Ahmad Luthfi dengan BOPPJ
Pertemuan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dengan Wakil Kepala BOPPJ Fadil Imran di Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Kamis (8/10).(Dok. Humas Pemprov)

Sebelum Giant Sea Wall, Pantura Jateng Dipagari Mangrove di Sayung

SEMARANG[BahteraJateng] — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) menyiapkan penanaman mangrove di Sayung, Kabupaten Demak, sebagai benteng alami untuk melindungi kawasan Pantai Utara (Pantura) Jateng sebelum pembangunan Giant Sea Wall.

Penanaman mangrove tersebut akan menjadi proyek percontohan atau demonstration plot (demplot) perlindungan pesisir berbasis Nature-based Solution. Program ini diarahkan untuk menghadapi ancaman abrasi, rob, kerusakan ekosistem pesisir, hingga dampak perubahan iklim.

Rencana itu dibahas dalam pertemuan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dengan Wakil Kepala BOPPJ Fadil Imran di Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Kamis (8/10).

Fadil mengatakan, perlindungan ekologis menjadi salah satu fokus BOPPJ dalam pengelolaan kawasan Pantura. Sayung dipilih sebagai salah satu lokasi untuk membangun model perlindungan pesisir yang memadukan pemulihan ekosistem dengan pemberdayaan masyarakat.

“Presiden sudah memerintahkan BOPPJ untuk mengoptimalkan perlindungan ekologis dan pengembangan ekonomi masyarakat di Pantura. Salah satu wilayah yang menjadi titik untuk dikelola adalah di Teluk Semarang, Demak, dan Kendal,” kata Fadil.

Menurut dia, penanaman mangrove tidak sekadar menjadi kegiatan penghijauan. Masyarakat pesisir akan dilibatkan sejak awal agar turut menjadi bagian dari pengelolaan dan pemeliharaan ekosistem.

“Pasti (libatkan masyarakat). Jadi mitra kebersamaan pemberdayaan masyarakat memang itu tujuan utama dari BOPPJ. Giant Sea Wall dalam konsep besarnya adalah pemberdayaan dan keterlibatan masyarakat,” ujarnya.

Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, langkah tersebut sejalan dengan program Mageri Segoro yang selama ini dijalankan di berbagai wilayah pesisir Jawa Tengah.Ahmad Luthfi

Menurutnya, perlindungan Pantura tidak dapat hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik. Penguatan ekosistem melalui mangrove, cemara, kelapa, dan vegetasi pesisir lainnya perlu dilakukan secara bersamaan.

“Sehingga upaya pencegahan sejak dini ini diberikan sebelum pelaksanaan (Giant Sea Wall) dilaksanakan,” kata Luthfi.

Jawa Tengah memiliki garis pantai sepanjang 1.127,85 kilometer. Sekitar 651,47 kilometer di antaranya berada di kawasan Pantura.

Kawasan Pantura menghadapi sejumlah ancaman, mulai dari abrasi, erosi, banjir rob, kerusakan ekosistem, sedimentasi, hingga perubahan dinamika muara. Selain itu, penurunan muka tanah di kawasan tersebut mencapai sekitar 8–11 sentimeter per tahun.

Dalam jangka panjang, perlindungan Pantura Jawa diarahkan melalui pembangunan Giant Sea Wall yang menjadi bagian dari proyek strategis nasional. Di Jawa Tengah, infrastruktur tersebut direncanakan membentang sekitar 274,7 kilometer dari Brebes hingga Rembang.

Sebelum tanggul laut raksasa tersebut terbangun, Luthfi mendorong penguatan benteng alami pesisir melalui penanaman mangrove dan vegetasi pantai lainnya.

Ia berharap masyarakat semakin terbiasa menjaga ekosistem pesisir sekaligus memanfaatkan potensi ekonomi yang ada di kawasan tersebut.

“Harapannya masyarakat sudah terbiasa dengan kehidupan alam dengan penanaman mangrove kemudian cemara, kemudian kelapa nyiur dan sebagainya,” ujarnya.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *