PDAM Tirta Moedal
Direktur PDAM Tirta Moedal Semarang, Yudi Indarto bersama Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Artanto, dalam konferensi pers di Reservoir Siranda, Jumat (22/8).(BahteraJateng)
| | |

Reservoir Siranda Tak Difungsikan Sejak Maret, Polisi Periksa CCTV dan 8 Saksi

SEMARANG[BahteraJateng] – Direktur PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Yudi Indarto, menegaskan Reservoir Siranda berkapasitas 3.750 meter kubik sebenarnya sudah tidak difungsikan sejak Maret 2025.

Fasilitas tersebut terbagi dalam dua sekat masing-masing 1.850 meter kubik, namun hanya satu yang pernah dipakai sebagai cadangan.


“Pada 5 Juli sempat dipakai satu sekat untuk backup sekitar 1.850 kubik, hanya melayani 3.000 pelanggan atau 1,5 persen dari total 200 ribu pelanggan. Sejak Maret sebenarnya sudah tidak kami gunakan lagi,” ujar Yudi kepada BahteraJateng pada Jumat (22/8).

Menurutnya, reservoir terakhir dipakai 5 Juli 2025 selama 7–8 jam untuk mendukung perbaikan jaringan di Semarang Barat. Setelah itu, aliran kembali dihentikan dan reservoir kembali dalam posisi tidak aktif.


Meski tidak beroperasi harian, reservoir tetap berisi air dengan ketinggian 1–2 meter agar bangunan tidak kosong. Air cadangan tersebut dibuang secara berkala sekaligus diperiksa kualitasnya.

Seusai penemuan mayat, reservoir dikosongkan, dibersihkan, lalu diisi kembali untuk pengambilan sampel laboratorium.

“Hasil laboratorium sampai sekarang masih menunggu,” jelas Direktur PDAM Tirta Moedal.

Yudi menambahkan, hampir tidak ada akses ke dalam reservoir selain celah angin-angin. Namun salah satu celah diketahui dalam kondisi rusak saat jenazah ditemukan.

“Nanti biar kepolisian yang menjelaskan bagaimana korban bisa masuk,” katanya.

Ia mengakui pengawasan reservoir tidak seketat fasilitas distribusi harian karena hanya difungsikan sebagai cadangan. Pemeriksaan menyeluruh baru dilakukan saat fasilitas hendak dioperasikan kembali.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Artanto mengatakan penyelidikan penyebab kematian korban masih berlangsung. Hingga kini, polisi telah memeriksa delapan saksi.

“Kami sudah mendapatkan delapan saksi yang dapat kami gunakan untuk bahan penyelidikan,” ujarnya.

Polisi juga memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi. Dari rekaman, pada malam 30 Juli 2025 korban terlihat datang dengan sepeda motor berboncengan tiga bersama dua rekannya.

“Sesampainya di dekat lokasi, korban diturunkan dan ditinggal oleh kedua rekannya. Korban yang masih sempoyongan sempat terlihat berjalan di sekitar lokasi hingga kemudian hilang dari pantauan CCTV,” jelas Artanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *