Perubahan Pemanfaatan Ruang DAS Babon dan Dampaknya terhadap Sistem Hidrologi Kota Semarang
Oleh: Agus Ricky Hartanto
“Kota Semarang, dengan topografi bervariasi, terpengaruh perubahan pemanfaatan ruang di hulu DAS Babon yang meningkatkan risiko banjir hilir. Penelitian diperlukan untuk mengendalikan ruang dan konservasi lahan”.

Kota Semarang, sebagai salah satu kota besar di pesisir utara Pulau Jawa, memiliki topografi yang bervariasi mulai dari daerah perbukitan di bagian selatan hingga dataran rendah di bagian utara. Variasi topografi ini menyebabkan sistem hidrologi kota sangat dipengaruhi oleh aktivitas di wilayah hulu, khususnya di Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Babon. DAS Babon memiliki peranan penting dalam mengalirkan air dari perbukitan menuju wilayah hilir dan pesisir Kota Semarang.
Dampak Perubahan Pemanfaatan Ruang di Kawasan Hulu DAS Babon

Dalam beberapa dekade terakhir, perubahan pemanfaatan ruang di kawasan hulu DAS Babon telah mengganggu fungsi alami daerah tangkapan air.
Kawasan hulu DAS Babon berfungsi sebagai daerah resapan air dan pengendali limpasan permukaan secara alami. Namun, percepatan pembangunan menyebabkan alih fungsi lahan dari hutan dan kebun menjadi permukiman, infrastruktur, dan kawasan industri.
Kondisi ini mengurangi area infiltrasi, sehingga meningkatkan debit puncak sungai saat hujan deras. Akibatnya, wilayah hilir seperti Kecamatan Genuk, Pedurungan, Tembalang, dan Semarang Utara mengalami genangan dan banjir secara berkala. Faktor fisik seperti kemiringan lereng, jenis tanah yang mudah jenuh air, dan pengurangan ruang terbuka hijau memperburuk kondisi hidrologi DAS Babon.
Selain itu, sistem drainase perkotaan yang belum terintegrasi dengan baik mempercepat meluapnya air saat hujan deras dan pasang laut terjadi bersamaan.
Teori dan Konsep Pemanfaatan Ruang serta Fungsi DAS
Perubahan penggunaan lahan, terutama konversi hutan dan lahan pertanian menjadi kawasan permukiman atau industri, menurunkan kemampuan tanah untuk menyerap air hujan sehingga meningkatkan aliran permukaan secara signifikan.
Pemanfaatan ruang dilakukan untuk berbagai kebutuhan, seperti permukiman, pertanian, dan industri (Von Thünen, 1826), yang kemudian dikembangkan oleh Alonso (1964) dengan mempertimbangkan faktor ekonomi, aksesibilitas, dan kebutuhan sosial. Keseimbangan ekologis dan hidrologi DAS sangat bergantung pada tutupan lahan, curah hujan, dan topografi. Penurunan tutupan vegetasi menyebabkan menurunnya infiltrasi dan meningkatnya limpasan permukaan, sehingga meningkatkan risiko banjir dengan debit puncak yang lebih besar.
Proses hidrologi seperti evaporasi, kondensasi, presipitasi, infiltrasi, dan aliran permukaan menjelaskan siklus air di DAS (Chow et al., 1988). DAS adalah wilayah yang dibatasi oleh punggung bukit yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air hujan. Fungsi ini dipengaruhi oleh faktor biofisik dan aktivitas manusia (Asdak, 2002).
Masalah Degradasi dan Pentingnya Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung kawasan hulu menyebabkan degradasi DAS, erosi, sedimentasi, dan banjir di hilir. Oleh karena itu, pengendalian pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang sangat penting dengan mempertimbangkan fungsi lindung dan fungsi budidaya berdasar UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Ketika pengendalian tidak efektif, terjadi konflik pemanfaatan ruang, misalnya pembangunan di kawasan resapan yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir. Pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan hulu menjadi langkah strategis utama untuk mengurangi risiko banjir.
Strategi Pengendalian dan Konservasi Kawasan Hulu
Beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko banjir di wilayah hilir antara lain penataan kembali kawasan lindung, penerapan konsep green infrastructure, pembangunan sumur resapan, dan pengembangan ruang terbuka hijau. Langkah-langkah ini dapat meningkatkan fungsi resapan air dan mengendalikan limpasan permukaan sehingga menurunkan debit puncak air sungai saat hujan deras.
Perlunya Penelitian Hulu DAS Babon
Perlunya penelitian yang bertujuan menganalisis hubungan antara pola pemanfaatan ruang di kawasan hulu DAS Babon dengan frekuensi dan intensitas kejadian banjir di Kota Semarang.
Melalui penelitian ini, diharapkan diperoleh pemahaman mendalam mengenai dampak perubahan tata guna lahan di wilayah hulu terhadap dinamika hidrologi dan risiko banjir di wilayah hilir.
Sasaran penelitian ini meliputi beberapa hal, yaitu: menganalisis kondisi eksisting dan perubahan tata guna lahan di kawasan hulu DAS Babon dalam kurun waktu tertentu; mengidentifikasi karakteristik fisik wilayah hulu, seperti topografi, jenis tanah, dan tutupan vegetasi yang memengaruhi aliran permukaan; menilai hubungan antara perubahan pemanfaatan ruang di kawasan hulu dengan peningkatan debit sungai serta kejadian banjir di wilayah tengah dan hilir DAS Babon; serta merumuskan rekomendasi pengendalian pemanfaatan ruang dan strategi konservasi lahan di kawasan hulu untuk mengurangi risiko banjir di Kota Semarang.
Kesimpulan
Kota Semarang memiliki topografi variatif dengan DAS Babon sebagai wilayah hulu krusial dalam mengalirkan air ke hilir. Perubahan pemanfaatan ruang di hulu yang mengurangi fungsi resapan menyebabkan banjir di hilir. Penelitian diperlukan untuk memahami pengaruh perubahan tata guna lahan di DAS Babon terhadap banjir, guna merumuskan strategi pengendalian ruang dan konservasi yang efektif.
(Agus Ricky Hartanto, S.T. adalah Mahasiswa Program Studi S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang.)

