Minyak Jelantah Tak Lagi Terbuang, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Ciptakan Lilin Aromaterapi
DEMAK[BahteraJateng] – Mahasiswa KKN MIT Ke-22 Posko 130 UIN Walisongo Semarang mengadakan kegiatan Pelatihan Pemanfaatan Minyak Jelantah menjadi lilin aromaterapi bersama Ibu-ibu TP PKK, Senin (24/08/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk mengenalkan cara sederhana mengolah limbah rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat.
Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa KKN menjelaskan mengenai pemanfaatan minyak jelantah yang sudah tidak digunakan untuk diolah menjadi lilin aromaterapi, dimana sampah minyak jelantah yang biasanya selalu dibuang kini dapat diolah dan diubah menjadi sebuah karya seni yang memiliki fungsi sebagai pengharum ruangan sekaligus dekorasi rumah.
Pelatihan diawali dengan pengenalan bahan dan alat yang digunakan, bahannya termasuk minyak jelantah, arang, pewangi esensial, stearic acid, dan tali sumbu lilin. Dimulai dengan memasukkan arang kedalam minyak jelantah selama semalaman, kemudian dilanjutkan dengan memanaskan minyak jelantah kedalam panci. Setelah itu, masukkan stearic acid supaya minyak jelantah yang cair tersebut dapat mengeras, lalu masukkan minyak kedalam cetakan dan diakhiri dengan meneteskan pengharum esensial dan tali sumbu lilin.
Hasil lilin yang telah jadi dapat langsung digunakan di dalam ruangan sebagai fungsi pengharum ruangan, dan dari wangi tersebut dapat memberikan efek menenangkan serta relaksasi bagi siapa saja yang menghirupnya. Aroma lembut yang dihasilkan mampu meredakan stres, memperbaiki suasana hati, hingga membantu meningkatkan kualitas tidur.
“Lilin ini dapat digunakan berulang kali, sehingga bisa dimanfaatkan kembali setelah digunakan.” Ujar Ail, Tim KKN Posko 130 UIN Walisongo Semarang.
Ketua PKK Zubaedah turut memberikan tips kepada peserta terkait pewarnaan lilin agar hasilnya lebih menarik. Menurutnya, penggunaan bahan pewarna dapat disesuaikan dengan warna yang diinginkan serta bahan yang mudah ditemukan. Selain itu, Zubaedah juga mengingatkan peserta untuk mencampurkan pewarna saat lilin masih dalam kondisi cair dan diaduk secara merata, guna menghindari warna yang bergumpal atau tidak menyatu sempurna.
“Kalau ingin diberi warna, bisa menggunakan bubuk pewarna dan krayon yang diserut agar warnanya tidak pucat,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang berharap keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan oleh ibu-ibu PKK secara mandiri. Selain mengurangi pembuangan minyak jelantah, kegiatan tersebut juga membuka peluang untuk mengolah limbah menjadi produk yang fungsional.
Sumber : Nayla Ayu Salsabilla (KKN UIN Walisongo).

