Paguyuban Kadang Sedulur Sikep Samin Surosentiko Gelar Kirab Cemani Nerusna Lakon
BLORA[BahteraJateng] – Paguyuban Kadang Sedulur Sikep Samin Surosentiko menggelar kegiatan Kirab Cemani Nerusna Lakon njumbuhno artikel, partikel, pengucap, kelakuan di Pendopo Pangayoman, Dukuh Ploso Etan, Desa Kediren, Kecamatan Randublatung pada Rabu (1/7).
Kegiatan yang dipimpin langsung Koordinator Acara sekaligus tokoh Kadang Sedulur Sikep, Gunretno ini dihadiri ratusan Sedulur Sikep dari berbagai daerah dan merupakan bentuk perjuangan untuk meneruskan laku hidup yang diwariskan Samin Surosentiko kepada generasi berikutnya.
Gunretno menyampaikan bahwa dalam ajaran Sedulur Sikep, setiap manusia tidak hanya menjalani kehidupan, tetapi juga bertugas memetik kaweruh (pengetahuan, red.) dari pengalaman hidupnya.
“Lakon tidak sekedar dimaknai sebagai peran yang dimainkan, melainkan tanggung jawab hidup yang terus dijalankan dan diteruskan,” ujar Gunretno pada BahteraJateng, seusai acara.
Gunretno menambahkan terkait tema acara yang diselenggarakan Kadang Sikep setiap bulan Muharam ini.
“Tema Njumbuhno artikel, partikel, pengucap, kelakuan, mengajak setiap orang untuk menyelaraskan empat dasar laku Sedulur Sikep dalam kehidupan sehari-hari,” lanjut Gunretno.
Lebih lanjut Gunretno menjabarkan keempat dasar laku Sedulur Sikep tersebut.
“Artikel itu angan-angan atau niat yang tumbuh dalam hati, Partikel itu proses menimbang atau mengolah, Pengucap adalah kejujuran lisan yang lahir dalam hati dan dapat dipertanggung jawabkan, dan Kelakuan merupakan wujud nyata dari apa yang dipikirkan dan diucapkan,” ujar Gunretno.
Dalam tradisi Sedulur Sikep, kirab memiliki arti perjalanan bersama untuk merawat keselarasan, sedangkan ayam Cemani yang berwarna hitam pekat sebagai lambang kesederhanaan, keteguhan, kerendahan hati, tidak serakah, dan kelanggengan dalam menjaga ajaran hidup.
Melalui semangat “Salam Bumiaji, Aku Jaman”, Kirab Cemani Nerusna Lakon menjadi penegasan bahwa perubahan zaman tidak boleh membuat manusia berhenti dari akar kebijaksanaannya.
“Justru setiap generasi dipanggil untuk menemukan lakonnya sendiri menyelaraskan pikiran, pertimbangan, ucapan, dan perbuatannya lalu meneruskannya sebagai bagian dari perjuangan bersama membangun peradaban yang adil, rukun, dan selaras dengan alam,” pungkas Gunretno.(day)


