Kemarau Ekstrem, 2.316 Warga Kudus Terdampak Kekeringan, Kodim 0722/Kudus Gelar Salat Istisqa
KUDUS[BahteraJateng] – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus mencatat sebanyak 811 kepala keluarga (KK) atau 2.316 jiwa terdampak kekeringan di sejumlah wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko, mengatakan kekeringan saat ini telah berdampak terhadap empat desa, yakni Desa Glagahwaru di Kecamatan Undaan, Desa Setrokalangan dan Kedungdowo di Kecamatan Kaliwungu, serta Desa Colo di Kecamatan Dawe.
Selain empat desa tersebut, Desa Larikrejo di Kecamatan Undaan juga telah melaporkan mengalami kekeringan. Namun, BPBD masih melakukan asesmen sebelum menentukan kebutuhan dan pendistribusian bantuan air bersih.
Hingga 28 Agustus 2026, BPBD Kudus telah mendistribusikan 137 tangki atau sekitar 729.500 liter air bersih ke wilayah terdampak. Distribusi tersebut dilakukan sejak 15 Juli 2026. Totalnya sudah ada 137 (tangki air yang didistribusikan).
“Total distribusi itu dilakukan mulai 15 Juli hingga 28 Agustus 2026,” kata Eko pada Sabtu (29/8).
Desa Glagahwaru menjadi wilayah dengan distribusi air bersih terbesar, yakni mencapai 603.000 liter. Sementara Desa Colo mendapat 18.000 liter dan Setrokalangan sebanyak 88.500 liter.
Kebutuhan distribusi air bersih saat ini berada di kisaran 10 tangki per hari di masing-masing wilayah terdampak. Jumlah tersebut sebenarnya menurun dibandingkan sebelumnya yang sempat mencapai sekitar 15 tangki per hari, khususnya di Desa Glagahwaru.
Di Desa Colo, persoalan air bersih salah satunya dipicu gangguan pada saluran air dari sumber pegunungan menuju permukiman warga. Gangguan tersebut membuat sebagian warga kehilangan akses terhadap sumber air yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Eko mengatakan BPBD tetap mewaspadai peningkatan kebutuhan air bersih karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung cukup panjang.
“Musim kemarau ini panjang dan begitu ekstrem, super ekstrem,” ujarnya.
Menurut perkiraan BPBD, kondisi kemarau masih akan berlangsung hingga sekitar Oktober. Sementara berdasarkan perkiraan BMKG, musim kering berpotensi berlanjut hingga November.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat bersama jajaran Kodim 0722/Kudus memilih melakukan ikhtiar spiritual dengan menggelar Salat Istisqa di halaman Makodim 0722/Kudus, Senin (31/8) pagi. Ratusan jamaah memadati lokasi sejak pukul 08.30 WIB untuk berdoa bersama memohon turunnya hujan di tengah kemarau yang disebut berlangsung ekstrem.
Imam sekaligus khatib, KH Syafii, mengingatkan jamaah untuk bersikap rendah hati dan memperbanyak istighfar dalam menghadapi ujian alam.
“Kita berkumpul di sini untuk melaksanakan Salat Istisqa dan berdoa memohon hujan, hujan yang membawa manfaat serta keberkahan bagi kita semua. Semoga Allah SWT mengabulkan doa kita,” ujar KH Syafii.
Dandim 0722/Kudus Letkol Arh Yuusufa Allan Andriasie, mengatakan Salat Istisqa merupakan bentuk ikhtiar batiniah yang melengkapi berbagai langkah teknis yang telah dilakukan untuk menghadapi dampak kemarau.
Menurutnya, doa bersama tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengatasi kelangkaan air bersih, tetapi juga memohon perlindungan dari potensi bencana lain selama musim kemarau, termasuk kebakaran hutan dan lahan.
“Kami memohon kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan yang berkah guna mengatasi kemarau panjang, krisis air bersih, serta ancaman kebakaran hutan dan lahan,” kata Yuusufa.(day)


