Owner Vantera, Tiopilus
|

Pengusaha Muda Ini Tercetus Ide Bisnis Saat Menunggu Panggilan Kerja

SEMARANG [BahteraJateng]- Brand Vantera, salah satu brand lokal, berkembang pesat di tengah persaingan industri fesyen dan footwear. Pemilik Tiopilus merintis usaha modal nekad dan keberanian untuk belajar dan semangat pantang menyerah di usia 21 tahun.

“Gagasan untuk mendirikan Vantera muncul saat saya baru lulus kuliah di usia 21 tahun. Waktu itu masih masa pandemi Covid-19, dan mencari pekerjaan sebagai fresh graduate terasa sangat sulit,” kata Owner Vantera, Tiopilus, Selasa (6/5).

Saat itu, dia mengalami cedera sehingga semakin sulit untuk mendapatkan panggilan pekerjaan. Dia hanya menunggu dan menunggu sehingga berubah pikiran untuk mencoba usaha sendiri. Dia tercetus ide memproduksi sandal pria dan meluncurkan bisnis Vantera karena memiliki kenalan di bidang konveksi.

“Sejak awal, Vantera dibangun mulai dari mimpi sederhana yaitu terus bergerak maju di tengah keterbatasan. Tanpa ekspektasi tinggi, bisnis ini dimulai dari skala kecil dan proses serba mandiri, mulai dari mencari konveksi cocok, belajar memahami bahan hingga mengurus produksi sendiri,” kata dia.

Dia mengakui, belajar bisnis secara otodidak dan sepatu bukan hal mudah dipahami. Kuncinya adalah konsisten dan mau belajar pasti akan berhasil. Setelah melalui riset matang dan memastikan setiap detail produk memiliki kualitas yang tepat, lahir Vantera sebagai brand sandal pria dengan karakter desain simpel, berkualitas dan sesuai gaya hidup anak muda.

“Sebagai pengusaha muda, saya sering dipandang sebelah mata, apalagi saat harus bekerja sama dengan orang-orang yang jauh lebih berpengalaman. Tapi justru itu yang memacu saya untuk terus konsisten dan membuktikan kualitas produk Vantera,” kata dia.

Dalam membangun Vantera, ia berusaha memahami benar selera dan kebutuhan konsumen yaitu anak muda tidak hanya mencari desain menarik, tetapi juga produk fungsional dan tahan lama. Meski terbilang baru di industri, Vantera berani tampil dengan karakter dan identitas mereka sendiri.

Salah satu ciri khas menjadi nilai lebih adalah perhatian pada detail, mulai dari desain khusus di bagian sol hingga pemilihan bahan dari pabrik lokal dikerjakan oleh tangan-tangan muda berbakat. Lokasi produksi pun menjelma menjadi pusat kreativitas sekaligus rumah bagi tim kecil Vantera yang terus berkembang.

Memasuki tahun ke-3, Vantera tidak berhenti berinovasi di sandal pria saja. Langkah ekspansi mulai diarahkan ke produk lainnya menjadi incaran para konsumen pria, seperti sepatu dan tas.

“Saya ingin Vantera tidak hanya menjadi sebuah brand saja. Saya ingin Vantera bisa jadi ruang belajar, berkembang, dan berkontribusi yang inspiratif bagi banyak orang, terutama anak-anak muda yang sedang mencari arah,” tegas Tiopilus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *