Presiden Prabowo
Presiden Prabowo Subianto menghadiri pertemuan dengan para pengusaha Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pusat dan daerah dari seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7).(Dok. BPMI Setpres)
|

Media Asing Sorot Potensi Benturan Prabowo dengan Sembilan Naga, Berikut Analisanya 

HONGKONG[BahteraJateng] – South China Morning Post (SCMP), media berbahasa Inggris tertua dan terkemuka di Hong Kong mengeluarkan laporan menarik mengenai kondisi ekonomi terkini di Indonesia. Dalam laporan berjudul Are Indonesia’s Prabowo and ultra rich 9 Dragons on a collision course?” yang dipublikasikan pada Rabu (5/8), memuat upaya Presiden Indonesia Prabowo Subianto untuk menata kembali perekonomian terbesar di Asia Tenggara di sekitar negara yang lebih kuat dan intervensif telah membuatnya semakin berselisih, menurut para analis, dengan kelompok yang disebut Sembilan Naga.

Sebutan Sembilan Naga merupakan istilah singkat untuk beberapa keluarga taipan terkaya di Indonesia dengan berbagai kepentingan di bidang perbankan, tembakau, properti, kelapa sawit, pertambangan, dan barang konsumsi.


Istilah ini tidak pernah merujuk pada kelompok yang secara resmi dikonfirmasi, tetapi banyak digunakan dalam diskusi publik mengenai konglomerat-konglomerat kuat yang terkait dengan kerajaan bisnis seperti Djarum, Salim Group, Lippo Group, Golden Agri-Resources, Barito Pacific, dan Agung Sedayu.

Prabowo belum secara eksplisit menyebut Sembilan Naga sebagai target, tetapi para analis mengatakan bahwa peringatannya tentang kekayaan yang bocor ke luar negeri, upayanya untuk memusatkan ekspor utama, dan usahanya untuk mengumpulkan uang para taipan untuk proyek-proyek negara semuanya menunjukkan upaya yang lebih luas untuk membawa elit bisnis lama Indonesia di bawah kendali negara yang lebih kuat.


“Prabowo mungkin tidak menyebut nama, tetapi tidak salah lagi dia sedang mengkritik para naga,” kata Made Supriatma, seorang peneliti tamu di Program Studi Indonesia di ISEAS Yusof Ishak Institute, yang penelitiannya berfokus pada birokrasi negara Indonesia.

Namun, keterbatasan pengaruh Prabowo berlaku dua arah: para taipan tetap tertanam kuat dalam perekonomian Indonesia, sementara presiden masih membutuhkan modal swasta untuk membantu mendanai program-program unggulannya.

“Mereka [para taipan] berada di antara dua pilihan sulit: tunduk kepada presiden atau memindahkan bisnis mereka ke tempat lain,””kata Made.

Namun Vedi Hadiz, seorang sosiolog politik di Universitas Melbourne dan penulis buku Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets, mengatakan bahwa opsi kedua itu tidak mungkin terjadi. “

“Pada intinya, sebagian besar pendapatan mereka berasal dari operasi mereka di dalam perekonomian Indonesia,” ujarnya.”

Dorongan Prabowo juga menyoroti munculnya loyalis baru seperti taipan batubara Haji Isam, yang kenaikannya dilihat oleh para analis sebagai bagian dari upaya Prabowo untuk membina tokoh-tokoh bisnis yang lebih bersemangat untuk menyelaraskan diri dengan agenda yang dipimpin negara. “

“Tujuan akhir Prabowo adalah untuk membangun ekonomi politik yang lebih bersifat komando dan terpusat, di mana dia berada di puncak kekuasaan,” kata Vedi.

Para analis mengatakan, ekonomi politik yang lebih terpusat memberikan pemerintah pengaruh yang lebih besar atas kelompok-kelompok bisnis seperti Sembilan Naga. Namun, mereka berbeda pendapat mengenai apakah Prabowo bertujuan untuk mematahkan pengaruh mereka atau sekadar mengubah syarat-syarat hubungan mereka dengan negara.

Sumber: SCMP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *