Dialog Kebudayaan Pajatan Budaya Swara Kesadaran
Penyerahan simbolis peta kuno Semarang oleh Bukhori Masruri kepada Ketua Karang Taruna Kelurahan Pandansari dalam Pajatan Budaya Swara Kesadaran, Sabtu (8/8).(Dok. AS)
|

Peta Semarang 1695 Ungkap Nama Terboyo, Sejarah Kota Semarang Didorong untuk Diteliti Ulang

SEMARANG[BahteraJateng] — Peta kuno Semarang bertahun 1695 membuka pertanyaan baru mengenai sejarah kawasan pesisir Kota Semarang. Dalam peta tersebut, nama Terboyo telah tercatat, jauh sebelum narasi tentang tokoh Kanjeng Terboyo Surya Hadi Menggolo Lima yang selama ini berkembang di masyarakat.

Temuan itu disampaikan tenaga pemugaran cagar budaya dan pemerhati sejarah, Bukhori Masruri, dalam Dialog Kebudayaan Pajatan Budaya Swara Kesadaran di Jalan Pandansari 3, Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang pada Sabtu (8/8) malam.

Dalam kegiatan tersebut, Bukhori membawa peta lama koleksi National Archives tahun 1695 karya M.D. Roy. Peta yang menggambarkan kawasan pesisir Semarang pada masa kolonial itu kemudian diserahterimakan secara simbolis kepada Ketua Karang Taruna Kelurahan Pandansari.

Menurut Bukhori, kemunculan nama Terboyo dalam peta tersebut menjadi temuan menarik yang perlu dikaji lebih lanjut. Sebab, catatan tersebut menunjukkan bahwa nama Terboyo telah dikenal setidaknya pada 1695.

“Nama Terboyo itu sudah muncul dalam arsip tahun 1695. Temuan semacam itu menunjukkan bahwa sejarah lokal masih memiliki banyak ruang untuk diteliti kembali,” ujar Bukhori.

Ia mengatakan, fakta tersebut menarik karena narasi mengenai Terboyo selama ini kerap dikaitkan dengan Kanjeng Terboyo Surya Hadi Menggolo Lima yang disebut hidup sekitar awal abad ke-18.

Kemunculan nama Terboyo dalam dokumen yang lebih tua, kata Bukhori, tidak serta-merta membantah narasi yang telah berkembang. Namun, temuan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk menguji kembali kronologi dan perkembangan sejarah lokal berdasarkan sumber primer.

“Arsip menjadi pintu untuk menguji, memperkaya, bahkan mendefinisikan ulang narasi sejarah yang selama ini berkembang di masyarakat,” katanya.

Bukhori menilai akses masyarakat terhadap arsip menjadi bagian penting dalam upaya membaca ulang sejarah. Selama ini, masyarakat lebih sering menerima sejarah dalam bentuk narasi yang telah disusun, tanpa memiliki kesempatan melihat sumber sejarah secara langsung.

“Masyarakat itu kesulitan mengakses arsip-arsip tentang masa lalu. Padahal kesejarahan itu berbicara tentang identitas masyarakat. Jadi perlu disadarkan untuk membaca ulang historiografi kita, untuk mendefinisikan ulang identitas siapa kita,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat perlu didorong untuk tidak hanya menjadi objek dalam narasi sejarah, tetapi ikut memahami dan mendiskusikan sumber-sumber yang membentuk cerita tentang lingkungan tempat mereka hidup.

Peta Semarang 1695 tersebut juga memperlihatkan bahwa sejarah kota tidak dapat dilepaskan dari keberagaman masyarakatnya. Semarang sejak masa lalu menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok etnis.

Bukhori mengatakan, kondisi tersebut penting dibaca kembali di tengah munculnya sentimen berbasis etnis di era media sosial. Sejarah, menurutnya, bukan untuk menghidupkan kembali konflik masa lalu, melainkan memahami bagaimana relasi sosial terbentuk.

“Karena itu, membaca sejarah menjadi penting bukan untuk menghidupkan kembali konflik masa lalu, tetapi justru untuk memahami bagaimana konflik sosial terbentuk dan bagaimana masyarakat dapat membangun kembali kesadaran hidup bersama,” katanya.

Sementara itu, budayawan Jamal menilai temuan dan pembacaan terhadap arsip sejarah semestinya menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat.

Ia menilai masyarakat harus mendapatkan ruang untuk mengenali sejarah dan budayanya sendiri, bukan sekadar menerima definisi identitas dari pihak lain.

“Masyarakat seolah-olah tidak punya kesempatan untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Mudah-mudahan, yang diinisiasi teman-teman Swara Kesadaran ini bisa menumbuhkan upaya organik dari masyarakat, untuk mengenal budayanya sendiri, identitasnya sendiri, kemudian mendefinisikan dirinya sendiri secara organik,” tutur Jamal.

Peta kuno Semarang 1695 akhirnya tidak hanya menjadi benda bersejarah, tetapi juga pemantik untuk membuka kembali penelitian mengenai sejarah lokal, termasuk asal-usul dan perkembangan nama Terboyo.

Temuan tersebut sekaligus menunjukkan masih terbukanya ruang penelitian sejarah Semarang dengan mempertemukan narasi yang berkembang di masyarakat dengan sumber-sumber arsip yang lebih tua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *