species” hewan yang telah disiapkan untuk peranan “backing vocal”. Juga demikian dengan segenap jenis tetumbuhan, yang telah disetel sesuai nada-nada yang dapat dibunyikannya.
Khusus kepada manusia selaku user (pengguna) aneka alunan (genre) irama musik dan suara vocal pengiring (backing)- nya, barang tentu telah diajarkan untuk merawat aneka bentuk alat musik-Nya. Serta senantiasa memelihara suasana harmonis dalam berinteraksi dengan jajaran pengiring suara vokalnya.
**
Akan tertapi entah mengapa. Kini situasinya kian tampak semakin banyak orang yang melupakan fungsi harmoni dan tujuan penciptaan planet ini?!.
Adakah oleh karena kini manusia telah salah kaprah arah kesibukannya?! Dari yang seharusnya mengarah untuk memperkaya pengetahuan ekologi tetapi justru tergelincir ke arah tujuan timbunan harta ekonomi?
Padahal sekaya-kayanya pencapaian perolehan timbunan harta ekonomi akan dengan mudah lenyap tersapu oleh gelombang kehancuran sistem ekologi. Suatu keniscayaan yang sekarang sedang tampak menggejala di banyak bagian belahan Bumi ini.
Orang-orang sibuk bekerja guna membangun kekayaan harta ekonomi. Demi mengangkat prestis dan privilis pribadi dirinya agar dapat melampaui posisi orang selainnya.
Negara-negara sibuk berkutat menemukan galian sistem ekonomi yang dipandang paling cepat dapat meraih harta ekonomi terbanyak. Demi mengumpulkan cadangan nilai ekonomi terbesar.
Mereka mengabaikan keseimbangan pola kelestarian sistem ekologi, sehingga kian menyusutlah ruang “eukumene” (hamparan lahan yang layak dihuni tubuh berdaging) yang adalah kawasan utama terjadinya kehidupan kita ini.
Mereka melupakan seruan peringatan Tuhan melalui gambaran hamparan padang pasir sebagai pertanda keadaan siklus jaman kehidupan daratan yang menjelang berakhir?
Negara-negara saling berebut meraih supremasi puncak kekuatan ekonomi tertingginya demi mengatasi negara lain yang dinilai seakan sebagai pesaingnya (competitor). Padahal seyogyanya mereka saling berlomba keunggulan cara merawat lapak ekologis sesuai letak geografis masing-masing, sehingga prinsip mekanika saling topang (supporting system) dapat senantiasa berfungsi secara alamiah..
Karena sesungguhnya letak geografis masing-masing negara merupakan bagian dari sebaran wilayah eksponen ekologi di dalam kesatuan bangunan (struktur) ekosistem (sistem ekologi) planet ini.
***
Memusnahkan seluruh pepohonan sama saja dengan menghilangkan aneka instrumen musik alam.
Memusnahkan semua jenis hewan sama dengan membunuh kelompok paduan suara vocal pengiring nyanyian.
Hamparan pasir gurun, yang tersisa dari ketiadaan pohon-pohon dan beragam hewan, ibarat karpet panggung pertunjukan yang hanya menyisakan para penari dan penyanyinya saja. Tanpa alunan suara musik maupun paduan suara backing vocal pengiringnya Sayangnya situasi tragis itu justru memunculkan anggapan sekelompok orang yang mengharamkan musik?!. Sebuah keadaan salah tafsir yang dapat berakibat fatal.
Kitab-kitab Bumi yang terbit dari daerah gurun menyebutkan kondisi seperti tersebut adalah gambaran akhir jaman. Seraya berangan-angan dan mengidamkan, andaikata kelak pada kehidupan mendatang dapat menggapai kehidupan surgawi laksana di hutan luas yang berkelimpahan serbaneka bebuahan. Setelah masa penderitaan dunia sekarang benar-benar berakhir. Mungkin karena mereka memandang mustahil untuk dapat memulihkan gurun pasir kembali berhutan seperti yang masih ada di bagian belahan Bumi lainnya.
Dalam pagelaran wayang yang diiringi musik gamelan, orang mengambil logam seperlunya untuk gamelan. Memanfaatkan kayu seperlunya untuk tatakan pentas gamelan.
Seperti halnya dengan suasana pentas opera yang diiringi musik orkestra yang lengkap, pertunjukan musik gamelan seakan menggambarkan keadaan hutan yang masih komplet.
Sedangkan pentas musik band berirama orkes melayu bergenre dangdut koplo ibarat pesta kegembiraan dalam desahan siuran angin sepoi di sela-sela tegakan pohon senyiur (kelapa).
Para penontonnya, yang hendak melupakan kesedihan, karena sejauh mata memandang seantero hutan tinggal tersisa pepohonan bergenre kelapa, pun menenggak seteguk demi seteguk cawan berisi tuak buah pohon aren yang merupakan salah satu jenis pohon bergenre kelapa pula.
****
Tarian musik sufi menggambarkan akhir jaman karena hutan sudah gundul. Tinggal tersisa padang pasir. Bernyanyi sambil menari-nari sendirian di hamparan pasir gurun dengan tiruan gerakan rotasi planet ini Seraya menggemakan seruan tentang jaman yang akan dapat segera berakhir. Sembari memohonkan berkah dan ampunan atas dosa-dosa mereka yang telah menghabisi beragam pepohonan dan aneka binatang.
Berharap akan ada seseorang yang mampu memulihkannya. Juga harapan untuk dapat sampai ke sebidang tanah baru seperti yang dijanjikan Tuhan. Padahal tanah baru itu adalah tanah yang sekarang mereka injak juga. Jikalau sudah dihutankan lagi.
Namun ironisnya pula, mereka yang masih diberikan kesempatan hidup di belahan Bumi yang laksana kepingan sisa surga ini tidak kunjung mampu memahami makna sejati suara seruan-seruan dari padang pasir.
Mereka semakin asyik mengkonsumsi daging-daging “backing vokalnya” secara tanpa kendali. Kian giat menjual alat-alat musiknya tanpa upaya bertanam penggantinya lagi. Bahkan pasir, tanah dan bebatuan sebagai alas pentasnya pun sudah mulai dilahapnya.
Tanpa rasa takut jikalau setiap saat Tuhan dapat menggulungnya seketika. Mengembalikan lagi, dari keadaan alam nyata ini yang kemudian disimpan-Nya sebagai alam konsep, seperti pada awal saat rancangan-Nya dahulu. Berikut suara lagu- lagu dan musik pujian yang akan diamankan dalam kepingan (chipset) “artificial intelijen” (AI) Nya.
Itu sangat mungkin terjadi apabila Tuhan merasa bahwa kerusakan yang telah terjadi memerlukan upaya perbaikan total sehingga tidak cukup hanya dengan perbaikan ringan. Akan lebih cepat buat Tuhan untuk memusnahkannya saja dan lalu dibikinkan yang baru. Dengan tampilan penyanyi pilihan-Nya yang lain lagi. Karena kita dinilai telah gagal memanfaatkan peluang pekerjaan sebagai vocalis -Nya. ###///
(Semarang, 11-01-2026)


Pencerahan yang luar biasa, semoga banyak generasi yang mulai bergerak hati nuraninya, untuk jangan sampai terjebak pada LAPAK EKONOMI, TAPI LEBIH MEMILIKI VISI LAPAK EKOLOGI