Merawat Tradisi Nyadran : Warga Gedangan Mempunyai Cara Menjaganya
Lebih dari sekedar membersihkan makam saja, tradisi nyadran menjadi ruang pertemuan masyarakat dari kalangan tua hingga muda, serta menjadi simbolmrasa syukur atas warisa leluruh waktu ke waktu. [Foto: Fok Istimewa]
| |

Merawat Tradisi Nyadran : Warga Gedangan Mempunyai Cara Menjaganya

SEMARANG[BahteraJateng] –  Tradisi tahunan yang terus berkembang dan dirwat oleh masyarakat dari tahun ke tahun bukan sekedar rutinitas kalender Jawa atau sekedar ritual formal, melainkan sebuat manifestasi spiritual dan sosial dalam menjaga kerukunan, keharmonisan, ketentraman sasama warga dan sekitarnya serta dengan Sang Penciptanya.

Pada arus modernisasi, globalisasi, dan digitalisasi meningkat pesat waktu ke waktu yang mengubah kehidupan masyarakat modern, konsistensi warga menyelenggarakan acara Nyadran setiap tahunnya menajdi bukti nyata bahwa kuatnya budaya Nusantara yang melekat di masyarakat. Melakkui tradisi nyadran ini, masyarakat diajak untuk menyucikan niat, membersihkan jiwa dari berbagai penyakit hati, sekaligus mempererat tali silaturahmi yang mungkin sempet merenggang karena kesibukan warga sehari-hari.

Akar Historis dan Akulturasi Filosofis di Balik Nyadran

Secara etimologis dan historis, kata Nyadran berasal darri bahasa Sankerta Sraddha, yang memiliki arti keyakinan, penghormattan, keikhlasan, atau acara penghambaan, Jejak sejarah mencatat bahwa ritual ini telah ada pada zaman Kerajaan Mataram Kuno sebagai wuujud rasa hormat dan bakt kepada arwah para leluhur yang telah berpulang. Seiring berjalannya waktu dan masuknya ajaran Islam ke Tanah Jawa para Wali Songo dengan kearifan lokalnya melakukan akulturasi budaya secara menyeluruh dengan damai dan harmonis.

Filosofi mendasar dari upacara nyadran terletak pada ajaran kesadaran asal-usu keberadaan manusia atau dalam bahasa jawanya dikenal dalam sebagai sangkan paraning dumadi. Ketika warga duduk bersama di sekitar pelataran makam leluhur sembari memotong rumput liar dan membersihkan batu nisan, mereka secara tidak langsung diajak untuk merenungi apa arti kehidupan. Membersihkan pemakaman menjadi simbol dari pembersihan batin, yang diaman setiap manusia mengingat kehidupan manusia hanya sementara dan setiap jiwa kembali ke Sang Maha Pencipta. Oleh karena itu, Nyadran memicu motivasi moral bagi masyarakat untuk selalu menanam kebaikan, menjaga kedamaian, dan berbuat jujur selama masih diberi kesempatan hidup.

Dinamika dan Tahapan Rangkaian Kegiatan Nyadran

Nyadran bukan hanya sebuah acara yang selesai hanya hitugan jam saja, melainkan rangkaian tahapan sosial dan religiusitas yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat desa, mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, hingga para seseepuh desa. Setiap acara memiliki dinamika sosial yang memperkuat semangat gotong royong dan kekeluargaan antar sesama warga.

Rangkaian acara diawali mulai pagi hari ketika seluruh warga mendatangi area pemakaman umum desa dengan membawa peralatan seperti cangkul, sapu lidi, dan sabit. Warga bergotong royong membersihkan rumput liar, memungut daun-daun kering di pemakaman, mengecet ulang batu nisa yang belum rapi, dan merapikan jalan setapak area pemakaman. Kegiatan ini menjadi simbol penghormatan kepada para pendahulu.

Setelah area pemakaman bersih, seluruh warga duduk bersama di atas tikar yang sudah disediakan sekitar makan atau balai desa, pembacaan doa, yasin, hingga tahlil dipimpin oleh tokoh agama setempat para warga memanjatkan doa, membacakan ssurah yasin serta kalimat tahlil bersama-sama. Doa-doa yang dilantunkan memohonkan ampunan, rahmat, dan tempat terbaik bagi para leluhur. Puncak acara adalah Kembul Bujana. Setiap keluarga membawa wadah yang berisis aneka hidangan makanan yang sudah dimasak. Makanan tersebut dikumpulkan, didoalan, dan dibagikan kepada warga, setelah di doakan dan di bagikan menikmati santapan bersama dalam satu hamparan tanpa memandang tingkat stastus sosail, jabatan, maupun kekayaan

Menjaga Keberlanjutan Tradisi Nyadran Di Era Digital

Tantangan tersebar dalam menjaga kelestarian tadisi lokal di zaman modern saat inii adalah adanya kekhawatiran lunturnya kebiasaan tersebut di tangan generasi muda. Namun, tadisi Nyadran bukti memiliki pengaruh dalam masyarakat yang menjalankan, anak-anak muda dan generasi milenial saat ini tidak lagi memandang Nyadran sebagai ritual kuno yang membosankan. Sebaliknya, mereka memanfaatkan media sosial Instagram, Tiktok, dan Youtube. untuk mendokumentasikan dan menyebarkan kehangatan dari tradisi nyadran ini. Selain itu, kemajuan teknologi komunitas turuut menjembataani konektivitas dengan warga perantauan yang berada jauh diluar sana. Pada akhirnya, lenerhasilan merawat tradisi Nyadran dari tahun menegaskan bahwa modernitas dan kearifan lokal tidak harus saling mebenturkan, melainkan dapat saling melengkai demi menjaga keutuhan idenitas bangsa yang berbudi luhur.

Sumber : Sulthan Noor Mahasiswa KKN UIN Walisongo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *